Husnu-ZHAN : BerKEYAKINAN, BUKAN Bersangka baik

oleh : Moh. Sofwan Abbas

Kesalahan dalam mengartikan sebuah istilah dalam Al-Qur’an, bisa membuat kesalahan persepsi, yang berujung pada kesalahan dalam mengamalkannya. Oleh karena itu, hendaknya kita memahami istilah tersebut sesuai dengan ketentuan yang benar.

Fenomena sangat sulitnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat ini, hendaknya membuat kita bertanya, apakah hal tersebut disebabkan kesalahan kita dalam memahami istilah “husnu-zhan”? Karena, walaupun Allah swt. telah memerintahkan husnu-zhan, banyak umat Islam yang menyepelekan.

Makna Husnu-Zhan dan Su’u-Zhan

Dalam bahasa Arab, “zhan” bermakna hal yang diketahui dari tanda-tanda. Seperti orang yang mengatakan, “Akan turun hujan,” setelah dia melihat langit mendung. Tidak ada kepastian akan turun hujan. Perkataan itu hanyalah kesimpulan yang diambil dari tanda-tanda.

Sedangkan dalam Al-Qur’an, kata “zhan” mempunyai makna lebih dari satu. Pertama, menuduh, seperti menuduh orang lain berbuat jahat tanpa bukti (Al-Hujurat: 12). Kedua, taklid buta, seperti orang-orang musyrikin yang menolak ajaran Rasulullah saw. yang mempunyai banyak bukti kebenaran, dan sebaliknya mengikuti ajaran syirik yang hanya berdasarkan mitos (Yunus; 66). Ketiga, yakin, seperti orang yang meyakini kematian pasti akan melaksanakan shalat dengan khusyuk (Al-Baqarah: 46).

Dapat disimpulkan, bahwa kata “zhan” bisa bermakna ragu dan yakin. Bagaimana menentukan salah satu makna tersebut? Ulama tafsir menyebutkan kaidah; dalam konteks keburukan, “zhan” bermakna ragu dan sangkaan. Sedangkan dalam konteks kebaikan, “zhan” bermakna yakin. Banyak ayat Al-Qur’an yang menguatkan kaidah ini.

Maka, karena konteksnya adalah buruk, su’u-zhan bermakna bersangka buruk. Lalu karena konteksnya kebaikan, husnu-zhan bermakna berkeyakinan baik, bukan bersangka baik.

Kenapa Harus Berkeyakinan Baik?

Kepada sesama muslim, kita harus selalu berkeyakinan baik. Karena selama masih beriman, imannya akan memerintahkan taat kepada Allah swt., dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Itu pasti dan yakin. Lalu hendaknya kita tidak memvonisnya berbuat buruk selagi belum ada pengakuan atau bukti-bukti yang nyata.

Inilah husnu-zhan; mengedepankan keyakinan baik, bukan mengedepankan sangkaan baik. Karena kalau mengedepankan keyakinan baik, berarti kita belum memvonis orang berbuat buruk, lantaran kita masih yakin orang tersebut baik. Kita baru akan memvonisnya berbuat buruk jika ada pengakuan atau bukti nyata.

Tapi kalau kita mengedepankan sangkaan baik, maka yang terjadi adalah sebaliknya; kita sudah memvonisnya berbuat buruk. Kita baru akan mengatakan dia tidak berbuat buruk kalau ada hal yang membuktikannya.

Husnu-zhan Allah swt. perintahkan dalam ayat: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berkeyakinan baik kepada sesama mereka? Dan (mengapa mereka tidak) berkata: “Ini adalah berita yang dijungkir-balikkan?” [An-Nur: 12].

Ayat ini turun setelah terjadi penyebaran isu bahwa Ibunda ‘Aisyah ra. berbuat mesum dengan Sofwan bin Al-Mu’athal ra. Banyak umat Islam yang terpengaruh dengan isu tersebut. Allah swt. memberi petunjuk agar umat Islam berhusnu-zhan, meyakini kesucian Ibunda ‘Aisyah ra. selagi belum ada pengakuan dan bukti nyata. Itulah maksud yang benar.

Allah swt. memerintahkan kita berhusnu-zhan disebabkan keterbatasan kita sebagai manusia. Kita tidak bisa mengetahui saudara kita secara utuh. Yang bisa kita nilai juga sekadar perbuatan lahir, sedangkan niat sama sekali tidak kita ketahui. Ketika melihatnya berbicara dengan seorang perempuan misalnya, kita tidak mengetahui bahwa ternyata perempuan itu adalah adiknya, atau ibunya, atau isterinya. Kita juga tidak mengetahui alasan dan niat yang membuatnya berbicara dengan perempuan tersebut.

Bagaimana Bisa Berhusnu-Zhan?

Allah swt. lah yang memiliki hati kita, hendaknya kita memohon kepada-Nya untuk membersihkan hati dari sangkaan buruk, dan menumbuhkan keinginan untuk berhusnu-zhan.

Selalu berusaha untuk mencarikan alasan kenapa saudara kita berbuat hal yang kita nilai buruk, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekali pun. Seorang ulama berkata, “Jika aku melihat saudaraku sedang memegang segelas khamar, dan ada air menetes dari bibirnya, aku tetap berhusnu-zhan; jangan-jangan dia cuma berkumur-kumur, atau itu bukan khamar tapi air biasa.”

Selanjutnya setiap muslim hendaknya bekerja sama menghilangkan kesempatan untuk munculnya su’u-zhan. Yaitu dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang rentan menjadi objek su’u-zhan. Rasulullah saw. pernah berjalan bersama Ibunda Shafiyah ra. Dua orang sahabat melihat hal itu, lalu menghindar ke pinggir jalan. Rasulullah saw. lalu memanggil mereka, “Janganlah kalian bersu’u-zhan. Ini adalah Ibunda Shafiyah.” Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak mungkin kami bersu’u-zhan kepada engkau.” Rasulullah saw. kembali bersabda, “Tapi setan mengalir pada diri manusia seperti aliran darah. Aku khawatir ketika kalian lengah, dia akan menghembuskan godaan untuk bersu’u-zhan.” [msa/dakwatuna].

:: Pelajaran Berpikir Positif dari Surat Ad-Dhuha

Image

Surat Adh-Dhuha memberikan pengajaran dengan sangat mendalam tentang Berpikir Positif. Di lain pihak, Shalat Sunnah Dhuha banyak dianggap sebagai Shalat Sunnah mohon rezki. Lantas apa hubungan dari hal itu semua?

Arti dari Dhuha adalah saat matahari naik di pagi hari. Oleh karena itu waktu ideal melaksanakan shalat Dhuha adalah ketika matahari naik sepenggalan atau sekitar pukul 8, walaupun diperkenankan sejak matahari mulai terbit (sekitar pukul 6.00 s.d 6.30).

Surat ini dimulai dengan qasam (sumpah) dengan huruf wâw (و) dan dhuhâ (ضُحَى) sebagai muqsamu bih-nya (مُقْسَمٌ بِهِ, obyek yang digunakan untuk bersumpah). Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa sumpah al-Qur’an dengan wâw mengandung makna pengagungan terhadap muqsamu bih (مُقْسَمٌ بِهِ). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sumpah Allah dengan sebagian makhluk-Nya menunjukkan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar. Menurut Muhammad Abduh, sumpah dengan dhuhâ (cahaya matahari di waktu pagi) dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya dan besarnya kadar kenikmatan di dalamnya. Berarti pada saat matahari naik di pagi hari (Dhuha) dan pada saat sunyinya malam ada rahasia penting tentang nikmat Allah di dalamnya.

Mari kita renungkan satu persatu lanjutan ayat-ayatnya.

“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”

Para mufassir sepakat bahwa latar belakang turunnya surat ini adalah keterlambatan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW Keadaan ini dirasakan berat oleh Rasul, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhan nya dan dibenci-Nya.

Ayat ini memberikan taujih (arahan) kepada Rasulullah SAW agar tetap berpikir positif kepada Allah SWT, dan tidak menduga-duga hal negatif atau hal buruk seperti yang ada di pikiran orang-orang munafik dan musyrik.

“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk…” (QS. 48 ayat 6)

Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”

Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN BERPUTUS ASA!

Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa” (Hadits)

Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa kelimpahan dan kenikmatan akan Allah berikan kepada kita di Hari Akhirat. Maka orang yang bisa berpikir positif seperti itu, tetap tersenyum bahagia dalam menjalankan kehidupan sulitnya di dunia.

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas” (QS. Ad-Dhuha : 5)

Optimis dan yakin berjumpa Allah di hari Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira, sungguh akan memuaskan hati kita. Karunia Allah kepada penduduk dunia seperti air menetes dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Allah di hari Akhirat yang seluas lautan itu sendiri.

Bagaimana agar kita selalu berpikir positif? Ingatlah semua nikmat-nikmat Allah yang jika kita hitung tentu tidak akan sanggup.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?”

Ingat, renungkan rasakan betapa luas nikmat Allah kepada kita. Apa nikmat Allah yang paling Anda syukuri? Di antaranya adalah, Anda bisa melihat tulisan ini, yang melibatkan kerja milyaran sel, prajurit-prajurit Allah SWT. Bagaimana jika sel-sel itu tidak bekerja?

Yuk kita bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan. Nikmat sekecil apapun! Dengan lisan ucapkan “Alhamdulillah”, didukung dengan pikiran dan perasaan kita. Sampaikan rasa terima kasih tak berhingga seperti seorang pengemis yang berhari-hari kekurangan makan dan diberi makan oleh seorang kaya, seperti seorang pasien yang sudah berbulan-bulan menderita sakit dan disembuhkan dengan bantuan seorang dokter. Yang Allah berikan kepada kita lebih dari orang kaya dan dokter tersebut di atas, namun mengapa kita lupa mengucapkan terima kasih kepada-Nya? Pantas jika Allah belum menambah nikmat kepada kita, nikmat-nikmat yang lalu saja belum kita syukuri sebagaimana mestinya.

Kalaupun ada kesulitan dan kekurangan dalam hidup kita, tetap saja karunia dan kelimpahan dari Allah masih jauh lebih besar. Lihatlah ke bawah, orang-orang yang lebih susah dari kita, lebih sakit dari kita, lebih miskin dari kita. Jangan selalu melihat ke atas. Melihat ke bawah akan menghaluskan jiwa, melembutkan perasaan, menghidupkan syukur dan mengobati stress, ketidakpuasan dan putus asa.

Setelah bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan, syukur sejati adalah syukur dengan ‘amal.

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”

Seorang yang bersyukur akan memanfaatkan nikmat-nikmat yang diperolehnya untuk ibadah, amal shalih, dan perbuatan baik terhadap sesama. Itulah yang dimaksud dalam ayat pamungkas surat ini :

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/11/19/4800/pelajaran-berpikir-positif-dari-surat-adh-dhuha/#ixzz2fyzE277M