..kematian hati…

Kasus korupsi Alquran beberapa waktu yang lalu membuat semua miris hati.

Belum lagi korupsi bantuan sosial, adalagi kasus pencurian pakaian dalam yang divonis lima tahun penjara, yang lebih lama dari kasus korupsi miliaran yang divonis hanya 4,5 tahun penjara.

Kemarin saya liat di media online ada hakim yang minta penari telanjang, guru yang mencabuli anak didiknya, anak yang membunuh bapaknya, penjualan organ tubuh sampai menjual bayi lewat internet. Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiun. Kemana hati nurani bangsa ini? Kita semua?

Al Ustaz Sa’id Hawwa menyebutkan dalam bukunya yang berjudul tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) penyebab langsung kematian hati adalah kehilangannya nilai-nilai spiritual dan keimanan, seperti sabar, syukur, takut kepada Allah yang semua itu merupakan keharusan demi maslahat kehidupan.

Setiap anggota tubuh diciptakan oleh Allah dengan fungsi-fungsi tertentu. Sedangkan yang disebut dengan sakitnya anggota tubuh tersebut bilamana sudah tidak dapat berfungsi dengan baik.

Artinya fungsinya tidak muncul atau tetap muncul namun disertai ketidakstabilan. Misalkan sakitnya mata ketika tidak bisa melihat, tangan ketika tidak berkemampuan memegang. Begitu pula sakitnya hati, ketika tidak berjalannya fungsi hati sesuai tujuan penciptaannya.

Yaitu menyerap ilmu, hikmah dan ma’rifah. Sebagaimana seharusnya mencintai Allah, beribadah kepadaNya, merasakan kenikmatan mengingatNya dan lebih mengutamakan itu semua daripada keinginan-keinginan lainnya. Serta meminta bantuan kepada seluruh syahwat (keinginan) dan organ tubuh untuk melaksanakan fungsi tersebut.

Bersihnya hati manusia dari noda dan penyakit merupakan sumber utama kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging,  jika itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, tapi jika itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati ibarat benteng dan syetan adalah musuh yang ingin masuk menguasainya. Manusia dapat menjaga pintu-pintunya, sebagai berikut: marah dan syahwat; dengki dan tamak; kenyang dengan makanan; suka berhias dengan pakaian, perabotan dan rumah; tamak terhadap manusia; tergesa-gesa dan tidak berhati-hati dalam berbagai perkara; dirham, dinar dan berbagai kekayaan; bakhil (pelit) dan takut miskin; fanatik terhadap mazhab dan hawa nafsu; mengajak orang awam untuk memikirkan zat dan sifat-sifat Allah; berprasangka buruk terhadap kaum muslimin.

Dan menurut Al ustadz Sa’id Hawwa itu adalah sebagian kecil pintu masuk syetan kedalam hati. Karena sebagaimana hadis,  “Sesungguhnya syetan (dapat) mengalir didalam diri anak Adam sebagaimana darah mengalir dalam jasad(nya). (HR. Bukhari dan Muslim).

Dzikir adalah obat tetapi tanpa takwa dzikir kurang dayanya. Dzikir tidak dapat meresap kedalam hati kecuali jika hati itu telah disuburkan dengan ketakwaan dan dibersihkan dari sifat-sifat tercela.

Jika tidak maka dzikir hanya merupakan bisikan jiwa yang tidak memiliki kekuatan didalam hati, sehingga tidak dapat mengusir kekuatan syetan. Sebagaimana ayat ; “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf : 201).

Puncak dzikir dan ibadah adalah shalat, sebagaimana ayat : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-‘Ankabuut : 45)

Bagaimana shalat kita, sudahkah kita khusyuk dalam shalat?. Karena setan berdesakan dalam hati ketika kita sedang shalat. Mencoba menyeret kita berkelana kepada urusan-urusan dunia. Shalat merupakan ujian bagi hati, kebaikan dan keburukan hati dapat diketahui melalui shalat.

Utsman pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Beliau bersabda: “Itulah setan yang disebut dengan ‘Khanzab’, jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta’awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali.” (HR. Ahmad).

Ibrahim bin Adham ditanya “mengapa doa kita tidak dikabulkan, padahal Allah berfirman, ‘berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku perkenankan bagimu? ’”. Ia menjawab, “karena hati kalian sudah mati”. Lalu ditanya lagi, “apa yang mematikannya?”.

Ia menjawab, “delapan hal, yaitu kalian mengetahui hak Allah tetapi tidak melaksanakannya, kalian membaca al Qur’an tetapi tidak mengamalkan hukum-hukumnya, kalian berkata, ‘kami mencintai Rasulullah SAW’, tetapi tidak mengamalkan sunnahnya, kalian berkata ‘kami takut mati’ tapi tidak mempersiapkan untuk menghadapinya, mengetahui firman Allah bahwa ‘sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS. Faathir, 35 :6) 

Namun berteman dalam hal kemaksiatan, kalian berkata ‘kami takut neraka’ tetapi mencampakkan tubuh kalian kedalamnya, kalian berkata ‘kami mencintai syurga’ tetapi tidak berusaha untuk meraihnya, dan apabila kalian berdiri dari amparan kalian, maka kalian melemparkan aib-aib kalian dibelakang punggung, lalu menggelar aib-aib orang lain didepan kalian sehingga membuat Allah murka, maka bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa kalian?’”. Na’udzubillah

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: Penggagas iHAQi
@erickyusuf

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/celoteh-kang-erick/13/04/19/mlh82m-kematian-hati

Advertisements

Bahkan IA masuk ke jantung kita….

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Image

Ia ibarat jantung bagi tubuh kita. Tampak kecil, tapi ia mempengaruhi seluruh aliran darah di tubuh kita. Sehat sakitnya kita sangat dipengaruhi, sekaligus amat berpengaruh terhadap jantung kita. Seperti itu pula ibadah kita, sehat sakitnya nilai ibadah itu akan sangat mempengaruhi jantung ibadah kita. Ia adalah do’a. Inilah intisari ‘ibadah kita. Apa pun yang kita kerjakan dalam ‘ibadah, sesungguhnya ia adalah do’a.

Marilah kita ingat sejenak tatkala Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Do’a itu adalah saripati (jantung) ‘ibadah.” (HR. At-Tirmidzi).

Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang memohon dengan sepenuh pinta kepada-Nya. Allah Ta’ala menyukai do’a yang kita panjatkan dengan sepenuh kesungguhan, keyakinan, harap dan takut kepada-Nya. Kita meminta dengan merendahkan diri, mengkhawatiri salah dan dosa kita menjadi penghalang terkabulnya do’a, menangisi khilaf dan durhaka kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Di antara tanda bagusnya iman seseorang adalah semakin kuatnya ia bersandar kepada Allah Ta’ala. Ia meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla apa-apa yang menjadi keinginannya. Bahkan tatkala ia merasa sedang tidak memiliki suatu untuk diharapkan, ia tetap bersungguh-sungguh menghadapkan wajahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memohon sepenuh kesungguhan bersebab amat takut kalau termasuk golongan orang-orang yang menyombongkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Ia menetapi apa yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin, 40: 60).

Mintalah apa pun kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selama itu merupakan kebaikan. Berharaplah hanya kepada Allah Ta’ala karena sangat yakin dengan nama dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa serta tidak memerlukan sekutu bagi-Nya. Yakini sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya (إن الله لا يخلف الميعاد) jika Ia berjanji. Maka mohonlah dengan sepenuh yakin kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata karena yakin dengan asma wa sifat Allah subhanahu wa ta’ala, serta untuk memenuhi seruan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Kita berdo’a dengan penuh harap bukan karena mengandalkan amal. Bukan. Apalagi sampai menukar pahala amal, padahal amal kita belum tentu diterima. Lebih-lebih jika kita beramal memang semenjak awal telah meniatkan untuk meraih dunia, semisal kita bersemangat bersedekah karena sedang mengharap dunia. Khawatirilah jika ini termasuk sebagian dari tanda-tanda zaman fitnah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: الْتُمِسَتِالدُّنْيَابِعَمَلِالآخِرَةِ (memburu mengejar dunia dengan amalan akhirat).

Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla apa pun yang engkau inginkan selama itu bukan termasuk perkara yang buruk, sejauh itu bukan keburukan bagimu. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai doa kalian bertepatan dengan saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Dia akan mengabulkan doa kalian.”  (HR. Muslim).

Maka sebelum engkau meminta, bertanyalah apakah ia merupakan kebaikan bagimu di dunia dan akhirat. Sesungguhnya apa yang menggiurkan dari dunia ini menarik hati, terlebih ketika fitnah syahwat menimpa kita dan kecintaan terhadap dunia begitu memenuhi dada. Sesungguhnya dunia dapat menjadi bekal untuk melakukan amal shalih. Tetapi jujurlah, ketika engkau berhasrat memintanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, apakah hatimu sedang dipenuhi kerinduan terhadap amal ataukah disesaki oleh impian terhadap gemerlap dunia dan keinginan untuk memiliki benda-benda yang wah. Maka, bertanyalah kepada dirimu sendiri, adakah yang engkau minta itu merupakan kebaikan bagimu ataukah justru keburukan yang amat besar, tetapi tak tampak di mata kita saat ini bersebab tertutupnya mata hati kita?

Maka, kita memohon kepada Allah Ta’ala penjagaan dan perlindungan dari tertipu oleh angan-angan serta persepsi diri sendiri. Kita memohon perlindungan dari kelirunya menilai. Sebab dunia ini bukan tergantung cara kita menilai. Bukan tergantung persepsi kita. Justru sebaliknya, agama kita menuntunkan untuk memohon perlindungan dari persepsi yang menyimpang dari hakekat apa yang kita sangkakan.

Ingatlah do’a ini:

“Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan berikan rezeki kepada kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Inilah do’a untuk memohon kepada Allah Ta’ala penjagaan dari mempersepsi kebatilan sebagai kebenaran. Inilah do’a untuk memohon perlindungan Allah Ta’ala dari kelirunya persepsi sehingga memandang benar apa yang sebenarnya bathil. Inilah do’a yang memohon petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak menganggap bathil apa yang sesungguhnya haq, hanya manusia telah banyak yang menyelisihi kebenaran itu, bahkan di antara orang-orang shalih maupun orang-orang yang tampak shalih.

Do’a itu saripati ‘ibadah. Jantungnya ‘ibadah. Otaknya ‘ibadah. Maka menata diri dalam berdo’a merupakan bagian dari memperbaiki ‘ibadah kita, bahkan pada jantungnya. Buruknya ucapan dalam berdo’a mencerminkan keadaan iman kita yang perlu ditangisi. Sebaliknya, menata ucapan dan berhati-hati dalam mengajukan permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga adab di hadapan Allah Ta’ala sekaligus upaya memperbaiki iman.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sesungguhnya dalam do’a terkandung tauhid. Sebaik-baik do’a adalah yang di dalamnya terdapat kepasrahan kepada Allah Ta’ala, sikap tadharru’ (merendahkan diri) di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, tawakkal, yaqin yang sebenar-benar yaqin dan tidak mengandung kedurhakaan (apalagi kesyirikan). Maka, hendaklah kita memahami apa saja yang dapat merusak tauhid, justru di saat berdo’a, dengan mengingat kembali cabang-cabang tauhid.

Kita berharap hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan tidak mengharap kepada selain-Nya. Tetapi itu pun tidak cukup. Meyakini Allah Ta’ala yang memberi, yang mengabulkan do’a dan tidak akan terjadi apa pun yang kita harapkan kecuali dengan izin Allah Ta’ala merupakan bagian dari tauhid rububiyah, yakni mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan-Nya terkait penciptaan, pengaturan, penjagaan maupun penguasaan alam semesta dan segala isinya. Ini ringkasnya saja. Dan keyakinan tentang ini harus benar. Tetapi, sekali lagi, ini tidak cukup. Bukankah orang-orang kafir ahli kitab pun meyakini hal ini?

Ada hal lain yang harus kita perhatikan. Kita harus mengesakan Allah Ta’ala dalam hal ‘ibadah dengan segala konsekuensinya, yakni tidak menujukan ‘ibadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak melakukan peribadatan kecuali dengan apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dan dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, serta tidak melakukan ‘ibadah kecuali hanya mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi, bolehkah kita berharap hanya kepada Allah Ta’ala semata? Bukan hanya boleh. Bahkan harus. Meyakini hanya Allah Ta’ala yang memberi dan tidak akan terwujud apa yang kita inginkan kecuali dengan izin Allah Ta’ala, merupakan bagian dari tauhid rububiyah. Dan sekali lagi, ini tidak cukup. Persoalan yang menjadi sebab perselisihan antara para rasul dengan ummatnya adalah dalam soal tauhid uluhiyah.

Allah Ta’ala Maha Mengabulkan Do’a, Maha Pemurah, Maha Pengasih lagi Maha Mulia. Mintalah kepada Allah Ta’ala dengan meyakini sifat-sifat-Nya. Jangan merusak keyakinan dengan zhan (persangkaan yang dekat kepada keyakinan) yang buruk kepada Allah Ta’ala, seakan Allah subhanahu wa ta’ala berlambat-lambat mengabulkan do’a kecuali apabila kita lakukan untuk-Nya hal-hal yang dapat “mempercepat” do’a. Ini merupakan kerusakan pada tauhid asma’ wa sifat yang kita yakini. Menganggap agar do’a sesegera mungkin dikabulkan seseorang perlu lakukan hal-hal khusus yang tidak dituntunkan secara pasti untuk itu, maka yang demikian ini termasuk dari meyakini sifat buruk dan menisbahkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Astaghfirullahal ‘adzim.

Na’udzubillahi min dzaalik.

Janganlah begitu. Sungguh, janganlah menyamakan sifat Allah Ta’ala dengan tabiat sebagian pejabat yang minta upeti untuk mempercepat urusan kita. Jangan pula memasukkan ajaran dan ‘aqidah dari luar semisal law of attraction (hukum daya tarik) yang akarnya adalah NAM (New Age Movement) ke dalam agama ini, meski hanya untuk berdo’a. Justru yang harus kita ingat, do’a adalah intisari ‘ibadah. Ataukah kita lupa bahwa NAM merupakan paganisme baru yang fokusnya pada diri dan alam semesta?

Bersebab meyakini NAM, sebagian dari kaum muslimin terjatuh pada merinci-rinci do’a. Ini merupakan sesuatu yang tercela dan termasuk sikap sangat berlebihan dalam berdo’a. Apa yang terjadi pada masa kita ini bahkan jauh melebihi apa yang menyebabkan ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu menegur anaknya yang berdo’a, “Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan surga.”

Do’a ini dicela karena merinci-rinci. Padahal yang sempat saya dengarkan dalam beberapa majelis, sebagian kaum muslimin dengan mengambil ajaran NAM justru memerintahkan berdo’a dengan jauh lebih rinci, sedemikian rupa hingga terjatuh pada kerusakan lebih serius lainnya, yakni buruknya prasangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla seakan tak dapat memberikan yang terbaik jika kita tak merinci do’a kita seraya membayangkan dengan sejelas-jelasnya.

Terkait buruknya merinci-rinci do’a, saya memohon karunia Allah Ta’ala untuk memampukan saya menuliskan lebih lanjut di catatan facebook ini. Saya juga berharap dapat membahas tentang keharusan untuk tadharru’ serta berdo’a dengan suara lirih. Semoga ini dapat menjadi jalan kebaikan ketika di berbagai majelis ‘ilmu justru penutupnya prosesi do’a yang menyelisihi tuntunan, meski dengan nama muhasabah.

Kepada Allah Ta’ala saya memohon pertolongan.

sumber : http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/bahkan-ia-masuk-ke-jantung-kita/476038135778653

…bagaimana SABAR itu..??

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Sering kita mendengar kalimat ataupun nasehat-nasehat agar kita bersabar, tapi apakah sebenarnya sabar itu..?? Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya masih diberi kesempatan untuk memposting tentang makna sabar dalam arti sebenarnya, semoga postingan kali ini bisa menjadi nasehat bagi semua pembaca dan khususnya buat saya sendiri…
pict taken here
Sabar adalah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim, tanpa sifat sabar seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai godaan setan dan bisikan hawa nafsu serta tidak akan mampu menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, sabar juga merupakan cahaya yang menerangi jalannya umat muslim dari kebimbangan terhadap berbagai kendala.

Jadi inti makna sabar dalam Islam adalah teguhnya seseorang di jalur haq dengan tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi apapun, akalnya tidak larut pada ajakan hawa nafsunya, jiwanya menolak untuk putus asa, lidahnya tidak mengeluh hanya kepada Allah, sedangkan anggauta badannya ditahan untuk melakukan setiap pekerjaan yang dibenci Allah, hatinya tidak merasa gelisah tetapi selalu berada dalam keimanan, sedangkan lawan sabar adalah gelisah, tergesa-gesa, sempit dada, takut, putus asa, lemah dan mudah menyerah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran: 146)

Jadi Sabar adalah suatu kekuatan yang menolong manusia untuk tetap teguh, yang kadarnya tergantung kadar keimanannya. dan keimanan yang goyah ketika menghadapi bencana, ujian dan berbagai problema adalah keimanan yang palsu, sedangkan iman yang benar tidak mengenal situasi, tetap teguh dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj: 11)

Ada yang membagi makna Sabar ada 3 Jenis:
Sabar Melakukan Ketaatan
Banyak diantara kita yang bisa menerima dan terpengaruh jiwanya dengan nasehat-nasehat agama, sehingga seseorang menyadari kesalahannya dan ingin kembali komitmen kepada jalan kebenaran yaitu jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi apabila dalam dirinya tidak dihiasi dengan sikap sabar maka tidak akan bisa menjalankan komitmen tersebut dengan istiqomah, karena sudah menjadi kodrad manusia selalu tidak menyenangi pada hal-hal yang memberatkan, maka tanpa kesabaran seseorang tidak akan melakukan apa-apa kecuali mengikuti hawa nafsunya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya. (Al Ankabut: 58-59)



Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa berusaha sabar maka Allah akan menjadikannya sabar” (HR Bukhari)

Sabar Menghadapi Kemaksiatan
Maksiat adalah sesuatu yang bisa menjauhkan seseorang dengan Rabbnya, bagi orang mukmin selalu ingin berada dekat dengan Allah, tidak ingin menjauh dari-Nya, merasa malu dan takut apabila melakukan kemaksiatan, karena selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah, dalam kemaksiatan kita juga perlu kesabaran dalam menghadapi, karena manusia selalu cenderung sabar dengan sesuatu yang menyenangkan dan tidak sabar dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka rasa Mahabatullah dan takut kepada-Nya lah yang bisa menjadi penolong kita dalam bersabar dalam menghadapi kemaksiatan

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)



“Jika kamu gembira karena kebaikan dan sedih sedih karena kemaksiatan, maka berarti engkau beriman (HR. Ahmad)

Sabar dalam menghadapi cobaan dan Rintangan
Seseorang yang beriman selalu tabah dan tegar menghadapi segala macam cobaan dan  rintangan karena menyadari bahwa setiap cobaan itu mengandung hikmah dibaliknya, selalu khusnudzon kepada Allah, meyakini bahwa setiap cobaan akan ada kebalikan dibaliknya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)


Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang yang baik, maka Allah akan memberikan cobaan” (HR. Bukhary)

Sabar juga mengandung beberapa aspek penting yaitu:

Sabar dalam hal Phisik yaitu tabah menghadapi beban
Sabar dalam hal Nafsu yaitu menahan diri dalam hal-hal yang hina
Sabar dalam hal Peperangan yaitu berani dan pantang menyerah
Sabar dalam hal Amarah yaitu murah hati dan bijaksana
Sabar dalam hal Menghadapi masalah yaitu selalu lapang dada
Sabar dalam hal Menyimpan sesuatu yaitu menjaga rahasia
Sabar dalam hal Kehidupan yaitu menahan diri dalam keduniaan
Sabar dalam hal Rizki yaitu selalu merasa puas / qona’ah
Sabar dalam hal Ibadah yaitu berkelanjutan, konsisten atau istiqomah
Dan masih banyak lagi jenis sabar yang lainnya

Alhamdullah..
Semoga kita tergolong menjadi hamba Allah yang selalu sabar menghadapi segala macam aspek kehidupan sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di sifati dengan Ash-Shabur atau Maha Sabar, serta menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong…. Amin

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

..mengapa harus MEMAAFKAN?…

……

Makna memberi maaf sebenarnya adalah seseorang mempunyai hak, tapi orang tersebut melepaskan haknya, yaitu tidak menuntut qishash atasnya tidak juga menuntut denda kepadanya, maka tidak salah jika memaafkan adalah sifat luhur yang dimiliki oleh seorang muslim yang benar bertakwa dan menerapkan petunjuk agamanya, banyak nash-nash yang menganjurkan manusia menghiasi dirinya dengan sifat pemaaf yang merupakan sikap ideal bagi umat Islam, nash-nash tersebut mengkategorikan si pemaaf sebagai orang baik dan beruntung karena mendapat ridhanya
Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti dalam firman-Nya
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)
Dengan memaafkan berarti kita telah mampu menahan rasa amarah, bahkan terbebas dari rasa dengki maupun iri hati, yang merupakan cerminan dari kebeningan hati dan jiwanya dan paling utama adalah mereka mendapat kecintaan dan keridhaan-Nya, dengan memaafkan pula berarti kita telah melepaskan beban yang ada pada diri serta menyerahkan sepenuhnya kepada kekuatan yang maha dahsyat dari Allah Azza wa Jalla
Tidak mudah memang jadi seorang yang memiliki sikap pemaaf, karena sikap pemaaf dan toleransi merupakan tingkatan yang sangat tinggi yang tidak bisa dicapai kecuali orang yang membuka hatinya untuk menerima petunjuk Islam serta menghiasi jiwanya dengan akhlak Islam, mereka itulah yang selalu memohon ampunan, pahala dan kemuliaan dari Allah Azza wa Jalla.
Sungguh indah cara yang digunakan Al Qur’an dalam mengapresiasi dan mengangkat jiwa kemanusiaan ketingkat yang tinggi, Al Quran menetapkan bahwa orang-orang yang didzalimi boleh membela diri dan membalas dengan balasan atas kejahatan serupa, tetapi Al Quran tidak membiarkan kebencian dan balas dendam menguasai jiwa manusia tetapi sikap kelembutanlah lebih diutamakan, yang akan membawa pada sikap memaafkan dan toleransi, Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Asy-Syuura: 39-43)

Kejahatan apabila disikapi ataupun dibalas dengan kejahatan akan menyulut api permusuhan serta kedengkian yang akan bermuara pada dendam kesumat dan kebencian yang mendalam tetapi sebaliknya jika kejahatan dibalas dengan kebaikan berarti telah mampu memadamkan kobaran api permusuhan, kebencian dan rasa dengki, serta merubah sikap permusuhan menjadi persahabatan dan persaudaraan yang dipenuhi dengan senyum keceriaan, merubah rasa emosi menjadi kesabaran dan cinta kasih, itulah akhlak seorang mukmin sejati dalam masyarakat muslim selalu menahan amarah, mengendalikan emosi, memberikan maaf serta bersikap toleran antar sesama

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushshilat: 34)

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf: 199)

Akhlak seperti ini adalah ciri-ciri akhlak Rabbani yang mencakup secara keseluruhan dimana kejahatan bukan dibalas dengan kejahatan melainkan dibalas dengan akhlak karimah berupa pemaafan dan kebaikan
Sifat pemaaf Rasulullah telah mengakar kuat didalam diri beliau yang mulia.
Ada sebuah cerita ketika seorang wanita yahudi menghadiahkan daging kambing beracun kepada Rasulullah, kemudian beliau makan sedikit yang diikuti oleh sebagian sahabat, kemudan Rasulullah berkata pada para sahabat  

“Hentikanlah, jangan makan daging ini beracun” kata Rasulullah kepada para Sahabat, selanjutnya wanita yahudi tersebut dibawa kehadapan Rasulullah.
“apa yang menyebabkan kamu berbuat seperti ini?” Tanya Rasulullah  
“Aku ingin tahu, jika engkau seorang Nabi, kami akan tenang dari gangguanmu.” Jawab wanita Yahudi itu.
“bukankah kita harus membunuhnya?” Seru para sahabat
“Tidak!”, jawab Rasulullah, maka wanita tersebut dibebaskan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  telah menanamkan kedalam diri kaum muslim sifat pemaaf dan toleran, meskipun diperlakukan jahat dan didzalimi, itulah sikap utama yang dimiliki Rasulullah, terbukti cara tersebut menjadi media yang ampuh dalam berdakwah, Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang akan lebih bisa menerima dakwahnya dengan kelembutan dan toleransi bukan dengan cara kekerasan, kekasaran dan intimidasi.
Sebagai penutup saya ingin sampaikan bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim pada kita, semoga kita tetap rendah hati menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan maka sikap saling memaafkan adalah sikap yang luhur yang dianjurkan di Islam
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

8 Syarat Agar Dapat Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Oleh Ir Aris Ahmad Risadi MSi

Reuni merupakan momen indah yang banyak ditunggu. Setelah sekian lama tidak berjumpa, dipisahkan oleh jarak dan rutinitas baru, kita berkeinginan  untuk bertemu kembali dengan kawan lama dalam suasana gembira dan penuh nostalgia.
 
Kegiatan ini diselenggarakan bukan saja oleh mereka yang memiliki kesamaan sekolah, tapi seringkali dilakukan pula oleh paguyuban yang memiliki kesamaan keturunan, asal-usul daerah, atau kesamaan bentuk lainnya.

Meluasnya penggunaan teknologi informasi khususnya jejaring sosial yang mampu melacak keberadaan kawan lama telah ikut mendorong meningkatnya aktifitas reunian di berbagai kalangan. Suasana romantisme masa lalu telah membuat reuni menjadi peristiwa yang diharapkan. Bahkan diperjuangkan.

Bagi muslimin ada satu reuni yang memiliki nilai luar biasa, yaitu kesempatan bertemunya kembali keluarga besar seketurunan di tempat baru yang sangat menyenangkan di akhirat kelak.

Allah berfirman dalam QS Ar-Ra’d [13]: 22-24 yang artinya “Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), yaitu Surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), ‘salaamun alaikum bimaa shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). ‘Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu”

Sayyid Quthb dalam “Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an” menjelaskan peristiwa di atas  laksana  sebuah festival atau reuni dimana mereka saling bertemu, mengucapkan salam, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan menggembirakan serta penuh dengan penghormatan.

Kebersamaan di surga tersebut tentu tidak mudah untuk dicapai, karena dalam kisah yang dijelaskan Alquran banyak keturunan/keluarga yang tidak lagi bisa bertemu di akhirat, seperti: Nabi Nuh dengan putra dan istrinya, Asiyah yang solehah dengan suaminya (Firaun), dan Nabi Luth dengan istrinya. Namun bertemunya  keluarga besar di surga bukan pula sesuatu yang tidak mungkin.    

Allah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra’d [13] : 18-21 kita bersama keluarga besar bisa bertemu di surga ‘Adn, asal dapat memenuhi delapan syarat.

Pertama, memenuhi seruan Tuhannya Barang siapa yang patuh kepada Allah niscaya ia akan mendapatkan pembalasan yang sebaik-baiknya.

Kedua, memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian. Janji Allah disini mutlak, meliputi semua macam perjanjian. Janji terbesar yang menjadi pokok pangkal semua perjanjian ialah janji iman. Perjanjian untuk setia menunaikan segala konsekuensi iman.

Ketiga, menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan. Dalam hal ini taat secara paripurna, istiqomah yang berkesinabungan, dan berjalan di atas sunnah sesuai dengan  aturan-Nya dengan tidak menyimpang dan tidak berpaling.

Kempat, takut kepada Allah.  Takut kepada Allah dan takut kepada siksaan yang buruk dan menyedihkan pada hari pertemuan yang menakutkan.

Kelima, sabar.  Sabar atas semua beban perjanjian di atas (seperti beramal, berjihad, berdakwah, berijtihad), sabar dalam menghadapi kenikmatan dan kesusahan, dan sabar dalam menghadapi kebodohan dan kejahilan manusia yang sering menyesakkan hati.

Keenam,  mendirikan Shalat.   Ini termasuk juga  memenuhi janji dengan Allah. Shalat  ditonjolkan karena merupakan rukun pertama perjanjia ini, sekaligus menjadi lambang penghadapan  diri secara  tulus dan sempurna kepada Allah. Juga penghubungan yang jelas antara hamba dengan Tuhan, yang tulus dan suci.

Ketujuh,  Menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi atau terang-terangan.

Kedelapan, menolak kejahatan dengan kebaikan dalam pergaulan sehari-hari. Dalam hal ini diperintahkan membalas kejelekan dengan kebaikan apabila tindakan ini memang dapat menolak  kejahatan itu, bukan malah menjadikan yang bersangkutan semakin senang berbuat kejahatan.
 
Delapan syarat ini telah Allah jamin akan menghantarkan seseorang dapat berkumpul di surga ‘Adn. Mereka mendapati tempat kesudahan yang baik. 

Di samping masuk surga, mereka juga dimuliakan  dengan bertemunya kembali  dengan orang-orang yang mereka cintai. Hal ini merupakan kelezatan lain yang mereka rasakan di dalam surga.  Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

link http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/04/01/mkjt0m1-delapan-syarat-agar-dapat-berkumpul-bersama-keluarga-di-surga