:: Kapal Besar TAWAKKAL ::

Image

oleh: Moh. Sofwan Abbas

Selain sebagai cahaya, keimanan juga merupakan kekuatan. Seorang manusia yang berhasil mendapatkan keimanan yang hakiki akan dapat menantang seluruh makhluk selainnya, dan akan berhasil keluar dari sempitnya kehidupan yang penuh dengan musibah. Itu semua dilakukan dengan meminta kekuatan dari keimanan. Hingga dia pun dapat berlayar dengan bahtera kehidupan, mengarungi ombak-ombak peristiwa yang kadang dapat memukul dengan begitu keras.

Dia berhasil melakukan itu semua dengan selamat dan hati tenang, seraya berucap: “Aku bertawakkal kepada Allah SWT.” Seluruh beban hidup diyakininya sebagai amanah yang kemudian diserahkan kepada Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Hingga dia pun dapat melampaui perjalanan hidup ini dengan tenang, tanpa keresahan yang berarti, sampai memasuki alam barzakh untuk kemudian beristirahat. Dari tempat peristirahatan ini, dia dapat terbang menuju surga yang penuh dengan kebahagiaan yang abadi.

Namun jika manusia tidak mau bertawakkal kepada Allah, dia tidak akan dapat terbang mengangkasa ke surga, bahkan beban yang ada di dirinya akan menariknya turun ke derajat yang paling rendah.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwasanya keimanan itu meniscayakan adanya tauhid atau pengesaan. Lalu pengesaan itu akan membawa kepada penyerahan diri. Selanjutnya, penyerahan diri ini akan mewujudkan penggantungan harapan (tawakkal). Dan terakhir, penggantungan harapan ini akan memudahkan jalan menuju kebahagiaan akhirat. Janganlah kita mengira bahwa tawakkal adalah sebuah penolakan terhadap usaha manusia. Penolakan yang penuh. Tapi, tawakkal adalah sesuatu yang menggambarkan keyakinan kita bahwa usaha adalah hijab-hijab yang berada di tangan Allah SWT. Oleh karena itu, harus dijaga, dipelihara, dan diikuti. Melaksanakan dan mengambil manfaat darinya, tidak lain adalah sebuah doa yang nyata. Sedangkan pengharapan hasil usaha hanyalah boleh dialamatkan kepada Allah SWT. Pujian dan terima kasih hanyalah boleh diberikan kepadaNya saja.

Berikut ini kita akan mengambil sebuah permisalan. Orang yang bertawakkal dan orang tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban di atas pundaknya. Mereka berdua kemudian membeli tiket untuk naik kapal laut. Orang yang pertama, begitu sampai di atas kapal meletakkan bebannya dari atas pundak dan diletakkannya di lantai kapal. Sedangkan seorang yang lain, karena kedunguan dan kebodohannya, walau dia sudah naik di atas kapal, dia tetap tidak meletakkan beban di pundaknya.

Ketika ada yang berkata kepadanya, “Hai Fulan, letakkanlah beban itu dari atas pundakmu, supaya engkau dapat beristirahat.” Dia malah menjawab nasihat itu dengan berkata, “Oh, tidak akan kulakukan nasihatmu itu. Aku takut kehilangan barang bawaanku ini. Aku juga kuat untuk terus membawanya. Akau akan tetap menjaganya di atas kepala dan pundakku.”

Maka ada yang berkata lagi kepadanya, “Wahai saudaraku, akan tetapi kapal yang sedang kita naiki dan membawa kita semua ini jauh lebih kuat dari diri kita semua. Kapal ini dapat menjaga kita dan barang-barang kita secara lebih baik ketimbang kita. Janganlah kau tetap dalam pendapatmu. Jangan-jangan engkau nanti akan pingsan hingga kau dan barang-barangmu terlempar ke dalam laut.

Kulihat kekuatanmu juga sedikit demi sedikit berkurang. Lihatlah pundakmu begitu kurus, tidak akan dapat lama membawa berat beban yang ada di atasnya. Karena beban itu semakin lama akan semakin terasa berat.

Jika nahkoda kapal ini melihatmu dalam keadaan seperti ini, tentu dia akan mengiramu sedang kerasukan setan, atau sedang pingsan. Dan tentu dia tidak akan mau kapalnya dinaiki oleh orang yang sedang terkena setan dan pingsan. Lalu dia akan mengusirmu dari kapal ini. Atau, kalau tidak, dia akan meminta polisi untuk menangkapmu dan memasukkanmu ke dalam penjara. Dia akan berkata kepada para polisi, “Ini seorang pengkhianat. Dia telah menuduh jelek kapalku, dan menghina kita.”

Saat itu engkau akan menjadi bahan tertawaan orang-orang. Karena engkau ini sebenarnya sedang menutupi kelemahanmu, tapi engkau tampakkan kesombongan. Engkau ini merasa kuat, padahal sangat lemah. Engkau ini berlaku sedemikian, tapi di dalam hatimu ada keinginan untuk dipuji orang. Dengan demikian, engkau sendiri yang telah menjadikan dirimu sebagai bahan ejekan dan tertawaan orang lain. Lihatlah, orang-orang itu sedang menertawakanmu dan menganggap dirimu ini bodoh.”

Setelah mendengar semua nasihat yang panjang dan mengena ini, akhirnya orang yang terus membawa barang di pundaknya itu tersadar dan kemudian meletakkan barangnya di lantai. Dia pun akhirnya dapat duduk dan istirahat. Dia pun berkata, “Segala puji bagi Allah, semoga Allah meridhaimu saudaraku. Terima kasih, engkau telah menyelamatkanku dari rasa letih dan kehinaan, menyelamatkanku dari penjara dan ejekan.”

Dari kisah di atas, maka dinasihatkan kepada orang-orang yang masih jauh dari sikap tawakkal kepada Allah SWT, segeralah engkau sadar dari kesalahanmu. Kembalilah kepada otak warasmu. Seperti orang di atas kapal itu. Bertawakallah kepada Allah SWT, agar engkau selamat dari sikap membutuhkan dan meminta-minta kepada makhluk. Agar engkau juga selamat dari rasa takut dan gentar kepada kejadian-kejadian yang engkau anggap sebagai sebuah musibah. Dan agar engkau menyelamatkan dirimu sendiri dari riya’, ejekan, kesengsaraan abadi, dan dari beratnya ikatan dunia. (msa/dakwatuna)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s