Bahkan IA masuk ke jantung kita….

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Image

Ia ibarat jantung bagi tubuh kita. Tampak kecil, tapi ia mempengaruhi seluruh aliran darah di tubuh kita. Sehat sakitnya kita sangat dipengaruhi, sekaligus amat berpengaruh terhadap jantung kita. Seperti itu pula ibadah kita, sehat sakitnya nilai ibadah itu akan sangat mempengaruhi jantung ibadah kita. Ia adalah do’a. Inilah intisari ‘ibadah kita. Apa pun yang kita kerjakan dalam ‘ibadah, sesungguhnya ia adalah do’a.

Marilah kita ingat sejenak tatkala Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Do’a itu adalah saripati (jantung) ‘ibadah.” (HR. At-Tirmidzi).

Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang memohon dengan sepenuh pinta kepada-Nya. Allah Ta’ala menyukai do’a yang kita panjatkan dengan sepenuh kesungguhan, keyakinan, harap dan takut kepada-Nya. Kita meminta dengan merendahkan diri, mengkhawatiri salah dan dosa kita menjadi penghalang terkabulnya do’a, menangisi khilaf dan durhaka kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Di antara tanda bagusnya iman seseorang adalah semakin kuatnya ia bersandar kepada Allah Ta’ala. Ia meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla apa-apa yang menjadi keinginannya. Bahkan tatkala ia merasa sedang tidak memiliki suatu untuk diharapkan, ia tetap bersungguh-sungguh menghadapkan wajahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memohon sepenuh kesungguhan bersebab amat takut kalau termasuk golongan orang-orang yang menyombongkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Ia menetapi apa yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin, 40: 60).

Mintalah apa pun kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selama itu merupakan kebaikan. Berharaplah hanya kepada Allah Ta’ala karena sangat yakin dengan nama dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa serta tidak memerlukan sekutu bagi-Nya. Yakini sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya (إن الله لا يخلف الميعاد) jika Ia berjanji. Maka mohonlah dengan sepenuh yakin kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata karena yakin dengan asma wa sifat Allah subhanahu wa ta’ala, serta untuk memenuhi seruan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Kita berdo’a dengan penuh harap bukan karena mengandalkan amal. Bukan. Apalagi sampai menukar pahala amal, padahal amal kita belum tentu diterima. Lebih-lebih jika kita beramal memang semenjak awal telah meniatkan untuk meraih dunia, semisal kita bersemangat bersedekah karena sedang mengharap dunia. Khawatirilah jika ini termasuk sebagian dari tanda-tanda zaman fitnah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: الْتُمِسَتِالدُّنْيَابِعَمَلِالآخِرَةِ (memburu mengejar dunia dengan amalan akhirat).

Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla apa pun yang engkau inginkan selama itu bukan termasuk perkara yang buruk, sejauh itu bukan keburukan bagimu. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai doa kalian bertepatan dengan saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Dia akan mengabulkan doa kalian.”  (HR. Muslim).

Maka sebelum engkau meminta, bertanyalah apakah ia merupakan kebaikan bagimu di dunia dan akhirat. Sesungguhnya apa yang menggiurkan dari dunia ini menarik hati, terlebih ketika fitnah syahwat menimpa kita dan kecintaan terhadap dunia begitu memenuhi dada. Sesungguhnya dunia dapat menjadi bekal untuk melakukan amal shalih. Tetapi jujurlah, ketika engkau berhasrat memintanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, apakah hatimu sedang dipenuhi kerinduan terhadap amal ataukah disesaki oleh impian terhadap gemerlap dunia dan keinginan untuk memiliki benda-benda yang wah. Maka, bertanyalah kepada dirimu sendiri, adakah yang engkau minta itu merupakan kebaikan bagimu ataukah justru keburukan yang amat besar, tetapi tak tampak di mata kita saat ini bersebab tertutupnya mata hati kita?

Maka, kita memohon kepada Allah Ta’ala penjagaan dan perlindungan dari tertipu oleh angan-angan serta persepsi diri sendiri. Kita memohon perlindungan dari kelirunya menilai. Sebab dunia ini bukan tergantung cara kita menilai. Bukan tergantung persepsi kita. Justru sebaliknya, agama kita menuntunkan untuk memohon perlindungan dari persepsi yang menyimpang dari hakekat apa yang kita sangkakan.

Ingatlah do’a ini:

“Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan berikan rezeki kepada kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Inilah do’a untuk memohon kepada Allah Ta’ala penjagaan dari mempersepsi kebatilan sebagai kebenaran. Inilah do’a untuk memohon perlindungan Allah Ta’ala dari kelirunya persepsi sehingga memandang benar apa yang sebenarnya bathil. Inilah do’a yang memohon petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak menganggap bathil apa yang sesungguhnya haq, hanya manusia telah banyak yang menyelisihi kebenaran itu, bahkan di antara orang-orang shalih maupun orang-orang yang tampak shalih.

Do’a itu saripati ‘ibadah. Jantungnya ‘ibadah. Otaknya ‘ibadah. Maka menata diri dalam berdo’a merupakan bagian dari memperbaiki ‘ibadah kita, bahkan pada jantungnya. Buruknya ucapan dalam berdo’a mencerminkan keadaan iman kita yang perlu ditangisi. Sebaliknya, menata ucapan dan berhati-hati dalam mengajukan permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga adab di hadapan Allah Ta’ala sekaligus upaya memperbaiki iman.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sesungguhnya dalam do’a terkandung tauhid. Sebaik-baik do’a adalah yang di dalamnya terdapat kepasrahan kepada Allah Ta’ala, sikap tadharru’ (merendahkan diri) di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, tawakkal, yaqin yang sebenar-benar yaqin dan tidak mengandung kedurhakaan (apalagi kesyirikan). Maka, hendaklah kita memahami apa saja yang dapat merusak tauhid, justru di saat berdo’a, dengan mengingat kembali cabang-cabang tauhid.

Kita berharap hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan tidak mengharap kepada selain-Nya. Tetapi itu pun tidak cukup. Meyakini Allah Ta’ala yang memberi, yang mengabulkan do’a dan tidak akan terjadi apa pun yang kita harapkan kecuali dengan izin Allah Ta’ala merupakan bagian dari tauhid rububiyah, yakni mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan-Nya terkait penciptaan, pengaturan, penjagaan maupun penguasaan alam semesta dan segala isinya. Ini ringkasnya saja. Dan keyakinan tentang ini harus benar. Tetapi, sekali lagi, ini tidak cukup. Bukankah orang-orang kafir ahli kitab pun meyakini hal ini?

Ada hal lain yang harus kita perhatikan. Kita harus mengesakan Allah Ta’ala dalam hal ‘ibadah dengan segala konsekuensinya, yakni tidak menujukan ‘ibadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak melakukan peribadatan kecuali dengan apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dan dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, serta tidak melakukan ‘ibadah kecuali hanya mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi, bolehkah kita berharap hanya kepada Allah Ta’ala semata? Bukan hanya boleh. Bahkan harus. Meyakini hanya Allah Ta’ala yang memberi dan tidak akan terwujud apa yang kita inginkan kecuali dengan izin Allah Ta’ala, merupakan bagian dari tauhid rububiyah. Dan sekali lagi, ini tidak cukup. Persoalan yang menjadi sebab perselisihan antara para rasul dengan ummatnya adalah dalam soal tauhid uluhiyah.

Allah Ta’ala Maha Mengabulkan Do’a, Maha Pemurah, Maha Pengasih lagi Maha Mulia. Mintalah kepada Allah Ta’ala dengan meyakini sifat-sifat-Nya. Jangan merusak keyakinan dengan zhan (persangkaan yang dekat kepada keyakinan) yang buruk kepada Allah Ta’ala, seakan Allah subhanahu wa ta’ala berlambat-lambat mengabulkan do’a kecuali apabila kita lakukan untuk-Nya hal-hal yang dapat “mempercepat” do’a. Ini merupakan kerusakan pada tauhid asma’ wa sifat yang kita yakini. Menganggap agar do’a sesegera mungkin dikabulkan seseorang perlu lakukan hal-hal khusus yang tidak dituntunkan secara pasti untuk itu, maka yang demikian ini termasuk dari meyakini sifat buruk dan menisbahkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Astaghfirullahal ‘adzim.

Na’udzubillahi min dzaalik.

Janganlah begitu. Sungguh, janganlah menyamakan sifat Allah Ta’ala dengan tabiat sebagian pejabat yang minta upeti untuk mempercepat urusan kita. Jangan pula memasukkan ajaran dan ‘aqidah dari luar semisal law of attraction (hukum daya tarik) yang akarnya adalah NAM (New Age Movement) ke dalam agama ini, meski hanya untuk berdo’a. Justru yang harus kita ingat, do’a adalah intisari ‘ibadah. Ataukah kita lupa bahwa NAM merupakan paganisme baru yang fokusnya pada diri dan alam semesta?

Bersebab meyakini NAM, sebagian dari kaum muslimin terjatuh pada merinci-rinci do’a. Ini merupakan sesuatu yang tercela dan termasuk sikap sangat berlebihan dalam berdo’a. Apa yang terjadi pada masa kita ini bahkan jauh melebihi apa yang menyebabkan ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu menegur anaknya yang berdo’a, “Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan surga.”

Do’a ini dicela karena merinci-rinci. Padahal yang sempat saya dengarkan dalam beberapa majelis, sebagian kaum muslimin dengan mengambil ajaran NAM justru memerintahkan berdo’a dengan jauh lebih rinci, sedemikian rupa hingga terjatuh pada kerusakan lebih serius lainnya, yakni buruknya prasangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla seakan tak dapat memberikan yang terbaik jika kita tak merinci do’a kita seraya membayangkan dengan sejelas-jelasnya.

Terkait buruknya merinci-rinci do’a, saya memohon karunia Allah Ta’ala untuk memampukan saya menuliskan lebih lanjut di catatan facebook ini. Saya juga berharap dapat membahas tentang keharusan untuk tadharru’ serta berdo’a dengan suara lirih. Semoga ini dapat menjadi jalan kebaikan ketika di berbagai majelis ‘ilmu justru penutupnya prosesi do’a yang menyelisihi tuntunan, meski dengan nama muhasabah.

Kepada Allah Ta’ala saya memohon pertolongan.

sumber : http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/bahkan-ia-masuk-ke-jantung-kita/476038135778653

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s