Sabar & Bersyukur

..diambil dari kultwit ustadz Salim A. Fillah mengenai Sabar….

sabar

  • Hidup adalah perjalanan yang digariskan memiliki 2 rasa: manis & getir, lapang & sesak, suka & duka, #nikmat & #musibah. #SABAR #SYUKUR
  • Tak seorangpun bisa lepas dari 2 rasa itu, hattapun mereka yang dicintaNya. Makin besar nikmat, pun besar pula #musibah. #SABAR #SYUKUR
  • Imanpun tak menjamin kita selalu berlimpah & tertawa. Ia hanya jaminkan ada lembut elusanNya dalam apapun dera nan menimpa #SABAR #SYUKUR
  • Maka #SABAR & #SYUKUR adalah wahana yang akan membawa hamba, menselancari kehidupan nan berrasa dua dengan iman dalam dada.
  • Tersebab #SABAR & #SYUKUR itulah, Nabi ungkap betapa menakjubkan hidup & ihwal orang beriman. Semua urusan menjadi kebaikan baginya.
  • Sebab dalam #musibah dia bersabar, & #SABAR itu membuatnya meraih pahala tanpa hingga, dicintaiNya, dan dibersamai Allah di segala luka.
  • Sebab dalam #nikmat dia bersyukur, dan #SYUKUR itu membuat sang nikmat melekat, kian berganda berlipat, menenggelamkannya dalam rahmat.
  • Tapi hakikat #SABAR & #SYUKUR sebenarnya satu saja; ungkapan iman menyambut dengan penuh ridha akan segala kurniaNya, apa jua bentuknya.
  • Maka #SABAR adalah sebentuk #SYUKUR, menyambut kurnia #nikmat-Nya nan berbentuk lara, duka, nestapa, dan #musibah yang niscaya
  • Maka #SYUKUR adalah sebentuk #SABAR, menyambut kurnia #musibah-Nya yang berbentuk kesenangan, kelapangan, suka-ria nan nikmat
  • Lihatlah Ayyub ber-#SYUKUR atas segala sakit & nestapanya, sebab Allah mengugurkan dosa & menyisakan hati jua lisan untuk mendzikirNya.
  • Lihatlah Sulaiman ber-#SABAR atas kemaharajaan jin, hewan, & manusia. Sabar dengan ber-#SYUKUR agar tak tergelincir sebagaimana Fir’aun.
  • Kata ‘Ulama, #SABAR ada di 3 hal; mentaati Allah, menjauhi kemaksiatan, menerima #musibah. Semuanya adalah jua rasa #SYUKUR kepadaNya.
  • #SABAR dalam taat, sebab ia kadang terasa berat, ibadah terasa beban, keshalihan terasa menyesakkan. Tapi #SYUKUR lah, Allah itu dekat.
  • #SABAR dalam jauhi maksiat, sebab ia kadang terlihat asyik, kedurhakaan tampak cantik. Tapi #SYUKUR lah, iman itu rasa malu padaNya.
  • #SABAR dalam menghadapi musibah, sebab ia niscaya bagi iman di dada. #SYUKUR lah, dosa gugur & beserta kesulitan selalu ada kemudahan.
  • Sebab pahalanya diutuhkan tak terhingga (Az Zumar 10), maka #SABAR pun sebenarnya tiada batasnya. Hanya bentuknya yang bisa disesuaikan.
  • Maka iman menuntun taqwa; ialah kecerdikan hati dalam memilih bentuk #SABAR sekaligus #SYUKUR atas segala wujud ujian cinta dariNya.
  • Taqwa itu yang bawa #SABAR kita mendapat kejutan nan mengundang #SYUKUR, jalan keluar dari masalah & rizqi tak terduga (Ath Thalaq 2-3)
  • Tiap #nikmat yang di #SYUKUR-i jua berpeluang mengundang #musibah yang harus di #SABAR-i, seperti ketampanan Yusuf & cinta Ortu padanya.
  • Maka tak ada kata henti untuk #SABAR & #SYUKUR, sebab ia 2 tali yang hubungkan kita denganNya; hingga hidup terasa surga sebelum surga;)
  • Segala puji bagi Allah, sungguh kita milikNya, akan kembali jua padaNya. Sekian dulu ya Tweeps Shalih(in+at) tentang #SABAR & #SYUKUR.
Advertisements

:: Sabar dan Shalat Sebagai Penolong ::

Image

 “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Ibnu Katsir menjelaskan satu prinsip dan kaidah dalam memahami Al-Qur’an berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat Al-Qur’an, langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya mereka yang mau dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari Kitabullah. Maka peristiwa yang diceritakan Allah Taala tentang Bani Israel, terkandung di dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Begitulah kaidah dalam setiap ayat Al-Qur’an sehingga kita bisa mengambil bagian dari setiap ayat Allah swt. “Al-Ibratu Bi’umumil Lafzhi La Bikhusus sabab” (Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami Al-Qur’an adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya”.

Perintah dalam ayat di atas sekaligus merupakan solusi agar umat secara kolektif bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Kedua hal ini merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah saw selaku uswah hasanah, telah memberi contoh yang konkrit dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Rasulullah saw apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan shalat“.

Huzaifah bin Yaman menuturkan, “Pada malam berlangsungnya perang Ahzab, saya menemui Rasulullah saw, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Bila beliau menghadapi persoalan, maka beliau akan mengerjakan shalat“. Bahkan Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan Rasulullah saw pada perang Badar, “Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami tertidur kecuali Rasulullah, beliau shalat dan berdo’a sampai pagi“.

Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan sahabat Rasulullah saw terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan shalat dua raka’at dengan melamakan duduk. Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“.

Secara khusus untuk orang-orang yang beriman, perintah menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153). Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.
Masih dalam konteks orang yang beriman, sikap sabar yang harus selalu diwujudkan adalah dalam rangka menjalankan perintah-perintah Allah Taala, karena beban berat yang ditanggungnya akan terasa ringan jika diiringi dengan sabar dan shalat. Ibnul Qayyim mengkategorikan sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah Taala termasuk sabar yang paling tinggi nilainya dibandingkan dengan sabar dalam menghadapi musibah dan persoalan hidup.

Syekh Sa’id Hawa menjelaskan dalam tafsirnya, Asas fit Tafasir kenapa sabar dan shalat sangat tepat untuk dijadikan sarana meminta pertolongan kepada Allah Taala. Beliau mengungkapkan bahwa sabar dapat mendatangkan berbagai kebaikan, sedangkan shalat dapat mencegah dari berbagai perilaku keji dan munkar, disamping juga shalat dapat memberi ketenangan dan kedamaian hati. Keduanya (sabar dan shalat) digandengkan dalam kedua ayat tersebut dan tidak dipisahkan, karena sabar tidak sempurna tanpa shalat, demikian juga shalat tidak sempurna tanpa diiringi dengan kesabaran. Mengerjakan shalat dengan sempurna menuntut kesabaran dan kesabaran dapat terlihat dalam shalat seseorang.

Lebih rinci, syekh Sa’id Hawa menjelaskan sarana lain yang terkait dengan sabar dan shalat yang bisa dijadikan penolong. Puasa termasuk ke dalam perintah meminta tolong dengan kesabaran karena puasa adalah separuh dari kesabaran. Sedangkan membaca Al-Fatihah dan doa termasuk ke dalam perintah untuk meminta tolong dengan shalat karena Al-Fatihah itu merupakan bagian dari shalat, begitu juga dengan do’a.
Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“. Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan dan petunjuk-Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga shalat yang berkualitas. Disinilah shalat merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada Allah.

Esensi sabar menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dapat dilihat dari dua hal: Pertama, sabar karena Allah atas apa yang disenangi-Nya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga. Kedua, sabar karena Allah atas apa yang dibenci-Nya, walaupun hal itu bertentangan keinginan hawa nafsu. Siapa yang bersikap seperti ini, maka ia termasuk orang yang sabar yang Insya Allah akan mendapat tempat terhormat.

Betapa kita sangat membutuhkan limpahan pertolongan Allah dalam setiap aktivitas dan persoalan kehidupan kita. Adalah sangat tepat jika secara bersama-sama kita bisa mengamalkan petunjuk Allah dalam ayat di atas agar permohonan kita untuk mendapatkan pertolongan-Nya segera terealisir. Aamiiin

sumber http://m.dakwatuna.com/2006/12/21/13/menjadikan-sabar-dan-shalat-sebagai-penolong/

…bagaimana SABAR itu..??

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Sering kita mendengar kalimat ataupun nasehat-nasehat agar kita bersabar, tapi apakah sebenarnya sabar itu..?? Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya masih diberi kesempatan untuk memposting tentang makna sabar dalam arti sebenarnya, semoga postingan kali ini bisa menjadi nasehat bagi semua pembaca dan khususnya buat saya sendiri…
pict taken here
Sabar adalah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim, tanpa sifat sabar seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai godaan setan dan bisikan hawa nafsu serta tidak akan mampu menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, sabar juga merupakan cahaya yang menerangi jalannya umat muslim dari kebimbangan terhadap berbagai kendala.

Jadi inti makna sabar dalam Islam adalah teguhnya seseorang di jalur haq dengan tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi apapun, akalnya tidak larut pada ajakan hawa nafsunya, jiwanya menolak untuk putus asa, lidahnya tidak mengeluh hanya kepada Allah, sedangkan anggauta badannya ditahan untuk melakukan setiap pekerjaan yang dibenci Allah, hatinya tidak merasa gelisah tetapi selalu berada dalam keimanan, sedangkan lawan sabar adalah gelisah, tergesa-gesa, sempit dada, takut, putus asa, lemah dan mudah menyerah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran: 146)

Jadi Sabar adalah suatu kekuatan yang menolong manusia untuk tetap teguh, yang kadarnya tergantung kadar keimanannya. dan keimanan yang goyah ketika menghadapi bencana, ujian dan berbagai problema adalah keimanan yang palsu, sedangkan iman yang benar tidak mengenal situasi, tetap teguh dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj: 11)

Ada yang membagi makna Sabar ada 3 Jenis:
Sabar Melakukan Ketaatan
Banyak diantara kita yang bisa menerima dan terpengaruh jiwanya dengan nasehat-nasehat agama, sehingga seseorang menyadari kesalahannya dan ingin kembali komitmen kepada jalan kebenaran yaitu jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi apabila dalam dirinya tidak dihiasi dengan sikap sabar maka tidak akan bisa menjalankan komitmen tersebut dengan istiqomah, karena sudah menjadi kodrad manusia selalu tidak menyenangi pada hal-hal yang memberatkan, maka tanpa kesabaran seseorang tidak akan melakukan apa-apa kecuali mengikuti hawa nafsunya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya. (Al Ankabut: 58-59)



Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa berusaha sabar maka Allah akan menjadikannya sabar” (HR Bukhari)

Sabar Menghadapi Kemaksiatan
Maksiat adalah sesuatu yang bisa menjauhkan seseorang dengan Rabbnya, bagi orang mukmin selalu ingin berada dekat dengan Allah, tidak ingin menjauh dari-Nya, merasa malu dan takut apabila melakukan kemaksiatan, karena selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah, dalam kemaksiatan kita juga perlu kesabaran dalam menghadapi, karena manusia selalu cenderung sabar dengan sesuatu yang menyenangkan dan tidak sabar dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka rasa Mahabatullah dan takut kepada-Nya lah yang bisa menjadi penolong kita dalam bersabar dalam menghadapi kemaksiatan

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)



“Jika kamu gembira karena kebaikan dan sedih sedih karena kemaksiatan, maka berarti engkau beriman (HR. Ahmad)

Sabar dalam menghadapi cobaan dan Rintangan
Seseorang yang beriman selalu tabah dan tegar menghadapi segala macam cobaan dan  rintangan karena menyadari bahwa setiap cobaan itu mengandung hikmah dibaliknya, selalu khusnudzon kepada Allah, meyakini bahwa setiap cobaan akan ada kebalikan dibaliknya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)


Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang yang baik, maka Allah akan memberikan cobaan” (HR. Bukhary)

Sabar juga mengandung beberapa aspek penting yaitu:

Sabar dalam hal Phisik yaitu tabah menghadapi beban
Sabar dalam hal Nafsu yaitu menahan diri dalam hal-hal yang hina
Sabar dalam hal Peperangan yaitu berani dan pantang menyerah
Sabar dalam hal Amarah yaitu murah hati dan bijaksana
Sabar dalam hal Menghadapi masalah yaitu selalu lapang dada
Sabar dalam hal Menyimpan sesuatu yaitu menjaga rahasia
Sabar dalam hal Kehidupan yaitu menahan diri dalam keduniaan
Sabar dalam hal Rizki yaitu selalu merasa puas / qona’ah
Sabar dalam hal Ibadah yaitu berkelanjutan, konsisten atau istiqomah
Dan masih banyak lagi jenis sabar yang lainnya

Alhamdullah..
Semoga kita tergolong menjadi hamba Allah yang selalu sabar menghadapi segala macam aspek kehidupan sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di sifati dengan Ash-Shabur atau Maha Sabar, serta menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong…. Amin

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

.:: cukuplah ALLAH yang menyelesaikan urusan kita ::.

Bismillah…..

 

“Bismillahi tawakaltu ‘alallah… la haula wa la quwwata illa billah”

Ujian sering kali datang tanpa diduga, semua adalah murni kehendak dari Allah Sang Pemilik diri dan kehidupan ini. Ada kalanya hati dan diri ini siap menerima, tapi ada kalanya diri ini sampai terjatuh saat menerimanya. Apapun kondisinya, kita tidak akan mampu menolak dan menimpakan musibah itu kepada orang lain. Semua yang diberikan-Nya untuk kita adalah telah sesuai dengan takaran yang dimiliki-Nya. Seperti apapun sebenarnya kita mampu untuk menerima dan mengatasinya dengan bantuan Allah, itu yang pasti!

Tidakkah kita yang beriman saat tertimpa musibah mengucapkan innalilahi wa inna ilaihi raaji’uun, semua berasal dari-Nya dan semua akan kembali pada-Nya. Maka selayaknya kita berusaha mengembalikan hati, diri dan jiwa ini untuk mendekat kepada-Nya. Allah akan mudahkan urusan kita, selesaikan masalah kita, dan memberikan pahala serta surga yang indah bagi hamba-Nya yang sabar dan ikhlas menerima apapun bentuk karunia dari Allah.

Saat diri ini diberikan kebahagiaan, kecukupan, kelonggaran dan kenikmatan lainnya. Jangan dikira itu bukan cobaan, sebenarnya itu adalah cobaan yang besar buat kita. Karena saat posisi kita di atas, dengan segala kenikmatannya boleh jadikan kita dekat atau bahkan jauh dari Allah. Dan semakin banyak peluang kita untuk jauh dari Allah dengan alasan kesibukan dan banyak sekali alasan yang bisa dibuat. Seperti keingkaran seorang Qorun terhadap Allah.

Saat diri ini diberikan kesulitan, kesedihan, musibah, kehilangan dan cabaran yang sangat tidak menyenangkan bagi kita. Jangan pernah mengira bahwa kita adalah orang yang paling sengsara di dunia, atau orang yang telah di benci oleh Allah. Kala kita menyikapi ujian ini dengan semakin dekat dengan-Nya, semakin tunduk pada-Nya maka boleh jadi itu adalah surat Cinta Allah yang dikirimkan-Nya kepada kita.

Saudaraku, apapun yang kita alami selayaknya, kita dekat dan tetap dekat kepada Allah dengan berbagai warnanya. Meski kadang berat, susah dan perlu perjuangan. Tapi jalan itulah yang di cintai-Nya, jalan menuju kepada Allah dengan sebaik-baik kesabaran dalam keadaan senang maupun susah atau sedih. Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak ingkar nikmat saat kebahagiaan melanda, kesabaran dalam menjalin hubungan dengan-Nya saat sedih dan dalam berduka. Mendekatlah maka Allah akan menuntun hati dan diri kita untuk menyelesaikan masalah kita, melimpahkan kesabaran kita dan Allah ganti dengan surga kala kita ikhlas melakukan semua untuk Allah.

Saat kebahagiaan ada, janganlah kita lupakan bahwa ada saudara kita yang dilanda kesusahan dan penderitaan maka berbuatlah dengan harta dan jiwa untuk membantu mereka yang kesulitan. Saat kesulitan melanda, jangalah berburuk sangka kepada Allah. Karena semua yang terjadi pada kita adalah telah sesuai dengan kemampuan kita. Dan apapun keadaan kita mari bersama-sama kita introspeksi diri.

Boleh jadi kebahagiaan kita saat ini adalah dari doa saudara, orang tua dan kerabat kita, maka bahagiakan saudara kita yang masih ‘belum bahagia’. Dan saat kesusahan melanda boleh jadi ada kesalah kita yang telah lalu dan kita belum perbaikinya. Maka berusaha perbaiki hubungan kita dengan Allah dan juga dengan sesama. Karena keadaan sekitar kita adalah cerminan dari hubungan kita dengan Allah. Saat kita baik hubungan kita dengan Allah maka Allah juga akan memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama.

Kala kita telah berusaha sekuat tenaga, dan doa yang tak pernah putus kepada Allah maka tawakal kepada Allah adalah kewajiban kita, maka Allah akan tunjukkan jalan dan memberikan kita kemampuan untuk menyelesaikannya. Jangan pernah lupa untuk meniatkan semua karena Allah, agar hati dan diri kita selalu terjaga dalam dekapan-Nya. Tiada kekuatan kita untuk menyelesaikannya, hanya Allah saja yang mampu menyelesaikan setiap masalah kita.

Ada kisah seorang sahabiyah yang terkena penyakit epilepsi, dan dia menolak untuk di doakan sembuh oleh Rasulullah saw. saat tahu imbalan dari setiap kesabaran, ketabahan dan keikhlasan kita adalah surga. Dan dia hanya minta didoakan agar saat penyakit itu kambuh, saat dia tidak sadarkan diri. Allah menjagakan kehormatannya serta menutup auratnya. Subhanallah…

Saudaraku…

Semoga Allah kuatkan kita dalam keimanan, ketaqwaan dan keikhlasan dalam mendekati-Nya. Allah sangat mencintai kita lebih dari cinta yang kita miliki saudaraku. Karena nikmat-Nya untuk kita tidak pernah berhenti kita rasakan dan tidak bisa dihitung satu persatu. Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya, surga telah menanti kita dengan sangat indahnya. Dan semoga Allah menjaga kesadaran kita untuk tetap ingat kepada-Nya kala sedih dan senang.

“maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan?”Q.S. Ar Rahman: 13

“….barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia berikan rezeki dari tempat yang tidak di sangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan cukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” Q. S. Ath Talaq: 2-3

“barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” Q. S. Ath Talaq: 5

Mengambil pelajaran dari setiap kejadian untuk memperbaiki diri yang rapuh ini.