:: Keikhlasan KIta – Perbaharui Selalu ::

Ia baru saja melangkah dari pintu rumahnya dalam gulita malam dan dinginnya udara, ketika tiba-tiba seorang pengemis yang menggigil menghampiri. Tanpa pikir panjang, ia berikan mantel lusuh yang dipakainya kepada si pengemis. Lalu, ia kembali ke rumah, mengambil mantel barunya, dan bergegas menuju masjid Rasulullah saw.

Saat ajal menjelang, sanak kerabatnya kebingungan mendengar teriakannya, “Kalaulah yang baru itu… kalaulah yang baru itu….”  Karena sulit memahaminya, mereka menemui Rasulullah. Beliau saw melihatnya, lalu tersenyum bahagia sambil berkata, “Allah swt sedang memperlihatkan amal terbaiknya.”

Rasulullah pun menceritakan peristiwa di malam itu dan mengatakan, amal terbaik sahabatnya ini ialah saat ia memberikan mantel lusuhnya kepada si pengemis yang kedinginan. Ketika Allah memperlihatkan amal terbaiknya, sahabat tersebut menyesal mengapa bukan mantel baru yang ia berikan.

Sahabat, kisah di atas menggambarkan bahwa amal terbaik di sisi Allah adalah yang dilakukan penuh keikhlasan. Siapa yang meragukan keikhlasan dalam amal sahabat Rasulullah tersebut? Secara spontan ia memberikan mantelnya, padahal malam begitu dingin dan gelap gulita, tanpa dilihat siapa pun.

Betapa pentingnya peran ikhlas dalam amal sehingga Rasulullah bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama, cukup bagimu amal yang sedikit.”

Lantas, apa itu ikhlas? Menurut bahasa, ikhlas berarti bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih, tidak kotor. Sedang menurut istilah, ikhlas bermakna niat mengharap ridha Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya (mengharap ridha dari yang lain)—memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak niat dan amalnya.

Tak mudah menjaga keikhlasan dalam amal. Niat ikhlas di awal amal tak dijamin akan terus terjaga sampai akhir. Karenanya, Dr Yusuf Al-Qardhawi mengatakan, niat ikhlas harus senantiasa diperbarui. Tak cukup hanya niat ikhlas di awal, tapi perlu diperbarui di tengah dan akhir amal.

Memperbarui keikhlasan dapat dicapai melalui pembiasaan, dengan selalu beramal dan bersungguh-sungguh di dalamnya, secara sendiri atau bersama-sama, baik amal itu mendatangkan pujian maupun celaan.

Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bersemangat dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang semangatnya jika dicela.”

Memperbarui keikhlasan juga membantu kita mengingat Allah. Sebab, setiap kali ikhlas ada dalam hati, saat itu kita akan teringat kepada-Nya.

Sahabat, semoga kita termasuk orang yang selalu memperbarui keikhlasan.

http://www.ummi-online.com/berita-766-keikhlasan-kita.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s