:: Tiga Nasehat Sayidina ALI agar kita menjadi orang pintar (tidak mudah lupa) ::

Oleh : Budi Wibowo

 
Latar belakang Sayidina Ali KWH
Sayidina Ali KWH adalah salah satu sahabat yang tidak pernah mengenyam didikan jahiliyah karena sejak masa kecilnya mendapat bimbingan langsung dari Nabi SAW.   Dia adalah putera Paman Nabi SAW yang bernama Abu Tholib.   Kita dapat membayangkan betapa  Ali faham betul  karakter Nabi SAW sebagaimana kita faham benar  karakter saudara dan orang tua kita.  Maka menjadi keniscayaan jika Sayidina Ali terbentuk sebagai sosok yang menggambarkan ”begitulah sebenarnya seorang Muslim yang dikehendaki Allah SWT”.   Begitu mulianya Ali hingga Nabi bersabda;
Aku adalah (ibarat) Kota Ilmu dan Ali  pintu gerbang-nya, barang siapa hendak mendapatkan ilmu maka datangilah melalui pintu itu. (HR. Aqil,Ibn ’Adiy, Thobroni, Al Hakim dari Ibn Abas dan Jabir)  1
Maka tidak salah jika kita hendak memperdalam  Islam  pesan, ucapan dan tindakan Ali KWH sebagai rujukan  pembuka sebelum mempelajari khasanah Islam  lebih luas.   Mari kita pelajari  satu dari sekian banyak ucapan Sayidina Ali KWH, berikut;
“Ali KWH berkata:”Ada tiga hal yang dapat menambah / memindahkan hafalan ke dalam otak dan hati;  siwak (gosok gigi), berpuasa dan membaca Al Qur’an.”  2
***
Pembahasan

1.   Tentang siwak.
Nabi bersabda :
“Sekiranya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersugi (gosok gigi) pada tiap kali  (akan) sembahyang. (HR Bukhori dan Muslim). 3
Islam mengajarkan kebersihan karena Allah SWT menyukai kebersihan.  Kebersihan mencakup kebersihan lingkungan dan badan di antaranya  adalah kebersihan mulut.  Itulah sebab  Allah SWT menurunkan air, Allah SWT menyukai  orang-orang yang bersih.
Dan Ia turunkan atas kamu air dari langit untuk ia bersihkan kamu dengannya.” (QS Al Anfal:8:11)
“Sesungguhnya Allah SWT suka kepada orang-orang yang suka bertaubat dan suka kepada orang-orang yang bersih.”(QS Al Baqarah :2:222)
Dari kemajuan teknologi  beberapa peniliti menyatakan bahwa penyakit lupa (dementia)  erat kaitannya dengan kesehatan gigi.   Maka benar jika Ali menganjurkan  rajin menggosok gigi / selalu menjaga kesehatan mulut bila seseorang  hendak memelihara hafalan atau pelajaran ke dalam otak  atau  jiwanya.   Ucapan Rasul dan Ali tersebut sangat erat kaitannya  dengan Firman Allah SWT tertulis di atas.
2.    Tentang berpuasa.
Nabi bersabda:
“Puasalah kalian, niscaya kalian sehat (Diriwayatkan Ibnu As-Suni dan Abu Nu’aim, sanad Hasan Menurut Imam Suyuti). 4
Puasa membuat orang menjadi sabar (telaten/tekun) selain sabar juga membuat badan sehat karena  puasa dapat mengurangi kegemukan atau timbunan lemak dalam badan.  Dari Ilmu kedokteran telah ditemukan bahwa ternyata puasa merupakan salah satu cara penghilangan racun dalam tubuh (detoksifikasi).
3.   Tentang membaca Alqur’an
Ingatlah hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tentram.”(QS Ar Ra’d :13:28)
Membaca Alqur’an termasuk dzikrullah, yakni mengingat, mempelajari dan menyebut nama Allah SWT.  Nun tasjid pada kalimat (تَطْمَئِنُّ ) mennjukkan kesungguhan.  Maka Allah SWT benar-benar akan menjadikan orang yang membaca alqur’an hatinya tenang.
***
Kesimpulan
Bila kita selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut niscaya badan kita sehat,  bila badan kita sehat dengan jiwa yang tenang niscaya kita akan mudah  menangkap pelajaran atau menancapkan hafalan.   Atau dengan kata lain dengan membiasakan (mendawamkan) pelaksanaan 3  (tiga) nasehat yang di anjurkan Sayidina Ali KWH, insyaAllah kita tidak mudah terserang penyakit lupa (pikun) atau dengan kata lain kita akan menjadi orang  yang pintar.
 
WaAllhu ’Alamu bishawab
PUSTAKA
Al Qur’an Karim.
1  Imam Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir. Juz    I    Maktab   Dar Ihya Alkitab 
           Arabiyah. Indonesia. Hal. 108.
2 Nawawi bin Umar, Muhammad.______. Nashaihul Ibad. Maktab Dar Ihya Arabiyah. Indonesia   Hal. 15.         
3  Imam  Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir.Juz  II.    Maktab   Dar Ihya Alkitab 
          Arabiyah. Indonesia. Hal. 132.
4  Imam Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir. Juz   II.    Maktab   Dar Ihya Alkitab 

           Arabiyah. Indonesia. Hal. 46.

sumber http://kutbah.blogspot.com/2013/11/tiga-nasehat-sayidina-ali-kwh-agar-kita.html

Advertisements

:: Beberapa Amalan Harian Penghapus Dosa ::

Image

Segala puji hanyalah milik Allāh. Ṣalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullāh.

Allāh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian terjatuh dalam kesalahan baik di malam maupun siang hari. Dan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, ‘kan Ku ampuni kalian” (HR. Muslim)

Sebagai manusia biasa, disadari atau tidak, setiap harinya kita terjatuh dalam kesalahan, baik karena lalai atau tidak maksimal dalam menjalankan kewajiban atau terpeleset ke perbuatan dosa. Oleh sebab itulah seorang hamba diperintahkan untuk selalu memohon ampun kepada Allāh Ta’ala. Selain itu, seorang hamba dapat melakukan beberapa amalan harian yang merupakan sebab terampuninya dosa-dosa yang telah ia lakukan. Diantara amalan harian yang merupakan sebab yang mendatangkan ampunan Allāh adalah sebagai berikut :

1. Bertaubat

Allāh Ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang dikenal dengan ayat yang paling melambungkan harapan bagi seorang hamba,

Katakanlah : “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allāh! Sesungguhnya Allāh mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar : 53)

Pada ayat ini, Allāh menyeru seluruh manusia, baik yang dosanya kecil maupun besar, agar mereka bertaubat dan tidak berputus asa dari rahmat Allāh. Karena Allāh mengampuni semua jenis dosa, bahkan yang paling berat sekalipun, yakni dosa syirik. Orang yang telah bertaubat sebagaimana bayi yang baru lahir, bersih dari dosa. Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak punya dosa” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani)

2. Menjaga shalat 5 waktu

Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Ṣalat 5 waktu dan (rentang waktu) dari ṣalat Jum’at ke Jum’atan selanjutnya adalah penghapus dosa antara waktu-waktu tersebut selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim)

3. Berzikir setelah shalat

Yakni dengan melantunkan ẓikir yang ada pada hadiṭ berikut,

Barangsiapa yang bertasbih setiap selesai ṣalat 33x, bertahmid 33x, bertakbir 33x, sehingga totalnya 99, kemudian menggenapkannya menjadi 100 dengan membaca : ‘Laa ilaaha illallāhu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qādiir’, maka dosa-dosanya akan diampuni meski seperti buih di lautan” (HR. Muslim)

4. Berjalan kaki ke masjid

Rasulullāh Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu berjalan ke salah satu rumah Allāh untuk menunaikan salah satu kewajiban yang Allāh      tetapkan, maka salah satu langkahnya akan menghapus dosa, satunya lagi akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim)

 

5. Berwuḍu sesuai petunjuk Nabi, lalu shalat sunnah setelahnya

Dalam hadiṭ yang panjang dari ‘Uṭman bin ‘Affan rāḍiyallāhu ‘anhu, setelah menceritakan tata cara wuḍu Nabi, beliau berkata, “Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Siapa yang berwuḍu seperti wuḍu-ku ini, kemudian ṣalat 2 rāka’at dan tidak menyibukkan hatinya dalam 2 rāka’at itu, maka Allāh akan mengampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘alaihi)

6. Sedekah

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Dan sedekah bisa memadamkan (menghapus) dosa sebagaimana air bisa memadamkan api” (HR. Tirmiẓi)

7. Berjabat tangan ketika bertemu

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah 2 orang muslim bertemu lalu saling berjabat tangan kecuali dosa keduanya akan diampuni sebelum  keduanya berpisah” (HR. Abu Dawud, Tirmiẓi, dan Ibnu Majah, dinilai ṣahih oleh Syaikh Al Albani)

8. Berdo’a setelah mendengar adzan

Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Siapa yang mendengar aẓan lalu mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallāhu wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rāsuuluh, rāḍiitu billahi rābba, wa bi Muhammadin rāsuula, wa bil Islaami diina’, maka dosanya akan diampuni” (HR. Muslim)

9. Berbuat baik setelah terjatuh dalam kesalahan

Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya akan menghapus kejelekan tersebut” (HR. Tirmiẓi)

10. Bersabar ketika tertimpa musibah

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  Tidaklah seorang muslim ditimpa cobaan, baik berupa sakit maupun selainnya, kecuali Allāh akan menggugurkan dosanya sebagaimana pohon menggugurkan dedaunannya” (Muttafaqun ‘alaihi)

Itulah beberapa amalan harian yang merupakan sebab datangnya ampunan Allāh. Hanya saja, pada dasarnya dosa besar hanya bisa terhapus dengan bertaubat.

Tauhid kuncinya

Yang paling penting dari itu semua adalah tauhid. Tauhid adalah sebab terbesar datangnya ampunan Allāh di hari akhir nanti. Dalam sebuah hadiṭ qudsi, Allāh berfirman,

Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang menghadap-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lantas engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan sebesar dosamu itu” (HR. Tirmiḍi)

Akan tetapi, jika tauhid ini hilang atau tercampur kesyirikan, maka sebagaimana sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,

  Siapa yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, akan masuk neraka” (HR. Muslim)

Semoga Allāh Ta’ala mewafatkan kita di atas tauhid dan mengampuni dosa-dosa kita serta kaum muslimin seluruhnya. Wallāhu a’lam.

artikel http://pemudamuslim.com/nasehat/beberapa-amalan-harian-penghapus-dosa/

:: Sabar dan Shalat Sebagai Penolong ::

Image

 “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Ibnu Katsir menjelaskan satu prinsip dan kaidah dalam memahami Al-Qur’an berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat Al-Qur’an, langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya mereka yang mau dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari Kitabullah. Maka peristiwa yang diceritakan Allah Taala tentang Bani Israel, terkandung di dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Begitulah kaidah dalam setiap ayat Al-Qur’an sehingga kita bisa mengambil bagian dari setiap ayat Allah swt. “Al-Ibratu Bi’umumil Lafzhi La Bikhusus sabab” (Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami Al-Qur’an adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya”.

Perintah dalam ayat di atas sekaligus merupakan solusi agar umat secara kolektif bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Kedua hal ini merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah saw selaku uswah hasanah, telah memberi contoh yang konkrit dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Rasulullah saw apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan shalat“.

Huzaifah bin Yaman menuturkan, “Pada malam berlangsungnya perang Ahzab, saya menemui Rasulullah saw, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Bila beliau menghadapi persoalan, maka beliau akan mengerjakan shalat“. Bahkan Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan Rasulullah saw pada perang Badar, “Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami tertidur kecuali Rasulullah, beliau shalat dan berdo’a sampai pagi“.

Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan sahabat Rasulullah saw terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan shalat dua raka’at dengan melamakan duduk. Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“.

Secara khusus untuk orang-orang yang beriman, perintah menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153). Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.
Masih dalam konteks orang yang beriman, sikap sabar yang harus selalu diwujudkan adalah dalam rangka menjalankan perintah-perintah Allah Taala, karena beban berat yang ditanggungnya akan terasa ringan jika diiringi dengan sabar dan shalat. Ibnul Qayyim mengkategorikan sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah Taala termasuk sabar yang paling tinggi nilainya dibandingkan dengan sabar dalam menghadapi musibah dan persoalan hidup.

Syekh Sa’id Hawa menjelaskan dalam tafsirnya, Asas fit Tafasir kenapa sabar dan shalat sangat tepat untuk dijadikan sarana meminta pertolongan kepada Allah Taala. Beliau mengungkapkan bahwa sabar dapat mendatangkan berbagai kebaikan, sedangkan shalat dapat mencegah dari berbagai perilaku keji dan munkar, disamping juga shalat dapat memberi ketenangan dan kedamaian hati. Keduanya (sabar dan shalat) digandengkan dalam kedua ayat tersebut dan tidak dipisahkan, karena sabar tidak sempurna tanpa shalat, demikian juga shalat tidak sempurna tanpa diiringi dengan kesabaran. Mengerjakan shalat dengan sempurna menuntut kesabaran dan kesabaran dapat terlihat dalam shalat seseorang.

Lebih rinci, syekh Sa’id Hawa menjelaskan sarana lain yang terkait dengan sabar dan shalat yang bisa dijadikan penolong. Puasa termasuk ke dalam perintah meminta tolong dengan kesabaran karena puasa adalah separuh dari kesabaran. Sedangkan membaca Al-Fatihah dan doa termasuk ke dalam perintah untuk meminta tolong dengan shalat karena Al-Fatihah itu merupakan bagian dari shalat, begitu juga dengan do’a.
Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“. Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan dan petunjuk-Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga shalat yang berkualitas. Disinilah shalat merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada Allah.

Esensi sabar menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dapat dilihat dari dua hal: Pertama, sabar karena Allah atas apa yang disenangi-Nya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga. Kedua, sabar karena Allah atas apa yang dibenci-Nya, walaupun hal itu bertentangan keinginan hawa nafsu. Siapa yang bersikap seperti ini, maka ia termasuk orang yang sabar yang Insya Allah akan mendapat tempat terhormat.

Betapa kita sangat membutuhkan limpahan pertolongan Allah dalam setiap aktivitas dan persoalan kehidupan kita. Adalah sangat tepat jika secara bersama-sama kita bisa mengamalkan petunjuk Allah dalam ayat di atas agar permohonan kita untuk mendapatkan pertolongan-Nya segera terealisir. Aamiiin

sumber http://m.dakwatuna.com/2006/12/21/13/menjadikan-sabar-dan-shalat-sebagai-penolong/

:: Bersegeralah Bertaubat ::

Bertaubat dari dosa wajib dilakukan secara langsung, seketika itu pula dan tidak boleh ditunda-tunda. Siapa yang menundanya, berarti dia telah durhaka karena penundaannya itu. Apabila dia bertaubat dari dosa itu, maka dia harus bertaubat lagi, yaitu dari penundaan taubatnya. Yang seperti ini jarang disadari orang yang bertaubat. Biasanya, jika dia sudah bertaubat dari dosa tersebut, maka dia menganggap tidak perlu lagi bertaubat. Padahal masih ada taubat yang menyisa karena penundaan taubatnya. Tidak ada yang menyelamatkan hal ini kecuali taubat yang bersifat umum, yaitu taubat dari dosa-dosa yang diketahui maupun yang tidak diketahui.

Sebab dosa dan kesalahan-kesalahan yang tidak diketahui hamba justru lebih banyak dari yang diketahuinya. Karena dia tidak mengetahuinya, bukan berarti dia terbebas dari hukuman, kalau memang sebenarnya memungkinkan baginya untuk mengetahuinya. Dengan begitu dia telah durhaka karena tidak ingin mengetahui dan tidak ber-amal, sehingga kedurhakaannya semakin berlipat.

Di dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda, “Syirik di dalam umatku ini lebih tersembunyi daripada rangkakan semut.”

Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara untuk menyelamatkan diri darinya?”

Beliau menjawab, “Hendaklah engkau mengucapkan, “Allahumma inni a’udzubika an asyraka bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka lima laa a’lamu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedang aku tidak mengetahuinya, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kuketahui.”

Dalam sebuah hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, disebutkan bahwa beliau berdoa dalam shalatnya,

“Allahummaghfirli khathiati wa jahili wa israfi fi amri wama anta a’lamu biha mani. Allahummaghfirli jadi wa hazli wa khatha-i wa amdi wa kala dzalika andi. Allahummaghfirli ma qadamati wama akharati wama asrarati wama a’lanati wama anta a’lamu biha mani anta ilahi la ilaha illa anta.”

“Ya Allah, ampunilah bagiku kesalahan dan kebodohanku, berlebih-lebihanku dalam urusanku dan apa pun yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Ya Allah, ampunilah bagiku kesungguhan dan sendagurauku, kelalaian dan kesengajaanku, dan semua itu adapada diriku. Ya Allah, ampunilah bagiku apa yang telah kudahulukan dan apa yang kuakhirkan, yang kurahasiakan dan yang kutampakkan, serta apa pun yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau Ilahku yang tiada Ilah selain Engkau.”

sumber : http://www.fimadani.com/bersegera-bertaubat/

:: 8 Kemuliaan Ramadhan ::

oleh : Bapak Aus Hidayat Nur

Rasulullah saw. memberikan sambutannya menjelang Bulan Suci Ramadhan. “Wahai segenap manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung penuh berkah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa di siang harinya sebagai kewajiban, dan qiyam di malam harinya sebagai sunnah. Barangsiapa menunaikan ibadah yang difardukan, maka pekerjaan itu setara dengan orang mengerjakan 70 kewajiban.

Ramadhan merupakan bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga. Ramadhan merupakan bulan santunan, bulan yang dimana Allah melapangkan rezeki setiap hamba-Nya. Barangsiapa yang memberikan hidangan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka akan diampuni dosanya, dan dibebaskan dari belenggu neraka, serta mendapatkan pahala setimpal dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang berpuasa tersebut.” (HR Khuzaimah)

Sambutan Nabi Muhammad saw. ini merupakan teladan bagi umatnya dalam menghadapi datangnya Bulan Ramadhan. Sambutan hangat penuh kegembiraan yang Beliau sampaikan menunjukkan perlunya tarhib Ramadhan seperti khutbah Nabi ini ditradisikan kaum muslimin. Jika ada satu momen dimana kepala negara menyampaikan pidatonya tentulah momen tersebut bukan momen biasa. Itu sebuah program superpenting dengan momen paling istimewa. Demikian pula dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan keunggulan dan kemuliaan.

Dari hadits tersebut, Nabi kita menyebutkan 8 keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya, yaitu:

1.Syahrun Azhim (Bulan Yang Agung)

Azhim adalah nama dan sifat Allah Ta’ala. Namun juga digunakan untuk menunjukkan kekaguman terhadap kebesaran dan kemuliaan sesuatu. Sesuatu yang diagungkan Nabi tentulah memiliki nilai yang jauh lebih besar dan sangat mulia dengan sesuatu yang diagungkan oleh manusia biasa. Alasan mengagungkan bulan Ramadhan adalah karena Allah juga mengagungkan bulan ini. Firman Allah, “Waman yu’azhim sya’iirillah fa-innahha mintaqwal quluub, barangsiapa mengagungkan syiar-syiar agama Allah, maka itu datang dari hati yang bertakwa.”

Diagungkan Allah karena pada bulan inilah Allah mewajibkan puasa sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Allah Yang Maha Pemurah Penyayang menetapkan dan mensucikan bulan ini kemudian memberikan segala kemurahan, kasih sayang, dan kemudahan bagi hamba-hamba yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya.

2.Syahrul Mubarak

Bulan ini penuh berkah, berdayaguna dan berhasil guna, bermanfaat secara maksimal. Detik demi detik di Bulan Suci ini bagaikan rangkaian berlian yang sangat berharga bagi orang beriman. Pasalnya semua perbuatan kita di saat berpuasa menjadi ibadah berpahala yang balasannya langsung dari Allah. Amal baik sekecil apapun nilainya
dilipatgandakan sehingga kita menjadi puas dalam melakukannya.

Keberkahan Ramadhan oleh Nabi kita secara garis besar dibagi 3, yaitu 10 malam periode pertama penuh rahmat Allah,  10 berikutnya diisi dengan ampunan (maghfirah), sedangkan di 10 malam terakhir merupakan pembebas manusia dari api neraka. Keberkahan yang Allah berikan ini akan optimal jika kita mengelola waktu pendekatan diri kepada Allah sebagaimana arahan Rasulullah saw.

3.Syahru Nuzulil Qur’an

Allah mengistimewakan Ramadhan sekaligus menyediakan target terbesar, yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Simaklah firman Allah dalam rangkaian ayat puasa, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan bagi petunjuk, dan furqan
(pembeda).” (Al-Baqarah: 185)

Ayat di atas menjelaskan bahwa target utama amaliyah Ramadhan membentuk insan takwa yang menjadikan Kitabullah sebagai manhajul hayat (pedoman hidup). Dapat dikatakan bahwa Ramadhan tidak dapat dipisahkan dengan Al-Qur’an. Rasulullah saw. mendapatkan wahyu pertama pada bulan Ramadhan dan di setiap bulan Ramadhan Malaikat Jibril datang sampai dua kali untuk menguji hafalan dan pemahaman Rasulullah saw. terhadap Al-Qur’an. Bagi ummat Muhammad, ada jaminan bahwa Al-Qur’an kembali nuzul ke dalam jiwa mereka manakala mengikuti program Ramadhan dengan benar.

4.Syahrus Shiyam

Pada Bulan Ramadhan dari awal hingga akhir kita menegakkan satu dari 5 rukun (tiang) Islam yang sangat penting, yaitu shaum (puasa). Kewajiban puasa sebagaimana kewajiban ibadah shalat 5 waktu.  Maka sebulan penuh seorang muslim mengkonsentrasikan diri untuk ibadah sebagaimana dia mendirikan shalat Subuh atau Maghrib yang memakan waktu beberapa menit saja. Puasa Ramadhan dilakukan tiap hari dari terbit fajar hingga terbenam matahari (Magrib). Tidak cukup menilai dari yang membatalkannya seperti makan dan minum atau berhubungan suami-istri di siang hari saja, tetapi wajib membangun akhlaqul karimah, meninggalkan perbuatan maksiat dan yang makruh (yang dibenci Allah).

5.Syahrul Qiyam

Bulan Ramadhan menggairahkan umat Islam untuk menjalankan amalan orang-orang saleh seperti sholat tahajjud dan membaca Al-Qur’an dengan benar di dalam shalat malamnya. Di Bulan Ramadhan Kitabullah mengisyaratkan bahwa untuk mendapatkan ketinggian derajatnya setiap mukmin sangat dianjurkan shalat tarawih dan witir agar di luar Ramadhan dia bisa terbiasa mengamalkan qiyamullail.

6.Syahrus Sabr (bulan sabar)

Bulan Ramadhan melatih jiwa muslim untuk senantiasa sabar tidak mengeluh dan tahan uji. Sabar adalah kekuatan jiwa dari segala bentuk kelemahan mental, spiritual dan operasional. Orang bersabar akan bersama Allah sedangkan balasan orang-orang yang sabar adalah surga.

Sabar lahir bersama dengan segala bentuk kerja besar yang beresiko seperti dalam dakwah dan jihad fi sabilillah. Ramadhan melatih muslim beramal islami dalam  berjamaah untuk meninggikan kalimat Allah.

7.Syahrul Musawwah (Bulan Santunan)

Ramadhan menjadi bulan santunan manakala orang-orang beriman sadar sepenuhnya bahwa puasanya mendidik mereka untuk memiliki empati kepada fakir miskin karena merasakan lapar dan haus sebagaimana yang mereka rasakan. Karena itu kaum muslimin selayaknya menjadi pemurah dan dermawan. Memberi dan berbagi harus menjadi watak yang ditanamkan.

Segala amal yang berkaitan dengan amwal (harta) seperti zakat fitrah sedekah, infak, wakaf, dan sebagainya, bahkan zakat harta pun sebaiknya dilakukan di bulan yang mulia ini. Memberi meskipun kecil, bernilai besar di sisi Allah. Siapa yang memberi makan minum  pada orang yang berpuasa meskipun hanya seteguk air, berpahala puasa seperti yang diperoleh orang yang berpuasa.

8.Syahrul Yuzdaadu fiihi Rizqul Mu’min

Bulan ini rezeki orang-orang beriman bertambah karena segala kemudahan dibuka oleh Allah seluas-luasnya. Para pedagang akan beruntung, orang yang jadi pegawai dapat kelebihan pendapatan dan sebagainya. Namun rezeki terbesar adalah hidayah Allah kemudian hikmah dan ilmu yang begitu mudah diperoleh di bulan mulia ini.

:: Para Pencuri Shalat ::

Image

“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam. (HR. Thabrani & Hakim)

Shalat adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh muslim yang berakal dan telah baligh. Semua Ulama baik salaf maupun khalaf sepakat akan kewajiban shalat dan menghukuminya fardhu ‘ain, kewajiban yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap individu. Shalat termasuk rukun Islam yang kedua dan wajib ditegakkan. Sebegitu wajibnya shalat sampai tidak ada rukhsah (keringanan) untuk meninggalkannya bagi seorang muslim. Kalau terlupa/tertidur kita wajib melaksanakan shalat ketika ingat. Jika tidak ada air untuk berwudhu, kita dapat menggantinya dengan tayamum. Menjaga shalat juga merupakan wasiat Rasulullah sebelum meninggal dunia. “Jagalah shalat, jagalah shalat dan hamba sahayamu”

 

Pencuri Shalat

Di era modern kini dan di tengah ketatnya persaingan dunia, baik dalam hal bisnis, ekonomi, politik dan sosial budaya, semua orang menginginkan hidup serba instan. Semua ingin dijalankan dengan cepat dan instan serta mudah. Tak terkecuali dalam hal ibadah termasuk shalat. Dengan alasan ingin mempersingkat dan mengefektifkan waktu, banyak muslim yang tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat. Hal ini telah diingatkan dengan tegas oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu dalam redaksi Thabrani dan Hakim.

“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam.”

Rasulullah menyebutnya dengan istilah “pencuri yang paling jahat” bagi muslim yang tidak menyempurnakan shalatnya. Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Kita sering marah ketika ada seseorang yang mencuri sandal kita, terlebih lagi jika kita yang menjadi para pencuri shalat karena tergesa-gesa dan tidak menyempurnakan shalat baik dalam rukuk, sujud maupun salamnya.

Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu’ anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera.” Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwasanya tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat adalah sebuah kesalahan dalam menjalankan shalat. Siapa saja yang mencuri shalat, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia di mata Allah. Lebih dahsyat lagi, orang yang mencuri shalat dianggap tidak beragama, “Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Seorang muslim harus menjaga shalatnya, karena memang amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah shalat. Untuk menghindari mencuri dalam shalat, kita perlu mengetahui salah satu rukun dalam shalat yaitu Thuma’ninah.

 – Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 1/124). Dalam bahasa bebasnya, thuma’ninah dapat diartikan slow motion, pelan-pelan, dihayati, dipahami dan dinikmati.

Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, “Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!” 

Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, “Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!”

Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, “Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!”

“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku,” tanya lelaki itu.

“Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Qur’an yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beri’tidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah benar-benar memperhatikan hal ini, sehingga dengan tegas meminta salah seorang sahabat mengulang shalatnya hingga tiga kali karena meninggalkan ketenangan atau thuma’ninah dalam shalat. Apabila meninggalkan thuma’ninah dalam shalat berarti shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah bersabda, “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud: 1/ 533)

Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkar. Wallahu a’lam bis showab.


Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2Z5D4RkE0