Doa di sepertiga akhir malam.Itu saat Allah memperhatikanmu khusus, penuh cinta

Doa di sepertiga akhir malam.Itu saat Allah memperhatikanmu khusus, penuh cinta

Advertisements

Doa Mohon Perlindungan dari Godaan Syaitan

2397

2398

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku”. (QS Al-Mu’minum 23 97:98)

Allah Swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk berdoa dengan doa yang terdapat dalam ayat ini, “Ya Tuhanku, seandainya Engkau hendak memperlihatkan kepadaku apa (azab) yang diancamkan kepada mereka,” yakni Engkau menimpakan hukuman /azab dan aku menyaksikannya/berada di sana, janganlah Engkau jadikan aku bagian dari mereka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dan jika Engkau hendak menimpakan azab pada suatu kaum dan aku berada di antara mereka). Maka matikanlah aku dengan tidak tertimpa azab-Mu.” (Ahmad, V: 243, Tuhfatul Ahwadzi, IX:108). (QS Al-Mu’minun, 23:93)

Dalam ayat ini terdapat doa mohon perlindungan dari bisikan setan dan kedatangan mereka. Doa ini diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. untuk berlindung dari (keburukan) setan yang sama sekali tidak memberikan kebaikan dan tidak tunduk pada kebenaran. Rasulullah saw. bersabda, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi mengetahui dari setan yang terkutuk; dari godaan, bisikan, ataupun tiupan (keburukan)nya. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku,” yaitu dalam segala hal yang menjadi urusanku.” (Abu Dawud, I: 490)

Allah Swt. memerintahkan (umat-nya) untuk selalu mengingat-Nya (berdoa) dalam segala kondisi, di awal setiap pekerjaan, yang berfungsi untuk mengusir/menjauhkan diri dari setan, baik ketika makan, menyembelih, maupun dalam perkara lainnya. (Al-Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Katsir, 1999, 737-736)

(Dikutip dari Al-Qur’an Miracle the Reference)

sumber http://syaamilquran.com/doa-mohon-perlindungan-dari-bisikan-setan.html

3 Amalan Harian Muslim Sejati

Oleh : Abu Mushlih ARi Wahyudi

 

Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim… Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.

Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya…

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya…, Allahumma amin.

[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya…” (QS. al-Ahzab: 41). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.” (HR. al-Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita tabaraka wa ta’ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, ‘Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[3] Mohon ampunlah kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” (QS. al-Anfal: 33). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,… perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian… Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya…

Sumber:
Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr

http://muslim.or.id/doa-dan-zikir/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html

:: DOA 4000 TAHUN ::

“Ya RasulaLlah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘alaihissalam..”

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.

“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaqksana.” (QS Al Baqarah [2]: 129)

“Kata adalah sepotong hati”, ujar Abul Hasan ‘Ali An Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan tadharru’ dan khufyah; dengan berrendah-rendah mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar Rahman itu, doanya mencekamkan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-turunnya, tapi semesta; membacakan ayatNya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.

Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintaipun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan. Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugrahkanNya.

Dalam syukur pada 2 orang yang disebut ‘Uswatun Hasanah’ itu, kita teringat shalawat yang diajarkan Muhammad ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam dengan rendah hati; mengenang bapak para Nabi yang atas doanyalah beliau diutus. Maka tiap kebaikan yang dipancarkan Muhammad hingga hari kiamat, Ibrahim memegang sahamnya.

Dan kita yang rindu pada Sang Nabi untuk disambut di telaganya, diberi minum dengan tangannya, dinaungi bersamanya, dan beroleh syafa’atnya; mari tak bosan membaca, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala Ali Muhammad; kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Ali Ibrahim..”

sepenuh cinta {dimuat dalam UMMI edisi Juni 2013}

http://www.ummi-online.com/berita-813-doa-empat-ribu-tahun.html

Doa Berlindung dari Fitnah Dunia

 Oleh: Badrul Tamam

اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأعُوذُ بِكَ أنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ

“ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MINAL BUKHLI WA A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI WA A’UUDZU BIKA MIN AN URADDA ILAA ARDALIL ‘UMURI WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUNYA WA ADZAABIL QABRI

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.”

Sumber Doa

Diriwayatkan dari Amru bin Maimun al-Adawi dan Mus’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwasanya Sa’ad mengajarkan kepada putra-putranya beberapa kalimat doa sebagaimana seorang guru mengajari menulis kepada anak kecil. Beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berlindung dari lima perkara di penghujung shalatnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.” (HR. Al-Bukhari, Al-Tirmidzi, al-Nasai, dan Ahmad)

Kapan Dibacanya?

Doa di atas termasuk salah satu dari pilihan doa di penghujung shalat, yakni sebelum salam. Tepatnya sesudah membaca tasyahhud dan shalawat Nabi. Ini ditunjukkan oleh kalimat yang disampaikan perawi hadits, Sa’d bin Abi Waqqash,

وَيَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ

. .  dan ia (Sa’d) berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berlindung darinya (lima perkara) di penghujung shalatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Sebagaimana yang sudah maklum, waktu sebelum salam dalam shalat termasuk waktu mustajab untuk dikabulkannya doa. Karenanya dianjurkan memperbanyak doa padanya sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو

“Kemudian ia memilih doa yang disukainya lalu berdoa dengannya.” (HR. Al-Bukhari)

Ada beberapa doa ma’tsur dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk dibaca di tempat ini, antara lain:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ , وَمِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ , وَمِنْ فِتْنَةِ اَلْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ , وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اَلْمَسِيحِ اَلدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Masih Dajjal.” (Muttafaq ‘alaih)

اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْت نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا ، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِك وَارْحَمْنِي ، إنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ya Allah, Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmati aku. Sesungguhnya Engkau Dzat Maha pengampun lagi Penyayang.” (Muttafaq ‘Alaih)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, Bantu aku untuk berzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Nasai dengan sanad kuat)

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Penjelasan Global

Doa di atas  berisikan perlindungan dari lima perkara buruk yang menghancurkan. Di mana jika ada dalam diri manusia ia akan menjadi manusia hina dan merugi. Kelima perkara tersebut;

Pertama, al-Bukhli; yaitu pelit yang merupakan lawan dari dermawan. Inilah penyebab seseorang tidak menunaikan kewajiban dalam harta seperti zakat, membantu orang susah, menyokong kebutuhan dakwah dan jihad, serta lainnya.

Kedua, Al-Jubni, yakni pengecut. Lawannya Saja’ah (berani). Orang yang terjangkiti penyakit Jubun akan takut kepada resiko dalam melaksanakan kebaikan sehingga ia meninggalkan perbuatan baik tersebut. Akibatnya, banyak kewajiban-kewajiban agama yang akan ditinggalkan. Misalnya: jihad fi sabililla, menyampaikan dan membela kebenaran, mengingkari tindakan munkar, membela orang teraniaya, menghentikan tindakan kejahatan, dan selainnya.

Ketiga, Arzdal al-Umr (pikun) adalah puncat dari umur tua. Pada kondisi ini, seseorang akan menjadi seperti anak-anak dalam cara berpikir dan menyikapi masalah. Kekuatan fisik dan akannya sudah sangat menurun, sehingga keberadaannya menjadi beban bagi yang lain.

Keempat, Fitnah dunia, yakni terfitnah dengan dunia sehingga menuruti syahwat duniawi dan tertipu olehnya. Akibatnya, ia lupa akhirat. Masuk dalam hal ini adalah berlindung dari berbagai fitnah yang menghancurkan dien dan akhiratnya saat masih hidup di dunia.

Kelima, Adzab Kubur, yakni kengerian dan siksa yang diperolehnya saat ditanya oleh dua Malaikat setelah dikuburkan. Ia berlindung dari menyaksikan amal-amal buruknya dalam rupa makhluk yang sangat menyeramkan. Ia berlindung dari himpitan kubur yang mematahkan tulang belulang, serta berbagai macam siksa di dalamnya.

Penjelasan Khusus

Fitnah dunia tidak kalah bahayanya dari perkara-perkara yang disebutkan di atas. Banyak orang menjadi korbannya. Tidak hanya kalangan awam saja. Para ulama dan aktifis Islam tidak sedikit yang tergelincir karenanya. Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Pikiran, cita-cita, harapan, dan segala perbuatannya hanya untuk dunia. Akibatnya, ia lalai dari tujuan penciptaannya, yakni ibadah. Ia lalai dari menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Ia hidup seperti binatang. Hanya menikmati kelezatannya dan menurutkan syahwatnya. Ia tak peduli halal dan haram dalam memperolehnya. Ia tak pernah peduli kemana dan untuk apa ia habiskan dunianya. Sehingga hidupnya hanya mengumpulkan bekal menuju kesengsaraan dan siksa pedih di ahirat.

Oleh sebab bahayanya yang dahsyat, Allah dan Rasul-Nya berulang-ulang memberi peringatan terhadap fitnah dunia. Baik peringatan secara langsung, memberikan permisalan tentangnya, dan menceritakan umat-umat terdahulu tersesat karenanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman agar tidak tertipu dengan kehidupan dunia,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperingatkan dunia dengan memberikan permisalan tentangnya,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagaimana air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Allah mangabarkan umat yang tersesat karena dunia, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf: 175-176)

Penutup

Di kehidupan zaman yang sudah tua. Kiamat juga semakin dekat. Dunia dibukakan untuk manusia selebar-lebarnya. Berbagai ilmu pengatahuan dan teknologi serta fasilitas kehidupan sudah sebegitu canggih. Kehidupan mewah dipamerkan di hadapan setiap saat. Akibatnya, Menggenggam kekayaan dan kemewahan dunia menjadi cita-cita banyak orang. Mereka berlomba-lomba menumpuk harta dan menikmatinya. Mereka merasa bahwa harta benda itu akan mengekalkan mereka. Sehingga akhirat bagi dia hanya tinggal dongeng semata. Tidak benar-benar diimani dan yakini keberadaannya.

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”.” (QS. Al-An’am: 29)

Maka kita lihat, kasus-kasus korupsi yang mejerat elit-elit politik dan penguasa dinegeri kita tidak lepas dari fitnah dunia. Bahkan tidak hanya menyerang orang-orang yang jauh dari ilmu agama. Para ustadz dan kiainya juga ikut terjeras fitnah dunia.

Kasus terorisasi aktifis Islam sehingga darah orang-orang shalih dihargai murah, tidak lain dibelakangnya ada kepentingan dunia. Mendapat hadiah malimpah, bantuan dikucurkan dengan deras, atau sebagai promosi kenaikan pangkat/jabatan.

Oleh sebab itu, doa perlindungan di atas sangat penting untuk dibaca. Agar kita tidak tertipu dengan dunia dan larut dalam fitnahnya. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

link >> http://www.voa-islam.com/islamia/doa/2013/05/28/24827/doa-berlindung-dari-fitnah-dunia/