:: SUKSES menghadapi Ujian Hidup ::

f910f59dc0605aac53d39c7cbdddbf96_sabarAllah Mahabaik. Semua yang diciptakan-Nya, selalu diberikan pasangan. Jika ujian adalah salah satu makhluk-Nya, maka sudah barang tentu bahwa Dia telah menyertakan solusinya. Sebagaimana sebuah penyakit, pasti sudah disertakan obatnya oleh Sang Pencipta penyakit. Sehingga, sebagai manusia, kita hanya perlu belajar dan menemukan formula yang tepat untuk semua jenis ujian yang sudah pasti akan ditimpakan kepada kita, hingga ajal menjemput diri.

Pertama, sadari bahwa ujian adalah keniscayaan.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar . (al-Baqarah [2]: 155)

Dengan adanya pemahaman yang baik tentang keniscayaan ujian ini, maka kita bisa bersikap bijak jika suatu ketika ujian itu benar-benar datang menghampiri kehidupan kita yang sedianya damai dan menentramkan.

Kesadaran ini juga akan membuat diri lebih waspada. Semakin sadar untuk mempersiapkan solusi. Juga, rajin menuntut ilmu untuk menyikapi segala kemungkinan ujian yang akan Allah berikan.

Dua, gunakan keimanan sebagai solusi sejati. Rasul pernah berkata, “Sungguh ajaib keberadaan orang beriman. Jika diberi nikmat, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika diberi ujian, dia bersabar, dan itu baik pula baginya.”

Jika perkataan seorang Presiden saja –misalnya- sangat kita hormati dan dipegang teguh sebagai rujukan, maka perkataan seorang nabi jauh lebih layak untuk dirujuk, diingat-ingat dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Apalagi, Rasulullah tak pernah sekalipun berbohong. Bahkan, setelah ilmu sedemikian maju, semua perkataan beliau bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya.

Jika kita bersabar terhadap ujian yang diberikan, maka janji Allah sudah sangat pasti kejelasannya, “Mereka (orang-orang sabar) itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah [2]: 157)

Tiga, minta tolong kepada Allah. Ujian yang diberikan, sejatinya adalah sebuah sarana agar kita semakin mendekat pada-Nya. Karena memang, Dialah zat Yang seharusnya kita dekati di sepanjang usia kehidupan kita. Allah yang memberikan ujian, sudah melengkapinya dengan banyak tools pertolongan yang bisa kita gunakan setiap saat, sesering mungkin.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. (al-Baqarah [2]: 153)

Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari meminta tolong kepada Allah, dan menjadikan sabar dan shalat sebagai tools agar kita mendapat pertolongan dari-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.

ujian-dari-allah

 
Empat, Allah bersama anda. Sabar ketika mendapati ujian bukan bermakna pasif. Tapi aktif mencari solusi dengan berbekal ilmu yang tepat. Sering bertanya kepad ahlinya, membuka semua peluang solusi yang mungkin dan juga menyiapkan opsi-opsi lain jika langkah pertama gagal.

Jika kita berhasil mengeja sabar, maka itulah jalan terbaik yang memang harus kita lalui. Selain itu, sabar membuat pelakunya menjadi salah satu hamba kesayangan Allah. Apakah ada yang lebih baik bagi seorang hamba selain disayangi Sang Pencipta?
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah [2]: 153)

Allah mencintai siapa saja yang sabar. Sehingga, Dia menyertai golongan-golongan itu.

Lima, ilmui setiap laku. Langkah teknis tak boleh ditinggalkan. Karena durian runtuh, sangat jarang adanya. Hujan duit juga menjadi sesuatu yang mustahil jika diri hanya berongkang-kaki di dalam rumah, tanpa melakukan upaya apapun. Sesering mungkin mendekatkan diri kepada Allah itu sangat baik, tapi akan jauh lebih baik jika disertai dengan upaya keras untuk menjemput turunnya pertolongan Allah.

Mengilmui adalah upaya agar ujian menjadi tantangan. Agar prahara menjadi anugrah. Agar kita tak salah langkah. Karena kebodohan adalah pangkal keterjerumusan.

Rajin-rajinlah membaca buku, berdiskusi dengan pakar, sering mengunjungi orang shaleh, jangan malu bertanya, dekati mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidupnya. Banyak berdiskusi dengan orang yang tepat adalah hal-hal yang bisa membuat diri tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kenali diri dengan baik. Fahami kelebihan dan kekurangannya. Karena biasanya, ujian diberikan bersesuaian dengan letak kekurangan seseorang. Dengan mengetahui kekurangan diri, seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan antisipatif. Ini juga bisa membuat seseorang menghindari dan menjauhkan segala sebab yang mungkin mengantarkannya pada kesalahan dalam menyikapi ujian yang diberikan.

Misalnya seseorang yang lemah dalam pengelolaan uang. Maka, sebisa mungkin, untuk tidak menerima amanah dari keluarga, organisasi, atau instansi tempat bekerja yang terkait dengan pengelolaan dan pengaturan uang.

Atau, misalnya seorang pemuda yang labil dalam masalah syahwat. Maka, seiring diri menyiapkan untuk mampu menikah, minimalisir setiap penyebab yang mungkin menggoda. Mulai dari menahan pandangan, bergaul dengan orang shaleh, mencari lingkungan yang baik, sibukkan dengan amal shaleh dan hindari ketersendirian. Karena, ketika sendiri, setan akan lebih mudah menggoda.

Enam, anda tidak sendiri. Seringkali, ujian berat terasa begitu menyesakkan. Dalam tahap ini, ketika salah menyikapi, mungkin saja seseorang akan menyalahkan Allah. Bahwa Dia tidak adil, dholim dan sejenisnya. Padahal Allah sangat tidak mungkin memiliki sifat itu semua.

Hal ini pula yang pernah terjadi di zaman Rasulullah. Ketika banyak orang beriman Makkah yang disiksa oleh kafir quraisy. Para sahabat datang kepada Rasul dan berkata, “Dimanakah pertolongan Allah?” Lalu dengan air muka sumringah yang meneduhkan, manusia mulia itu berkata, penuh makna, “Apa yang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan umat terdahulu. Ada diantara mereka yang dikubur hidup-hidup, disiksa dengan ditusuk dari duburnya, disisir menggunakan besi dan dikuliti layaknya hewan sembelihan.”

Menyeksami riwayat ini, pantaskan kita mengatakan, “Alllah dimana?” Padahal kita hanya diuji dengan urusan dunia yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (al-Baqarah [2]: 250)

 
Advertisements

Tips Amalan Menggapai Pertolongan ALLAH (2)

Hikmah Dibalik Musibah

1. Mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR Bukhari)

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan pahala tak terhingga di akhirat
Rasulullah saw bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dalam hadis lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

3. Ukuran kesabaran seorang hamba
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barangsiapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Meningkatkan tauhid dan menautkan hati kepada Allah
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apa bila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushilat [41]: 51
Nabi Ayyub ‘Alaihissalam berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS al-Anbiyaa [21]:83).

5. Meningkatkan berbagai ibadah yang menyertainya
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Lalu apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata,

8. Memberi tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al-Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, ‘Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal saleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian dengan-Ku.” (HR Ahmad ).

10. Mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan kesehatan.Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya. Jika tertimpa kefakiran, maka pasti ada yang lebih fakir lagi.

sumber asli sila klik di sini

Tips Amalan Menggapai Pertolongan Allah (1)

HAKIKAT MUSIBAH

1.Musibah sudah ditakdirkan Allah.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadiid [57]: 22-23).

2. Setiap muslim akan mendapat ujian.

“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyap nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2).

3. Musibah adalah kebaikan dari Allah
Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka didahulukannya siksaan-Nya di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya maka ditangguhkan siksaan itu karena dosa-dosanya, dan siksaan itu akan dirasakannya kelak pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan akan diuji oleh-NYA dengan suatu musibah.” (HR. Bukhari).

4. Musibah akibat kesalahan diri.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura [42]: 30)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana, besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.” (HR Tirmidzi).

5. Setiap musibah ada akhirnya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah [94]: 5-6)

Sikap Manusia terhadap Musibah

Syaikh Muhammad bin Shalihal-Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan:

Tingkatan pertama: Lemah (marah dengan lisan dan perbuatan).

Tingkatan kedua: Bersabar.“…bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal [8]: 46).

Tingkatan ketiga: Merasa ridha ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya.

Tingkatan keempat: Bersyukur. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.” (HR.Bukhari & Muslim)

sumber asli sila klik di sini

Husnu-ZHAN : BerKEYAKINAN, BUKAN Bersangka baik

oleh : Moh. Sofwan Abbas

Kesalahan dalam mengartikan sebuah istilah dalam Al-Qur’an, bisa membuat kesalahan persepsi, yang berujung pada kesalahan dalam mengamalkannya. Oleh karena itu, hendaknya kita memahami istilah tersebut sesuai dengan ketentuan yang benar.

Fenomena sangat sulitnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat ini, hendaknya membuat kita bertanya, apakah hal tersebut disebabkan kesalahan kita dalam memahami istilah “husnu-zhan”? Karena, walaupun Allah swt. telah memerintahkan husnu-zhan, banyak umat Islam yang menyepelekan.

Makna Husnu-Zhan dan Su’u-Zhan

Dalam bahasa Arab, “zhan” bermakna hal yang diketahui dari tanda-tanda. Seperti orang yang mengatakan, “Akan turun hujan,” setelah dia melihat langit mendung. Tidak ada kepastian akan turun hujan. Perkataan itu hanyalah kesimpulan yang diambil dari tanda-tanda.

Sedangkan dalam Al-Qur’an, kata “zhan” mempunyai makna lebih dari satu. Pertama, menuduh, seperti menuduh orang lain berbuat jahat tanpa bukti (Al-Hujurat: 12). Kedua, taklid buta, seperti orang-orang musyrikin yang menolak ajaran Rasulullah saw. yang mempunyai banyak bukti kebenaran, dan sebaliknya mengikuti ajaran syirik yang hanya berdasarkan mitos (Yunus; 66). Ketiga, yakin, seperti orang yang meyakini kematian pasti akan melaksanakan shalat dengan khusyuk (Al-Baqarah: 46).

Dapat disimpulkan, bahwa kata “zhan” bisa bermakna ragu dan yakin. Bagaimana menentukan salah satu makna tersebut? Ulama tafsir menyebutkan kaidah; dalam konteks keburukan, “zhan” bermakna ragu dan sangkaan. Sedangkan dalam konteks kebaikan, “zhan” bermakna yakin. Banyak ayat Al-Qur’an yang menguatkan kaidah ini.

Maka, karena konteksnya adalah buruk, su’u-zhan bermakna bersangka buruk. Lalu karena konteksnya kebaikan, husnu-zhan bermakna berkeyakinan baik, bukan bersangka baik.

Kenapa Harus Berkeyakinan Baik?

Kepada sesama muslim, kita harus selalu berkeyakinan baik. Karena selama masih beriman, imannya akan memerintahkan taat kepada Allah swt., dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Itu pasti dan yakin. Lalu hendaknya kita tidak memvonisnya berbuat buruk selagi belum ada pengakuan atau bukti-bukti yang nyata.

Inilah husnu-zhan; mengedepankan keyakinan baik, bukan mengedepankan sangkaan baik. Karena kalau mengedepankan keyakinan baik, berarti kita belum memvonis orang berbuat buruk, lantaran kita masih yakin orang tersebut baik. Kita baru akan memvonisnya berbuat buruk jika ada pengakuan atau bukti nyata.

Tapi kalau kita mengedepankan sangkaan baik, maka yang terjadi adalah sebaliknya; kita sudah memvonisnya berbuat buruk. Kita baru akan mengatakan dia tidak berbuat buruk kalau ada hal yang membuktikannya.

Husnu-zhan Allah swt. perintahkan dalam ayat: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berkeyakinan baik kepada sesama mereka? Dan (mengapa mereka tidak) berkata: “Ini adalah berita yang dijungkir-balikkan?” [An-Nur: 12].

Ayat ini turun setelah terjadi penyebaran isu bahwa Ibunda ‘Aisyah ra. berbuat mesum dengan Sofwan bin Al-Mu’athal ra. Banyak umat Islam yang terpengaruh dengan isu tersebut. Allah swt. memberi petunjuk agar umat Islam berhusnu-zhan, meyakini kesucian Ibunda ‘Aisyah ra. selagi belum ada pengakuan dan bukti nyata. Itulah maksud yang benar.

Allah swt. memerintahkan kita berhusnu-zhan disebabkan keterbatasan kita sebagai manusia. Kita tidak bisa mengetahui saudara kita secara utuh. Yang bisa kita nilai juga sekadar perbuatan lahir, sedangkan niat sama sekali tidak kita ketahui. Ketika melihatnya berbicara dengan seorang perempuan misalnya, kita tidak mengetahui bahwa ternyata perempuan itu adalah adiknya, atau ibunya, atau isterinya. Kita juga tidak mengetahui alasan dan niat yang membuatnya berbicara dengan perempuan tersebut.

Bagaimana Bisa Berhusnu-Zhan?

Allah swt. lah yang memiliki hati kita, hendaknya kita memohon kepada-Nya untuk membersihkan hati dari sangkaan buruk, dan menumbuhkan keinginan untuk berhusnu-zhan.

Selalu berusaha untuk mencarikan alasan kenapa saudara kita berbuat hal yang kita nilai buruk, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekali pun. Seorang ulama berkata, “Jika aku melihat saudaraku sedang memegang segelas khamar, dan ada air menetes dari bibirnya, aku tetap berhusnu-zhan; jangan-jangan dia cuma berkumur-kumur, atau itu bukan khamar tapi air biasa.”

Selanjutnya setiap muslim hendaknya bekerja sama menghilangkan kesempatan untuk munculnya su’u-zhan. Yaitu dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang rentan menjadi objek su’u-zhan. Rasulullah saw. pernah berjalan bersama Ibunda Shafiyah ra. Dua orang sahabat melihat hal itu, lalu menghindar ke pinggir jalan. Rasulullah saw. lalu memanggil mereka, “Janganlah kalian bersu’u-zhan. Ini adalah Ibunda Shafiyah.” Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak mungkin kami bersu’u-zhan kepada engkau.” Rasulullah saw. kembali bersabda, “Tapi setan mengalir pada diri manusia seperti aliran darah. Aku khawatir ketika kalian lengah, dia akan menghembuskan godaan untuk bersu’u-zhan.” [msa/dakwatuna].

:: Kapal Besar TAWAKKAL ::

Image

oleh: Moh. Sofwan Abbas

Selain sebagai cahaya, keimanan juga merupakan kekuatan. Seorang manusia yang berhasil mendapatkan keimanan yang hakiki akan dapat menantang seluruh makhluk selainnya, dan akan berhasil keluar dari sempitnya kehidupan yang penuh dengan musibah. Itu semua dilakukan dengan meminta kekuatan dari keimanan. Hingga dia pun dapat berlayar dengan bahtera kehidupan, mengarungi ombak-ombak peristiwa yang kadang dapat memukul dengan begitu keras.

Dia berhasil melakukan itu semua dengan selamat dan hati tenang, seraya berucap: “Aku bertawakkal kepada Allah SWT.” Seluruh beban hidup diyakininya sebagai amanah yang kemudian diserahkan kepada Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Hingga dia pun dapat melampaui perjalanan hidup ini dengan tenang, tanpa keresahan yang berarti, sampai memasuki alam barzakh untuk kemudian beristirahat. Dari tempat peristirahatan ini, dia dapat terbang menuju surga yang penuh dengan kebahagiaan yang abadi.

Namun jika manusia tidak mau bertawakkal kepada Allah, dia tidak akan dapat terbang mengangkasa ke surga, bahkan beban yang ada di dirinya akan menariknya turun ke derajat yang paling rendah.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwasanya keimanan itu meniscayakan adanya tauhid atau pengesaan. Lalu pengesaan itu akan membawa kepada penyerahan diri. Selanjutnya, penyerahan diri ini akan mewujudkan penggantungan harapan (tawakkal). Dan terakhir, penggantungan harapan ini akan memudahkan jalan menuju kebahagiaan akhirat. Janganlah kita mengira bahwa tawakkal adalah sebuah penolakan terhadap usaha manusia. Penolakan yang penuh. Tapi, tawakkal adalah sesuatu yang menggambarkan keyakinan kita bahwa usaha adalah hijab-hijab yang berada di tangan Allah SWT. Oleh karena itu, harus dijaga, dipelihara, dan diikuti. Melaksanakan dan mengambil manfaat darinya, tidak lain adalah sebuah doa yang nyata. Sedangkan pengharapan hasil usaha hanyalah boleh dialamatkan kepada Allah SWT. Pujian dan terima kasih hanyalah boleh diberikan kepadaNya saja.

Berikut ini kita akan mengambil sebuah permisalan. Orang yang bertawakkal dan orang tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban di atas pundaknya. Mereka berdua kemudian membeli tiket untuk naik kapal laut. Orang yang pertama, begitu sampai di atas kapal meletakkan bebannya dari atas pundak dan diletakkannya di lantai kapal. Sedangkan seorang yang lain, karena kedunguan dan kebodohannya, walau dia sudah naik di atas kapal, dia tetap tidak meletakkan beban di pundaknya.

Ketika ada yang berkata kepadanya, “Hai Fulan, letakkanlah beban itu dari atas pundakmu, supaya engkau dapat beristirahat.” Dia malah menjawab nasihat itu dengan berkata, “Oh, tidak akan kulakukan nasihatmu itu. Aku takut kehilangan barang bawaanku ini. Aku juga kuat untuk terus membawanya. Akau akan tetap menjaganya di atas kepala dan pundakku.”

Maka ada yang berkata lagi kepadanya, “Wahai saudaraku, akan tetapi kapal yang sedang kita naiki dan membawa kita semua ini jauh lebih kuat dari diri kita semua. Kapal ini dapat menjaga kita dan barang-barang kita secara lebih baik ketimbang kita. Janganlah kau tetap dalam pendapatmu. Jangan-jangan engkau nanti akan pingsan hingga kau dan barang-barangmu terlempar ke dalam laut.

Kulihat kekuatanmu juga sedikit demi sedikit berkurang. Lihatlah pundakmu begitu kurus, tidak akan dapat lama membawa berat beban yang ada di atasnya. Karena beban itu semakin lama akan semakin terasa berat.

Jika nahkoda kapal ini melihatmu dalam keadaan seperti ini, tentu dia akan mengiramu sedang kerasukan setan, atau sedang pingsan. Dan tentu dia tidak akan mau kapalnya dinaiki oleh orang yang sedang terkena setan dan pingsan. Lalu dia akan mengusirmu dari kapal ini. Atau, kalau tidak, dia akan meminta polisi untuk menangkapmu dan memasukkanmu ke dalam penjara. Dia akan berkata kepada para polisi, “Ini seorang pengkhianat. Dia telah menuduh jelek kapalku, dan menghina kita.”

Saat itu engkau akan menjadi bahan tertawaan orang-orang. Karena engkau ini sebenarnya sedang menutupi kelemahanmu, tapi engkau tampakkan kesombongan. Engkau ini merasa kuat, padahal sangat lemah. Engkau ini berlaku sedemikian, tapi di dalam hatimu ada keinginan untuk dipuji orang. Dengan demikian, engkau sendiri yang telah menjadikan dirimu sebagai bahan ejekan dan tertawaan orang lain. Lihatlah, orang-orang itu sedang menertawakanmu dan menganggap dirimu ini bodoh.”

Setelah mendengar semua nasihat yang panjang dan mengena ini, akhirnya orang yang terus membawa barang di pundaknya itu tersadar dan kemudian meletakkan barangnya di lantai. Dia pun akhirnya dapat duduk dan istirahat. Dia pun berkata, “Segala puji bagi Allah, semoga Allah meridhaimu saudaraku. Terima kasih, engkau telah menyelamatkanku dari rasa letih dan kehinaan, menyelamatkanku dari penjara dan ejekan.”

Dari kisah di atas, maka dinasihatkan kepada orang-orang yang masih jauh dari sikap tawakkal kepada Allah SWT, segeralah engkau sadar dari kesalahanmu. Kembalilah kepada otak warasmu. Seperti orang di atas kapal itu. Bertawakallah kepada Allah SWT, agar engkau selamat dari sikap membutuhkan dan meminta-minta kepada makhluk. Agar engkau juga selamat dari rasa takut dan gentar kepada kejadian-kejadian yang engkau anggap sebagai sebuah musibah. Dan agar engkau menyelamatkan dirimu sendiri dari riya’, ejekan, kesengsaraan abadi, dan dari beratnya ikatan dunia. (msa/dakwatuna)

:: HIjab Antara Manusia dengan ALLAH swt. ::

Saudaraku, apapun yang ada itu mutlak hanyalah makhluk Allah SWT, makhluk sesuka Allah, Dia yang Menciptakan, Dia Yang Membentuk, Dia Yang Memberi, Dia Yang Akan Mematikan, tidak ada satupun perbuatan makhlukatau manusia yang bisa menghalangi kehendak Allah SWT, Allahu Akbar.

Terjadinya persoalan dalam hidup kita adalah kalau kita membesar-besarkan makhluk dan mengecilkan Allah.

Ketika atasan dianggap sebagai pemberi rejeki maka terjadilah bawahan menjilat atasan, ketika pembeli dianggap sebagai pemberi rejeki akhirnya justru pedagang ditipu pembeli, ketika suami dianggap sebagai jalan kebahagiaan akibatnya bergantung kepada suami.

Makin banyak kita bergantung kepada selain Allah, makin tidak tenang hidup ini, makin resah dan makin turun kualitas akhlaq kita.

Allah Pencipta Alam Semesta menciptakan manusia untuk mengabdi kepada Allah, beserta dunia berikut isinya. Allah menciptakan semua itu, untuk dapat melayani kita supaya kita menghamba kepada Allah SWT.

Banyak orang yang jadi hina dan sengsara karena dia menjadi pelayan budak dia, Allah menciptakan uang supaya kita dapat dekat dengan Allah lewat uang yang dititipkan, agar bisa bersadaqah, zakat danmenolong orang sehingga derajat dia meningkat di sisi Allah.

Namun sebaliknya, banyak orang yang menjadikan dirinya hamba uang, demi mencari uang dia sanggup berbuat licik, demi mencari uang dia mencuri, demi mendapatkan uang dia korupsi, padahal jauh sebelum kita dilahirkan rejeki kita sudah diciptakan oleh Allah SWT.

Subhanallah, empat bulan di perut ibu sudah beres pembagian rejeki kita “ kita tidak disuruh mencari uang tapi “Waabtaghuu Min Fadlillaah “(QS. 62 ; 10) “Mencari karunia Allah”, rejeki yang barokah.”

Jadi orang tidak akan tenang dalam hidup, sebelum dia yakin makhluk itu hanya alat dari Allah untuk sampainya nikmat atau sampainya musibah, tidak ada satupun pembeli yang bisa menyampaikan rejeki kepada kita tanpa izin Allah.

Seorang pedagang yang ahli ma’rifat tidak ada selera untuk mengikat pembeli, yang dia selera adalah dia melakukan yang terbaik bagi pembeli, jadi atau tidak rejekinya sampai kepada dia, yang terpenting dengan berjualan dapat menjadi amal.

Kalau kita yakin Allah akan mencukupi maka pasti cukup, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, inilah sebenarnya yang berharga. Banyak orang yang tidak pernah mau berlatih, puas hanya dengan jaminan dari Allah, selebihnya kecewa.

Kalau kita ingin dicukupi hidupnya oleh Allah, pantangannya hanya satu “Pantang berharap kepada makhluk!.”

Sebab Allah Maha Pencemburu, Allah Yang Membagikan rejekitidak suka makhluknya bergantung kepada makhluk, kalau hamba bergantung hanya kepada Allah “Wamayyatawakkal ‘allallah fahuwa hasbuh” Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)”. (QS. Ath Thalaq ; 2-3)

Rejeki tidak selalu identik dengan makanan, uang, pujian tetapi kesabaran juga rejeki Subhanallah.

Jadi orang yang banyak rejeki jangan dihitung dari orang yang banyak tabungannya, karena tabungan itu dilihat tidak dipegang tidak, rejeki itu adalah bagaimana Allah membimbing kita supaya kita dekat dengan Allah, adakalanya dalam bentuk hutang gara-gara hutang tiap malam menjadi tahajud, adakalanya dalam bentuk disakiti oleh suami, jadi tolong selalu yakini rejeki yang terbesar adalah ketika hijab diangkat menjadi yakin kepada Allah, itulah yang membuat kita terjamin dalam hidup ini.

*)Syekh Ataillah mengingatkan : Andaikata Allah tidak menampakan kekuasaan pada benda-benda alam, tidak mungkin adanya penglihatan pada-Nya. Andaikata Allah Ta’ala menampakan sifat-sifat-Nya, pasti benda-benda itu akan musnah”

Andaikata Allah Ta’ala menampakan diri-Nya pada makhluk di alam semesta ini , maka Allah akan mudah terlihat.. Akan tetapi Allah tidak akan menyatakan dirinya dalam bentuk benda , sebab benda-benda itu adalah ciptaan Allah sendiri. Pencipta lebih mulia dari hasil ciptaan-Nya. Oleh karena itu sang Pencipta menunjukan dirinya dalam bentuk ciptaan-ciptaan-Nya sendiri.Sebab, kalau demikian, tidak ada bedanya antara Maha Pencipta dengan ciptaan-Nya.Dan benda-benda ciptaan itu akan hancur berantakan apabila wujud Allah sama dengan benda-benda. *)

*): dari Mutu Manikam Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Atailah

Allah adalah pencipta kita, dan kita tidak dapat melihat Allah yang sebenarnya, karena yang kita tahu hanyalah makhluk dan makhluk itu lemah. Mata kita tidak bisa melihat Allah karena mata ini sangat lemah, melihat jauh saja tidak sanggup, sangat dekat pun tidak kelihatan.

Kita bahkan tidak tahu alis kita yang sebenarnya, bulu mata, hidung, yang terdekat dengan mata saja tidak pernah terlihat, pendengaran kita juga lemah, kita tidak bisa mendengar semuanya, frekuensi yang lebih tinggi ataupun lebih rendah dari kemampuan pendengaran kita, suhu untuk tubuh kita juga terbatas andaikata diberikan suhu yang lebih tinggi ataupun lebih rendah tentu tidak akan sanggup kita menahannya.

Jadi bagaimana mungkin makhluk yang lemah bisa melihat Allah Yang Maha Sempurna.

Oleh karena itu, Allah menciptakan qalbu dan hati inilah sebenarnya yang bisa merasakan kehadiran Allah SWT sepanjang hati kita-nya bersih, andaikata hati kita bersih dapat kita rasakan Allah Yang Maha Menatap, Allah menggenggam langit, Allah menciptakan semuanya agar kita berpikir, Afalaa tatafakkaruun.

“Alladziina yadzkuruunallooha qiyaamaawaqu’uudaawwa ‘alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii kholqissamaawaati wal ardhi Rabbana maa kholaqta haadzaa baathilaa subhaanaka faqinaa ‘adzaabannar”(Yaitu)orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, mka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. 3: 191)

Saudara, jika kita menginginkan hidup kita tenangmaka kita harus serius untuk terus berjuang membersihkan hati ini. Wallahu a’lam.

sumber : http://kolom.abatasa.co.id/kolom/detail/1/318/hijab-antara-manusia-dengan-allah?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

:: bagaimana menjadi MAR’ATUSH SHALIHAH ? ::

Ilustrasi. (Foto: Arief Santras. Model: Nika Annika)

Ilustrasi. (Foto: Arief Santras. Model: Nika Annika)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sahabat, apa sih mar’atush shalihah itu?

Mar’atush shalihah adalah wanita shalihah. Kita sebagai perempuan, betapa indahnya jika tidak hanya menjadi sekadar wanita, bukan? Tetapi mampu memiliki julukan yang indah yaitu perempuan shalihah. Allah SWT sudah menciptakan wanita dengan begitu istimewanya, dengan berbagai anugerah yang hanya Allah berikan kepada kaum wanita. Contoh kecilnya saja, wanita diberikan rahim. Dengan rahim tersebut kita sungguh telah istimewa, namun kita bisa lebih istimewa ketika kita menjadi wanita yang shalihah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash –radhiallahu’anhuma– bahwa beliau Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda :

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan itu adalah seorang wanita shalihah.

Lalu bagaimana karakteristik wanita shalihah itu? Sebenarnya ada banyak sekali faktor/aspek yang bisa menjadi indikator seorang wanita disebut shalihah, berikut ada beberapa ciri-ciri inti yang bisa kita lakukan dengan kesungguhan hati untuk meraih Ridha Ilahi dengan jalan menjadi wanita shalihah, di antaranya:

1. Muslimah (yang berserah/berpasrah diri kepada Allah SWT)

“Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Kitab dan kepada orang-orang yang  buta huruf, “Sudahkah kamu masuk Islam?” jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (Q.S. Ali Imran: 20).

Ciri pertama sebagai dasar kita untuk menjadi wanita shalihah yaitu muslimah, yang dapat diartikan berserah diri kepada Allah SWT. Sesungguhnya kita sebenarnya sudah mengantongi ciri pertama ini, mengapa demikian? Karena ketika kita shalat dan membaca doa iftitah, di sini jelas ikrar kita kepada Allah yaitu sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam. Namun, itu semua tidak cukup dengan ucapan. Yang perlu kita lakukan adalah dalam prakteknya, selalu berserah diri kepada-Nya, semua urusan-urusan hidup dan mati kita hendaknya kita serahkan semua pada Allah. Dialah yang Maha Mengatur, semua teks skenario sudah Allah berikan untuk kita, kita hanya memainkan peran dengan berupaya sebaik-baiknya. Bukankah semua yang terjadi pada diri kita, telah Allah tulis jauh-jauh hari sebelum kita berada di dunia ini?

2. Mukminah (orang yang beriman)

“Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, tetapi akan memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar.” (Q.S. Ali Imran: 179).

Wanita yang percaya dan berusaha benar-benar mengimani rukun iman, insya Allah ia akan menjadi perhiasan yang terindah itu.

3. Qonitat (taat)

“Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surge-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. An-Nisa: 13).

Bagi wanita yang belum bersuami, tentunya selain taat kepada Allah dan rasul-Nya, ia juga harus taat kepada kedua orang tuanya, karena ridha mereka adalah ridha Allah. Banyak hal yang bisa dilakukan kita sebagai perempuan untuk taat kepada orang tua, di antaranya senantiasa patuh terhadap mereka, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran-Nya. Birrul walidain, adalah hal wajib yang hendaknya kita lakukan, banyak cara untuk taat selama mereka masih hidup, raih ridha Allah dengan banyak berbuat baik kepada orangtua.

Nah, kalau wanita yang sudah menikah, tentunya ridha Allah sudah bukan lagi tergantung ridha orangtua, melainkan tergantung pada ridha suami. Maka dari itu, taatnya wanita yang sudah menikah adalah taat kepada suaminya. Banyak bentuk taat kepada suami, beberapa di antaranya yaitu patuh terhadap apa yang diperintahkan selama masih sesuai dengan agama-Nya, pandai memelihara kehormatan dirinya, dan pandai menjaga harta suaminya. Terlebih jika ia menyejukkan hati jika dipandang suaminya. Sungguh Allah memberikan banyak sekali jalan untuk kita meraih surga-Nya.

4. Sabar

“Sungguh pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sungguh mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Q.S. Al-Mu’minun: 111)

Sabar menurut bahasa adalah melarang dan menahan, namun menurut syar’i adalah menahan diri dari keluh kesah, Menahan lidah untuk tidak mengeluh, dan mengekang tubuh untuk tidak berbuat zhalim. Sabar juga merupakan kekuatan hati atau jiwa yang dapat memperbaiki kualitas diri dan perilaku pemiliknya. Untuk menjadi wanita shalihah, berkeluh kesah kepada Allah adalah hal yang dianjurkan, karena hanya kepada Dia tempat mengadukan segala urusan, baik itu berupa kesenangan, maupun keluhan. Dialah pemilik hati, Dia yang mampu memberikan kekuatan serta kesabaran saat kita sedang dilanda cobaan. Sabar terbagi dalam tiga bagian, yakni sabar dalam melaksanakan perintah Allah, hingga ditunaikannya dengan sempurna, sabar dalam menjauhi larangan Allah hingga tidak melakukannya, serta sabar dalam menghadapi kesusahan hingga tidak berkeluh kesah.

Sabar itu tidak hanya ketika kita mendapat masalah atau cobaan, namun ketika kita berdakwah pun butuh sekali yang namanya kesabaran, karena Rasulullah dan para sahabat terdahulu sangat sabar dalam syiar agama Islam, dan jika sabar itu tidak ada dalam diri para pendakwah, maka dakwah tidak akan mampu tersebar luas, dan Islam akan sulit berjaya.

5. Khosyi’ah (khusyu’ atau tunduk)

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan mereka akan kembali kepadaNya.” (Q.S. Al-Baqarah: 45-46).

Menjadi mar’atush shalihah, hendaknya khusyu’ dalam tiap ibadah yang dikerjakan, sungguh-sungguh serta tunduk. Berkeyakinan bahwa Allah SWT selalu mengawasi dalam tiap ibadah kita, terutama ketika sedang shalat. Apabila hati telah khusyu’ maka anggota badan akan mengikuti kekhusyu’an itu. Khusyu’ bisa juga diartikan fokus, benar-benar merasakan kehadiran Allah SWT, sehingga akan timbul ketenangan dan ketenteraman pada hati.

6. Mutashoddiqoh (orang yang menginfakkan harta di jalan Allah)

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 261).

Ini salah satu perbedaan antara wanita biasa, dengan wanita shalihah J mengapa?

Karena biasanya seorang wanita cenderung senang membelanjakan hartanya, baik itu untuk kebutuhannya sehari-hari maupun untuk memuaskan hasrat belanjanya. Terlebih jika wanita yang sudah berumah tangga, harta yang didapat dari suaminya sudah semestinya dia pergunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi, dll. Semua itu tidak salah, asalkan tetap dalam tahap wajar dan tidak termasuk dalam pemborosan. Namun, ada satu hal istimewa dari seorang wanita yang shalihah, yaitu ia senantiasa membelanjakan hartanya untuk agama Allah, seperti untuk kepentingan dakwah di jalan Allah.

Berinfak di waktu lapang maupun sempit, merupakan keunggulan dari wanita shalihah, meskipun ia sedang dalam kesulitan, tetapi ia tak ragu untuk memberikan hartanya kepada yang membutuhkan. Anjuran untuk berinfak di waktu lapang, yaitu salah satunya untuk menghilangkan dari perasaan cinta terhadap harta. Sedangkan berinfak di waktu sempit, adalah untuk menumbuhkan sikap suka memberi daripada diberi. Sebenarnya sesulit apapun kondisi manusia, ia tetap dapat memberikan sesuatu di jalan Allah, tidak hanya dengan harta, melainkan dengan jiwa, raga, tenaga, pikiran serta hati yang dapat digunakan untuk agama Allah.

7. Berpuasa

“Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata: Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke Surga. Beliau menjawab: Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu merupakan amalan yang tiada tandingannya. Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya dan beliau pun berkata dengan nasihat yang sama.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Hakim).

Hendaknya wanita muslimah mengetahui bahwa puasa itu mengajarkan kesabaran serta menambah keimanan. Juga mengajarkan pengendalian diri dan tingkah laku yang baik.

Selain puasa Ramadhan, wanita muslimah juga dianjurkan untuk berpuasa sunnah, seperti puasa senin kamis, di hari Arafah, hari Asyura’, enam hari di bulan Syawal, puasa di bulan Sya’ban, pada bulan Muharram, dll. Wanita yang rajin berpuasa, insya Allah akan mendapat keistimewaan yaitu masuk Surga melalui pintu yang bernama Ar-Rayyan.

Untuk wanita yang telah menikah, sebaiknya terlebih dahulu meminta izin kepada suami ketika ingin berpuasa sunnah. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Janganlah seorang wanita berpuasa pada suatu hari, ketika sang suami berada di sisinya, melainkan dengan izinnya. Kecuali pada bulan Ramadhan.” (Muttafaq Alaih).

8. Menjaga kesucian diri

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaknya mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya . . .” (Q.S. An-Nuur: 31).

Wanita yang ingin menjadi wanita shalihah, hendaknya ia senantiasa memelihara kesucian dirinya, menjaga kemaluannya, dan menutup aurat sesuai syariat. Jadikan diri wanita shalihah adalah sebagai perhiasan yang terindah. Ia sangat berharga, senantiasa belajar dan berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak ternoda oleh hal-hal yang diharamkan.

Mengapa Allah begitu tekankan masalah aurat wanita? Karena aurat wanita adalah hal yang sering dianggap sepele oleh kita para wanita. Padahal justru menutup aurat itu adalah wajib hukumnya.

9. Gemar berdzikir

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (namaNya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab: 41-42).

Mengingat Allah membuat hati menjadi tenang, mengapa? Sebab dengan kita banyak mengingat Allah di setiap waktu, maka setiap langkah, ucapan dan perbuatan akan senantiasa berpedoman dengan ajaran Allah, dan sungguh dosa yang kita perbuat menjadikan hati senantiasa gelisah. Maka dengan mengingat Allah, kita akan bersabar untuk tidak melakukan maksiat, sehingga hati akan selalu tenang dan damai.

Salah satu cara ampuh untuk selalu mengingat-Nya yaitu dengan mengingat kematian. Dengan cara ini, seseorang akan setiap waktu ingat dengan Allah, ingat dengan akhirat, ingat bahwa kapan saja Allah akan memanggil kita. Sehingga kita ingin banyak berbuat kebaikan, serta berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan.

Ingat Allah ketika lapang maupun sempit, ketika sedang gembira maupun sedih, ketika sedang dalam kemudahan maupun kesulitan. Ingatlah Allah, maka Allah akan mengingat kita.

Itulah beberapa ciri-ciri mar’atush shalihah yang bisa kita lakukan agar kita bisa menjadi wanita yang shalihah. Sungguh wanita shalihah itu bagaikan perhiasan yang terindah, dan perhiasan itu tidak akan dihasilkan dengan mudah, tidak akan didapat di sembarang tempat. Ia sudah ditempa, dibentuk sedemikian rupa agar bisa menjadi perhiasan yang benar-benar indah.

Menjadi wanita shalihah tidaklah mudah, namun juga tidaklah sulit, dengan kita bersungguh-sungguh berupaya meraihnya, maka dengan itu kita sudah istimewa.

Semoga saya, sahabat-sahabat, dan wanita di manapun yang saat ini sedang berusaha belajar untuk menjadi wanita yang shalihah, yang mau memperbaiki dirinya menjadi wanita shalihah di akhir zaman, senantiasa diluruskan niatnya oleh Allah SWT, diampuni dosa-dosanya, dan mendapat ridha-Nya. Aamiin Ya Rabb.

Wallahu a’lam bisshawab.