Tips Amalan Menggapai Pertolongan ALLAH (2)

Hikmah Dibalik Musibah

1. Mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR Bukhari)

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan pahala tak terhingga di akhirat
Rasulullah saw bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dalam hadis lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

3. Ukuran kesabaran seorang hamba
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barangsiapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Meningkatkan tauhid dan menautkan hati kepada Allah
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apa bila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushilat [41]: 51
Nabi Ayyub ‘Alaihissalam berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS al-Anbiyaa [21]:83).

5. Meningkatkan berbagai ibadah yang menyertainya
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Lalu apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata,

8. Memberi tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al-Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, ‘Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal saleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian dengan-Ku.” (HR Ahmad ).

10. Mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan kesehatan.Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya. Jika tertimpa kefakiran, maka pasti ada yang lebih fakir lagi.

sumber asli sila klik di sini

Advertisements

Tips Amalan Menggapai Pertolongan Allah (1)

HAKIKAT MUSIBAH

1.Musibah sudah ditakdirkan Allah.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadiid [57]: 22-23).

2. Setiap muslim akan mendapat ujian.

“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyap nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2).

3. Musibah adalah kebaikan dari Allah
Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka didahulukannya siksaan-Nya di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya maka ditangguhkan siksaan itu karena dosa-dosanya, dan siksaan itu akan dirasakannya kelak pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan akan diuji oleh-NYA dengan suatu musibah.” (HR. Bukhari).

4. Musibah akibat kesalahan diri.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura [42]: 30)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana, besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.” (HR Tirmidzi).

5. Setiap musibah ada akhirnya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah [94]: 5-6)

Sikap Manusia terhadap Musibah

Syaikh Muhammad bin Shalihal-Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan:

Tingkatan pertama: Lemah (marah dengan lisan dan perbuatan).

Tingkatan kedua: Bersabar.“…bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal [8]: 46).

Tingkatan ketiga: Merasa ridha ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya.

Tingkatan keempat: Bersyukur. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.” (HR.Bukhari & Muslim)

sumber asli sila klik di sini