Tips Amalan Menggapai Pertolongan ALLAH (2)

Hikmah Dibalik Musibah

1. Mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR Bukhari)

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan pahala tak terhingga di akhirat
Rasulullah saw bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dalam hadis lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

3. Ukuran kesabaran seorang hamba
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barangsiapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Meningkatkan tauhid dan menautkan hati kepada Allah
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apa bila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushilat [41]: 51
Nabi Ayyub ‘Alaihissalam berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS al-Anbiyaa [21]:83).

5. Meningkatkan berbagai ibadah yang menyertainya
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Lalu apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata,

8. Memberi tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al-Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, ‘Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal saleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian dengan-Ku.” (HR Ahmad ).

10. Mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan kesehatan.Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya. Jika tertimpa kefakiran, maka pasti ada yang lebih fakir lagi.

sumber asli sila klik di sini

Tips Amalan Menggapai Pertolongan Allah (1)

HAKIKAT MUSIBAH

1.Musibah sudah ditakdirkan Allah.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadiid [57]: 22-23).

2. Setiap muslim akan mendapat ujian.

“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyap nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2).

3. Musibah adalah kebaikan dari Allah
Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka didahulukannya siksaan-Nya di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya maka ditangguhkan siksaan itu karena dosa-dosanya, dan siksaan itu akan dirasakannya kelak pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan akan diuji oleh-NYA dengan suatu musibah.” (HR. Bukhari).

4. Musibah akibat kesalahan diri.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura [42]: 30)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana, besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.” (HR Tirmidzi).

5. Setiap musibah ada akhirnya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah [94]: 5-6)

Sikap Manusia terhadap Musibah

Syaikh Muhammad bin Shalihal-Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan:

Tingkatan pertama: Lemah (marah dengan lisan dan perbuatan).

Tingkatan kedua: Bersabar.“…bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal [8]: 46).

Tingkatan ketiga: Merasa ridha ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya.

Tingkatan keempat: Bersyukur. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.” (HR.Bukhari & Muslim)

sumber asli sila klik di sini

:: Tiga Nasehat Sayidina ALI agar kita menjadi orang pintar (tidak mudah lupa) ::

Oleh : Budi Wibowo

 
Latar belakang Sayidina Ali KWH
Sayidina Ali KWH adalah salah satu sahabat yang tidak pernah mengenyam didikan jahiliyah karena sejak masa kecilnya mendapat bimbingan langsung dari Nabi SAW.   Dia adalah putera Paman Nabi SAW yang bernama Abu Tholib.   Kita dapat membayangkan betapa  Ali faham betul  karakter Nabi SAW sebagaimana kita faham benar  karakter saudara dan orang tua kita.  Maka menjadi keniscayaan jika Sayidina Ali terbentuk sebagai sosok yang menggambarkan ”begitulah sebenarnya seorang Muslim yang dikehendaki Allah SWT”.   Begitu mulianya Ali hingga Nabi bersabda;
Aku adalah (ibarat) Kota Ilmu dan Ali  pintu gerbang-nya, barang siapa hendak mendapatkan ilmu maka datangilah melalui pintu itu. (HR. Aqil,Ibn ’Adiy, Thobroni, Al Hakim dari Ibn Abas dan Jabir)  1
Maka tidak salah jika kita hendak memperdalam  Islam  pesan, ucapan dan tindakan Ali KWH sebagai rujukan  pembuka sebelum mempelajari khasanah Islam  lebih luas.   Mari kita pelajari  satu dari sekian banyak ucapan Sayidina Ali KWH, berikut;
“Ali KWH berkata:”Ada tiga hal yang dapat menambah / memindahkan hafalan ke dalam otak dan hati;  siwak (gosok gigi), berpuasa dan membaca Al Qur’an.”  2
***
Pembahasan

1.   Tentang siwak.
Nabi bersabda :
“Sekiranya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersugi (gosok gigi) pada tiap kali  (akan) sembahyang. (HR Bukhori dan Muslim). 3
Islam mengajarkan kebersihan karena Allah SWT menyukai kebersihan.  Kebersihan mencakup kebersihan lingkungan dan badan di antaranya  adalah kebersihan mulut.  Itulah sebab  Allah SWT menurunkan air, Allah SWT menyukai  orang-orang yang bersih.
Dan Ia turunkan atas kamu air dari langit untuk ia bersihkan kamu dengannya.” (QS Al Anfal:8:11)
“Sesungguhnya Allah SWT suka kepada orang-orang yang suka bertaubat dan suka kepada orang-orang yang bersih.”(QS Al Baqarah :2:222)
Dari kemajuan teknologi  beberapa peniliti menyatakan bahwa penyakit lupa (dementia)  erat kaitannya dengan kesehatan gigi.   Maka benar jika Ali menganjurkan  rajin menggosok gigi / selalu menjaga kesehatan mulut bila seseorang  hendak memelihara hafalan atau pelajaran ke dalam otak  atau  jiwanya.   Ucapan Rasul dan Ali tersebut sangat erat kaitannya  dengan Firman Allah SWT tertulis di atas.
2.    Tentang berpuasa.
Nabi bersabda:
“Puasalah kalian, niscaya kalian sehat (Diriwayatkan Ibnu As-Suni dan Abu Nu’aim, sanad Hasan Menurut Imam Suyuti). 4
Puasa membuat orang menjadi sabar (telaten/tekun) selain sabar juga membuat badan sehat karena  puasa dapat mengurangi kegemukan atau timbunan lemak dalam badan.  Dari Ilmu kedokteran telah ditemukan bahwa ternyata puasa merupakan salah satu cara penghilangan racun dalam tubuh (detoksifikasi).
3.   Tentang membaca Alqur’an
Ingatlah hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tentram.”(QS Ar Ra’d :13:28)
Membaca Alqur’an termasuk dzikrullah, yakni mengingat, mempelajari dan menyebut nama Allah SWT.  Nun tasjid pada kalimat (تَطْمَئِنُّ ) mennjukkan kesungguhan.  Maka Allah SWT benar-benar akan menjadikan orang yang membaca alqur’an hatinya tenang.
***
Kesimpulan
Bila kita selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut niscaya badan kita sehat,  bila badan kita sehat dengan jiwa yang tenang niscaya kita akan mudah  menangkap pelajaran atau menancapkan hafalan.   Atau dengan kata lain dengan membiasakan (mendawamkan) pelaksanaan 3  (tiga) nasehat yang di anjurkan Sayidina Ali KWH, insyaAllah kita tidak mudah terserang penyakit lupa (pikun) atau dengan kata lain kita akan menjadi orang  yang pintar.
 
WaAllhu ’Alamu bishawab
PUSTAKA
Al Qur’an Karim.
1  Imam Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir. Juz    I    Maktab   Dar Ihya Alkitab 
           Arabiyah. Indonesia. Hal. 108.
2 Nawawi bin Umar, Muhammad.______. Nashaihul Ibad. Maktab Dar Ihya Arabiyah. Indonesia   Hal. 15.         
3  Imam  Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir.Juz  II.    Maktab   Dar Ihya Alkitab 
          Arabiyah. Indonesia. Hal. 132.
4  Imam Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir. Juz   II.    Maktab   Dar Ihya Alkitab 

           Arabiyah. Indonesia. Hal. 46.

sumber http://kutbah.blogspot.com/2013/11/tiga-nasehat-sayidina-ali-kwh-agar-kita.html

:: Beberapa Amalan Harian Penghapus Dosa ::

Image

Segala puji hanyalah milik Allāh. Ṣalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullāh.

Allāh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian terjatuh dalam kesalahan baik di malam maupun siang hari. Dan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, ‘kan Ku ampuni kalian” (HR. Muslim)

Sebagai manusia biasa, disadari atau tidak, setiap harinya kita terjatuh dalam kesalahan, baik karena lalai atau tidak maksimal dalam menjalankan kewajiban atau terpeleset ke perbuatan dosa. Oleh sebab itulah seorang hamba diperintahkan untuk selalu memohon ampun kepada Allāh Ta’ala. Selain itu, seorang hamba dapat melakukan beberapa amalan harian yang merupakan sebab terampuninya dosa-dosa yang telah ia lakukan. Diantara amalan harian yang merupakan sebab yang mendatangkan ampunan Allāh adalah sebagai berikut :

1. Bertaubat

Allāh Ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang dikenal dengan ayat yang paling melambungkan harapan bagi seorang hamba,

Katakanlah : “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allāh! Sesungguhnya Allāh mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar : 53)

Pada ayat ini, Allāh menyeru seluruh manusia, baik yang dosanya kecil maupun besar, agar mereka bertaubat dan tidak berputus asa dari rahmat Allāh. Karena Allāh mengampuni semua jenis dosa, bahkan yang paling berat sekalipun, yakni dosa syirik. Orang yang telah bertaubat sebagaimana bayi yang baru lahir, bersih dari dosa. Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak punya dosa” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani)

2. Menjaga shalat 5 waktu

Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Ṣalat 5 waktu dan (rentang waktu) dari ṣalat Jum’at ke Jum’atan selanjutnya adalah penghapus dosa antara waktu-waktu tersebut selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim)

3. Berzikir setelah shalat

Yakni dengan melantunkan ẓikir yang ada pada hadiṭ berikut,

Barangsiapa yang bertasbih setiap selesai ṣalat 33x, bertahmid 33x, bertakbir 33x, sehingga totalnya 99, kemudian menggenapkannya menjadi 100 dengan membaca : ‘Laa ilaaha illallāhu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qādiir’, maka dosa-dosanya akan diampuni meski seperti buih di lautan” (HR. Muslim)

4. Berjalan kaki ke masjid

Rasulullāh Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu berjalan ke salah satu rumah Allāh untuk menunaikan salah satu kewajiban yang Allāh      tetapkan, maka salah satu langkahnya akan menghapus dosa, satunya lagi akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim)

 

5. Berwuḍu sesuai petunjuk Nabi, lalu shalat sunnah setelahnya

Dalam hadiṭ yang panjang dari ‘Uṭman bin ‘Affan rāḍiyallāhu ‘anhu, setelah menceritakan tata cara wuḍu Nabi, beliau berkata, “Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Siapa yang berwuḍu seperti wuḍu-ku ini, kemudian ṣalat 2 rāka’at dan tidak menyibukkan hatinya dalam 2 rāka’at itu, maka Allāh akan mengampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘alaihi)

6. Sedekah

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Dan sedekah bisa memadamkan (menghapus) dosa sebagaimana air bisa memadamkan api” (HR. Tirmiẓi)

7. Berjabat tangan ketika bertemu

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah 2 orang muslim bertemu lalu saling berjabat tangan kecuali dosa keduanya akan diampuni sebelum  keduanya berpisah” (HR. Abu Dawud, Tirmiẓi, dan Ibnu Majah, dinilai ṣahih oleh Syaikh Al Albani)

8. Berdo’a setelah mendengar adzan

Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Siapa yang mendengar aẓan lalu mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallāhu wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rāsuuluh, rāḍiitu billahi rābba, wa bi Muhammadin rāsuula, wa bil Islaami diina’, maka dosanya akan diampuni” (HR. Muslim)

9. Berbuat baik setelah terjatuh dalam kesalahan

Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya akan menghapus kejelekan tersebut” (HR. Tirmiẓi)

10. Bersabar ketika tertimpa musibah

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Tidaklah seorang muslim ditimpa cobaan, baik berupa sakit maupun selainnya, kecuali Allāh akan menggugurkan dosanya sebagaimana pohon menggugurkan dedaunannya” (Muttafaqun ‘alaihi)

Itulah beberapa amalan harian yang merupakan sebab datangnya ampunan Allāh. Hanya saja, pada dasarnya dosa besar hanya bisa terhapus dengan bertaubat.

Tauhid kuncinya

Yang paling penting dari itu semua adalah tauhid. Tauhid adalah sebab terbesar datangnya ampunan Allāh di hari akhir nanti. Dalam sebuah hadiṭ qudsi, Allāh berfirman,

Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang menghadap-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lantas engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan sebesar dosamu itu” (HR. Tirmiḍi)

Akan tetapi, jika tauhid ini hilang atau tercampur kesyirikan, maka sebagaimana sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,

  Siapa yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, akan masuk neraka” (HR. Muslim)

Semoga Allāh Ta’ala mewafatkan kita di atas tauhid dan mengampuni dosa-dosa kita serta kaum muslimin seluruhnya. Wallāhu a’lam.

artikel http://pemudamuslim.com/nasehat/beberapa-amalan-harian-penghapus-dosa/

:: [QOLBU] HATI YANG SEHAT DAN LUKA ::

 

Image
Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat , keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah dan dari setiap syubhat yaitu keraguan dan ketidak jelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati yang tidak pernah beribadah kepada selain Allah dan berhukum kepada Rasulullah. “ Ubudiyahnya murni kepada Allah. Iraddah, mahabbah, inabah, ikhbat, khassyah, raja dan amalnya, semuanya Lillah, semata karena Allah.

Jika ia mencintai, membenci , memberi dan menahan diri semuanya dilakukan karena Allah. Ini saja tidak dirasa cukup, sampai ia benar-benar terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikan Rasul sebagai satu-satunya panutan dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak akan berani bersikap lancang , mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan ataupun perbuatan

HATI YANG MATI, adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak beribadah kepadaNya, enggan menjalankan perintahNya, atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhaiNYa. Hati ini selalu lebih tunduk kepada hawa nafsu atau kecenderungan diri terhadap kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT. Ia tidak peduli kepada keridhaan atau kemurkaan Allah SWT. Baginya yang penting adalah terpenuhinya hawa nafsu/keinginan. Ia menghamba kepada selain Allah demi kesenangannya ini.

Jika ia mencinta, membenci , memberi dan menahan diri semuanya karena hawa nafsu. Hawa nafsu inilah telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah sopirnya dan kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dipenuhi dan dikerahkan untuk mencapai target-target duniawi.

HATI YANG SAKIT adalah hati yang hidup namun mengundang penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada penyakit. Padanya terdapat kecintaan, keimanan , keikhlasan dan tawakal kepada Allah yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr (Sombong) dan sifat ujub yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada diantara dua penyeru kepada Allah, rasul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi.

Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab.

Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu, tawadlu, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.

INDIKASI SAKIT- SEHATNYA HATI

Hati seseorang itu bisa sakit. Sakitnya bisa semakin parah dan tidak menyadarinya. Bahkan bisa jadi hati telah mati, tanpa disadari pemiliknya. Pertanda hati itu sakit atau telah mati adalah; ia tidak lagi dapat merasakan sakitnya bermaksiat dan betapa menderitanya berada dalam kebodohan tentang kebenaran serta memiliki aqidah yang sesat. Sebab hati yang hidup pasti merasa tersiksa bila melakukan perbuatan buruk . Begitu pula jika ia bodoh tentang kebenaran.

Terkadang, seseorang yang memiliki hati yang sakit dapat merasakan penyakitnya. Namun, ia tidak tahan mengecap pahitnya obat penawar . Dan ia pun lebih memilih menderita penyakit untuk selamanya.

Diantara tanda sakitnya hati adalah keengganan mengkonsumsi makanan yang bermanfaat. Justru cenderung kepada yang mendatangkan mudharat. Juga enggan terhadap obat yang berguna dan cenderung kepada penyakit yang berbahaya.

Hati yang sehat selalu mengutamakan makanan yang bermanfaat daripada racun yang mematikan. Makanan terbaik adalah keimanan. OBAT TERBAIK ADALAH AL QUR’AN.

Adapun tanda sehatnya hati adalah “ ketidak hadirannya” di dunia menuju ke negeri akhirat. Disana ia tinggal dan seakan-akan menjadi penghuninya. Kehadirannya di dunia ini ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya, lalu kembali ke negerinya. Kepada Abdullah bin Umar , Rasulullah berpesan

“ di dunia ini hendaknya kamu berlaku seperti orang asing atau orang yang lewat..”

Tanda sehatnya hati adalah selalu mengingatkan si Empunya, sehingga ia mau kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk dan bergantung kepadaNya seperti bergantungnya seseorang yang mencintai kepada yang dicintainya. Ia hanya butuh cintaNya. Ia selalu berdzikir dan berkhidmat kepadaNya.

Tanda sehatnya Hati adalah jika si empunya hati ketinggalan atau tidak sempat melaksanakan wirid (bacaan rutin berupa dzikir atau Al qur’an) atau suatu ibadah, ia akan merasa sakit dan tersiksa melebihi orang kaya yang kehilangan harta..

sumber https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151616648141840&set=a.117212296839.110306.109056501839&type=1&relevant_count=1

:: 8 Kemuliaan Ramadhan ::

oleh : Bapak Aus Hidayat Nur

Rasulullah saw. memberikan sambutannya menjelang Bulan Suci Ramadhan. “Wahai segenap manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung penuh berkah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa di siang harinya sebagai kewajiban, dan qiyam di malam harinya sebagai sunnah. Barangsiapa menunaikan ibadah yang difardukan, maka pekerjaan itu setara dengan orang mengerjakan 70 kewajiban.

Ramadhan merupakan bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga. Ramadhan merupakan bulan santunan, bulan yang dimana Allah melapangkan rezeki setiap hamba-Nya. Barangsiapa yang memberikan hidangan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka akan diampuni dosanya, dan dibebaskan dari belenggu neraka, serta mendapatkan pahala setimpal dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang berpuasa tersebut.” (HR Khuzaimah)

Sambutan Nabi Muhammad saw. ini merupakan teladan bagi umatnya dalam menghadapi datangnya Bulan Ramadhan. Sambutan hangat penuh kegembiraan yang Beliau sampaikan menunjukkan perlunya tarhib Ramadhan seperti khutbah Nabi ini ditradisikan kaum muslimin. Jika ada satu momen dimana kepala negara menyampaikan pidatonya tentulah momen tersebut bukan momen biasa. Itu sebuah program superpenting dengan momen paling istimewa. Demikian pula dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan keunggulan dan kemuliaan.

Dari hadits tersebut, Nabi kita menyebutkan 8 keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya, yaitu:

1.Syahrun Azhim (Bulan Yang Agung)

Azhim adalah nama dan sifat Allah Ta’ala. Namun juga digunakan untuk menunjukkan kekaguman terhadap kebesaran dan kemuliaan sesuatu. Sesuatu yang diagungkan Nabi tentulah memiliki nilai yang jauh lebih besar dan sangat mulia dengan sesuatu yang diagungkan oleh manusia biasa. Alasan mengagungkan bulan Ramadhan adalah karena Allah juga mengagungkan bulan ini. Firman Allah, “Waman yu’azhim sya’iirillah fa-innahha mintaqwal quluub, barangsiapa mengagungkan syiar-syiar agama Allah, maka itu datang dari hati yang bertakwa.”

Diagungkan Allah karena pada bulan inilah Allah mewajibkan puasa sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Allah Yang Maha Pemurah Penyayang menetapkan dan mensucikan bulan ini kemudian memberikan segala kemurahan, kasih sayang, dan kemudahan bagi hamba-hamba yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya.

2.Syahrul Mubarak

Bulan ini penuh berkah, berdayaguna dan berhasil guna, bermanfaat secara maksimal. Detik demi detik di Bulan Suci ini bagaikan rangkaian berlian yang sangat berharga bagi orang beriman. Pasalnya semua perbuatan kita di saat berpuasa menjadi ibadah berpahala yang balasannya langsung dari Allah. Amal baik sekecil apapun nilainya
dilipatgandakan sehingga kita menjadi puas dalam melakukannya.

Keberkahan Ramadhan oleh Nabi kita secara garis besar dibagi 3, yaitu 10 malam periode pertama penuh rahmat Allah,  10 berikutnya diisi dengan ampunan (maghfirah), sedangkan di 10 malam terakhir merupakan pembebas manusia dari api neraka. Keberkahan yang Allah berikan ini akan optimal jika kita mengelola waktu pendekatan diri kepada Allah sebagaimana arahan Rasulullah saw.

3.Syahru Nuzulil Qur’an

Allah mengistimewakan Ramadhan sekaligus menyediakan target terbesar, yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Simaklah firman Allah dalam rangkaian ayat puasa, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan bagi petunjuk, dan furqan
(pembeda).” (Al-Baqarah: 185)

Ayat di atas menjelaskan bahwa target utama amaliyah Ramadhan membentuk insan takwa yang menjadikan Kitabullah sebagai manhajul hayat (pedoman hidup). Dapat dikatakan bahwa Ramadhan tidak dapat dipisahkan dengan Al-Qur’an. Rasulullah saw. mendapatkan wahyu pertama pada bulan Ramadhan dan di setiap bulan Ramadhan Malaikat Jibril datang sampai dua kali untuk menguji hafalan dan pemahaman Rasulullah saw. terhadap Al-Qur’an. Bagi ummat Muhammad, ada jaminan bahwa Al-Qur’an kembali nuzul ke dalam jiwa mereka manakala mengikuti program Ramadhan dengan benar.

4.Syahrus Shiyam

Pada Bulan Ramadhan dari awal hingga akhir kita menegakkan satu dari 5 rukun (tiang) Islam yang sangat penting, yaitu shaum (puasa). Kewajiban puasa sebagaimana kewajiban ibadah shalat 5 waktu.  Maka sebulan penuh seorang muslim mengkonsentrasikan diri untuk ibadah sebagaimana dia mendirikan shalat Subuh atau Maghrib yang memakan waktu beberapa menit saja. Puasa Ramadhan dilakukan tiap hari dari terbit fajar hingga terbenam matahari (Magrib). Tidak cukup menilai dari yang membatalkannya seperti makan dan minum atau berhubungan suami-istri di siang hari saja, tetapi wajib membangun akhlaqul karimah, meninggalkan perbuatan maksiat dan yang makruh (yang dibenci Allah).

5.Syahrul Qiyam

Bulan Ramadhan menggairahkan umat Islam untuk menjalankan amalan orang-orang saleh seperti sholat tahajjud dan membaca Al-Qur’an dengan benar di dalam shalat malamnya. Di Bulan Ramadhan Kitabullah mengisyaratkan bahwa untuk mendapatkan ketinggian derajatnya setiap mukmin sangat dianjurkan shalat tarawih dan witir agar di luar Ramadhan dia bisa terbiasa mengamalkan qiyamullail.

6.Syahrus Sabr (bulan sabar)

Bulan Ramadhan melatih jiwa muslim untuk senantiasa sabar tidak mengeluh dan tahan uji. Sabar adalah kekuatan jiwa dari segala bentuk kelemahan mental, spiritual dan operasional. Orang bersabar akan bersama Allah sedangkan balasan orang-orang yang sabar adalah surga.

Sabar lahir bersama dengan segala bentuk kerja besar yang beresiko seperti dalam dakwah dan jihad fi sabilillah. Ramadhan melatih muslim beramal islami dalam  berjamaah untuk meninggikan kalimat Allah.

7.Syahrul Musawwah (Bulan Santunan)

Ramadhan menjadi bulan santunan manakala orang-orang beriman sadar sepenuhnya bahwa puasanya mendidik mereka untuk memiliki empati kepada fakir miskin karena merasakan lapar dan haus sebagaimana yang mereka rasakan. Karena itu kaum muslimin selayaknya menjadi pemurah dan dermawan. Memberi dan berbagi harus menjadi watak yang ditanamkan.

Segala amal yang berkaitan dengan amwal (harta) seperti zakat fitrah sedekah, infak, wakaf, dan sebagainya, bahkan zakat harta pun sebaiknya dilakukan di bulan yang mulia ini. Memberi meskipun kecil, bernilai besar di sisi Allah. Siapa yang memberi makan minum  pada orang yang berpuasa meskipun hanya seteguk air, berpahala puasa seperti yang diperoleh orang yang berpuasa.

8.Syahrul Yuzdaadu fiihi Rizqul Mu’min

Bulan ini rezeki orang-orang beriman bertambah karena segala kemudahan dibuka oleh Allah seluas-luasnya. Para pedagang akan beruntung, orang yang jadi pegawai dapat kelebihan pendapatan dan sebagainya. Namun rezeki terbesar adalah hidayah Allah kemudian hikmah dan ilmu yang begitu mudah diperoleh di bulan mulia ini.

Katanya Syetan dibelenggu, mengapa maksiat jalan terus ??

Oleh: Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA

BULAN Ramadhan adalah bulan di mana pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta Syetan-syetan diikat. Dengan demikian, Allah Subhanahu Wata’ala telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadhan.

DI bulan ini, Syetan pun tidak diberi kesempatan untuk mengoda dan menyesatkan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Apabila masuk bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan Syetan-Syetan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka pada bulan ini kita digalakkan untuk memperbanyak ibadah.

Tapi mengapa justru kadang di bulan Ramadhan kemaksiatan masih sulita dikekang dan dikendalilan?

Jika perbuatan maksiat masih terjadi pada bulan ini,  maka penyebabnya ada 6:

Pertama, para pelaku maksiat pada bulan ini adalah murid dan kader Syetan. Mereka telah dilatih untuk berbuat maksiat sehingga menjadi kebiasaan. Mereka ini adalah alumni madrasah Syetan yang selama ini ditraining untuk berbuat maksiat oleh “guru atau ustaz” mereka (Syetan).

Kedua, puasa yang dilakukan oleh pelaku maksiat itu tidak benar (tidak sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam) sehingga tidak diterima. Bila ia berpuasa dengan benar, maka puasanya itu pasti mencegahnya dari maksiat.

Ketiga, nafsunya telah menguasai dan menyandera dirinya. Puasa sesungguhnya tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa, namun juga menahan diri dari nafsu dan maksiat baik berupa ucapan maupun perbuatan yang diharamkan. Akibatnya puasanya tidak bernilai nilai apa-apa dan tidak memberikan dampak positif dalam tingkah lakunya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila pada bulan Ramadhan masih ada orang-orang yang “istiqamah” berbuat maksiat.

Keempat, Ramadhan bulan maghfirah (pengampunan dosa). Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke  Ramadhan  menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).

Melalui berbagai aktifitas ibadah di bulan Ramadhan Allah Subhanahu Wata’ala menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam: ”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pula dengan melakukan shalat malam (tarawih, witir dan tahajuj) pada bulan Ramadhan dapat menghapus dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam: ”Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan  (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, Ramadhan bulan itqun minan nar (pembebasan dari Api neraka). Setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Keenam, pada bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar yang nilai kebaikan padanya lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman: “Dan Tahukah kamu lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadar: 2-3).

Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Pada bulan Ramadhan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang dihalangi kebaikannya padanya, maka rugilah dia.” (HR. Ahmad,An-Nasa’i & Baihaqi).

Maka kita sangat digalakkan untuk mencari lailatul qadar ini dengan i’tikaf, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengikuti perbuatan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Aisyah r.a berkata: “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menghidupkan waktu malam beliau, membangunkan keluarga beliau untuk beribadah, dan mengencangkan ikat pinggang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain: “Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam sangat giat beribadah pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) melebihi ibadah beliau pada hari-hari lainnya.” (HR.Muslim)

Mengingat berbagai keutamaan Ramadhan tersebut di atas, maka sangat disayangkan bila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih. Celakanya, bila hari-hari Ramadhan yang seharusnya diisi dengan memperbanyak ibadah diganti dengan ajang maksiat, na’uzubillahi min zaalik..! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah memberi peringatan dengan sabdanya: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata: ”Wahai Muhammad, Siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan ini habis dan tidak mendapat ampunan, maka ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan Amin! Aku pun mengatakan Amin!” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Celakalah bagi orang yang masuk pada bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. At-Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi). Semoga kita dapat meraih berbagai keutamaan yang disediakan pada bulan Ramadhan.*

*Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Prov. Aceh

sumber http://www.hidayatullah.com/read/2013/07/19/5556/katanya-syetan-dibelenggu-kok-masiat-jalan-terus.html