Tafsir Al-Quran : Surat Al-Kahfi (18)

Ayat 1:

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya

::terjemahan:: :: tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Dalam ayat ini, Allah swt memuji dirinya, sebab Dia-lah yang menurunkan kitab suci Al-Qur’an kepada Rasul saw, sedang AlQuran itu adalah nikmat yang besar yang dianugerahkan-Nya kepada umat manusia penghuni bumi ini. Bukankah AlQuran itu yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang cerah? AlQuran dijadikan-Nya sebagai pedoman lurus dan jelas, lagi tidak terdapat padanya kesimpangsiuran yang meragukan bahwa dia memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Bagian yang satu dari Al Quran itu membenarkan dan mengukuhkan bagian yang lainnya, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan. Nabi Muhammad saw sebagai seorang yang diserahi tugas untuk menerima amanat Nya membawa Al Quran itu kepada umat manusia, disebut dalam ayat ini dengan kata “hamba Nya” adalah untuk menunjukkan kehormatan yang besar kepadanya, sebesar amanat yang dibebankan ke pundaknya, dan mengandung pula pengertian bahwa Muhammad yang menjadi utusan Allah Rabbul Alamin, tidak sebagaimana pandangan orang Nasrani terhadap Nabi Isa as.

Ayat 2:

Sebagaimana bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi  berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal sholeh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik

:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Kemudian Allah swt menerangkan lagi bahwa AlQuran itu lurus, yang berarti tidak cenderung kepada berlebih-lebihan memuat peraturan-peraturan, sehingga memberatkan kepada hamba-hamba Nya. Tetapi juga tidak terlalu sedikit dengan mengabaikan kebutuhan manusia, sehingga memerlukan kitab yang lain untuk menetapkan peraturan-peraturan. Demikianlah sifat-sifat AlQuran itu. Dia turunkan kepada Muhammad saw agar beliau memperingatkan orang-orang kafir kepada azab yang besar dari Tuhan, atas keingkaran mereka kepada AlQuran. Dan supaya Rasul saw juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal sholeh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar daripada Nya, atas keimanan mereka kepada Allah dan Rasul Nya itu, serta amal kebajikannya selama hidup di dunia.

Ayat 3 :

Mereka kekal didalamnya untuk selama-lamanya

:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Pahala yang besar itu tidak lain adalah surga yang mereka tempati abadi selama-lamanya, mereka tidak akan pindah atau dipindahkan dari surga itu, sesuai dengan janji Allah SWT kepada mereka.

Firman Allah SWT:
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. (Q.S. Az Zukhruf: 72)

Ayat 4 :
Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “ Allah mengambil seorang anak.”
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Dalam ayat ini Allah SWT mengulang lagi tugas Rasul saw untuk memberikan peringatan kepada kaum kafir, karena kekafiran mereka oleh Allah dipandang perkara besar, terutama orang-orang kafir yang mengatakan Allah itu mempunyai putra.
Mereka itu ada tiga golongan: Pertama: Golongan musyrikin Mekah (Arab) yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu putra Tuhan. Kedua: Golongan orang Yahudi yang mengatakan Uzair putra Tuhan. Ketiga: Golongan orang Nasrani yang mengatakan Isa itu putra Tuhan.
Alquran diturunkan ke dunia untuk mengembalikan kepercayaan umat manusia kepada tauhid yang murni. Banyak ayat-ayat yang mengancam anggapan-anggapan dan kepercayaan-kepercayaan kepada Tuhan yang sangat keliru itu.

Firman Allah swt :
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang yang terdahulu. Dilaknati Allah lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?. (Q.S. At Taubah : 30)
Ayat 5 :
Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Anggapan mereka bahwa Tuhan mempunyai putra, sama sekali tidak didasarkan atas pengetahuan dan keyakinan mereka sendiri, tetapi didasarkan atas persangkaan yang tidak benar. Mereka hanyalah bertaklid buta kepada nenek moyang mereka, padahal nenek moyang mereka itu juga tidak mempunyai pengetahuan dan keyakinan tentang kepercayaan yang demikian itu. Sungguh terlalu jelek ucapan mereka itu. Ucapan itu tidak lahir dari pikiran yang sehat, tetapi keluar dari mulut mereka yang lancang. Allah menegaskan apa yang diucapkan mereka itu adalah kekafiran yang sangat besar, karena tidak didasarkan atas keyakinan, dan tidak patut diucapkan oleh seseorang manusia. Kelancangan mereka mengucapkan kalimat kafir itu ditegaskan Allah sebagai suatu kebohongan semata-mata, yang demikian tidak mengandung kebenaran. Kepada mereka ini, Allah SWT memperingatkan Rasul untuk memerintahkan kepada umatnya supaya kembali kepada agama tauhid, sebagaimana yang diajarkan Alquran.

Firman Allah swt:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah…” (Q.S. Ali Imran: 64)
Ayat 6 :
Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al quran)
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Kemudian dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan Rasul saw agar janganlah dirinya bersedih hati, hingga merusakkan badan, hanya disebabkan kaumnya tidak mau beriman kepada Alquran dan kenabiannya. Karena hal demikian itu tidaklah patut membuat Nabi duka nestapa sampai merusak kesehatan dirinya. Tugas beliau hanyalah menyampaikan wahyu-wahyu Ilahi kepada mereka, sedang kesediaan mereka untuk menerima ayat-ayat itu tergantung kepada petunjuk Allah SWT.

Firman Allah swt :
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki Nya. (Q.S. Al Baqarah 272)
Menurut riwayat Ibnu Abbas bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah Ibnu Rabi’ah, Abu Jahal Ibnu Hisyam, An Nadar Ibnu Haris, Umayyah Ibnu Khalfin, Al A’sya Ibnu Wail, Al Aswad Ibnu Muttalib dan Abu Buhturi di hadapan beberapa orang Quraisy mengadakan pertemuan. Rasul saw berada dalam kesusahan melihat perlawanan kaumnya kepadanya dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya, maka hal ini sangat menyakitkan hatinya. Lalu turunlah ayat ini. (H.R. Ibnu Mardawaih)

Sesungguhnya Nabi itu bersedih hati, karena hasratnya yang besar dan kecintaannya yang dalam terhadap kaumnya supaya mereka beriman, tidak tercapai. Beliau diberi gelar Habibullah artinya kekasih Allah, maka sifat kasih sayang yang sangat nampak pada beliau kepada sesama manusia itu adalah pencerminan dari cintanya kepada Allah. Semakin kuat cinta kepada Allah, semakin besar pula kasihnya kepada manusia, bahkan manusia itu dia rasakan sebagai dirinya. Karena itulah ketika kaumnya menjauhkan diri dari bimbingan Allah SWT dan Rasul Nya beliau rasakan kejadian itu sebagai pukulan berat bagi dirinya, bukankah kaum yang jauh dari hidayah Allah itu pada akhirnya akan hancur, dan beliau sendiri akan menyaksikan kehancuran mereka itu. Hati yang bersangatan iba terhadap mereka yang menjadi penghalang kebenaran biarpun apa saja pendorongnya, dapat menghambat jalan dan lahirnya kebenaran itu sendiri. Maka Allah SWT memperingatkan Rasul saw jangan mengindahkan sambutan kaum musyrikin yang menjadi penghalang tersebarnya agama Islam itu, tetapi terus menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana. Sebab mereka itu adalah manusia yang telah dikaruniakan akal budi. Dengan akal budi itu manusia dapat merenungkan kebenaran ayat-ayat Alquran dan ayat-ayat kauniyah (alam) seperti benda-benda yang terdapat dalam alam ini.

Ayat 7 :
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa segala yang ada di atas bumi ini, Dia ciptakan sebagai perhiasan bagi bumi itu baik binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari pelbagai jenis di lautan dan di daratan baik barang-barang tambang, yang beraneka ragam dan sebagainya, untuk menguji manusia Apakah mereka dapat memahami dengan akal budi mereka maksud perhiasan-perhiasan bumi itu dan menarik kesimpulan akan adanya penciptanya, untuk kemudian menaati perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Bilamana mereka mempergunakan segala benda-benda alam, hewan dan tumbuh-tumbuhan itu masuk pengabdian kepada Tuhan dan kemanusiaan, maka Allah akan memberi mereka pahala yang sebesar-besarnya. Tetapi bilamana mereka mempergunakan untuk mendurhakai Tuhan dan merusak peradaban dan kemanusiaan maka Allah SWT akan menimpakan kepada mereka azab yang besar pula. Sejarah umat manusia membuktikan bahwa mereka selalu berlomba-lomba untuk memperoleh benda-benda perhiasan bumi itu, karena ia merupakan benda-benda ekonomi yang menjadi sumber penghidupan umat manusia. Dan karena benda-benda itu pula mereka saling berbunuh-bunuhan satu sama lain yang akhirnya menuju kehancuran. Kecuali bila mereka menyadari bahwa benda-benda hiasan bumi itu anugerah Tuhan, mereka mempergunakannya untuk perikemanusiaan dan pengabdian kepada Tuhan Rabbul Alamin.
Demikianlah barang siapa yang dapat memahami dan mengambil pelajaran serta hikmah dari benda-benda hiasan bumi itu dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Semua benda alam ini memang diperuntukkan bagi manusia, tinggallah lagi Apakah yang akan mereka kerjakan dengan benda-benda hiasan di permukaan bumi itu?

Firman Allah swt.:
“Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah …” (Q.S. Al-Hajj : 65)

Sabda Nabi Muhammad saw.:
Sesungguhnya dunia ini manis lagi indah kehijauan. Dan sesungguhnya Allah SWT menunjuk kamu sebagai penguasa di atasnya, lalu Dia melihat apa yang kamu kerjakan.
Ayat 8 :
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Kemudian Allah SWT menerangkan pula dalam ayat ini, bahwasanya Dia benar-benar akan membuat apa yang ada di atas bumi ini menjadi tanah yang datar dan tandus, tak ada tumbuh-tumbuhan yang menghiasinya. Maka keindahan yang menaklukkan pandangan mata itu menjadi pandangan yang kering dan pudar. perubahan demikian itu dapat terjadi disebabkan perubahan iklim dapat pula disebabkan oleh tangan manusia sendiri yang tidak mempertimbangkan sesuatu akibat dari perbuatan mereka sendiri, seperti penggundulan hutan, pemakaian tanah berlebih-lebihan tanpa pemeliharaan, peperangan dan lain-lain sebagainya. Dengan demikian, maka tidaklah patut bagi Nabi Muhammad saw untuk berduka cita terhadap setiap mereka yang anti terhadap ajaran-ajaran Islam yang dibawanya, karena Allah SWT akan menguji mereka dengan menciptakan keindahan di muka bumi ini dengan menciptakan bermacam-macam benda-benda seperti tumbuh-tumhuhan, hewan dan mineral. Siapakah di antara manusia itu yang beramal baik, Allah lah nanti yang memberi pahala bagi mereka yang beramal paling baik karena mempergunakan benda hiasan bumi itu sesuai dengan petunjuk Tuhan untuk kemanusiaan. Tetapi jika mereka mempergunakan benda-benda hiasan bumi ini tidak mengikuti petunjuk Tuhan, maka Allah SWT kelak menjadikan bumi ini datar dan tandus dan tiap manusia diberi ganjaran terhadap perbuatannya yang durhaka.
Dengan ayat ini Nabi Muhammad saw menjadi terhibur. Bagi Rasul saw sudah jelas, jalan yang ditempuh oleh masing-masing golongan manusia yang beriman kepada Alquran dan golongan manusia yang berpaling daripada-Nya.
Berbahagialah mereka yang berhasil lulus dalam ujian Tuhan itu dan sengsaralah mereka yang gagal. Tugas Rasul saw hanyalah menyampaikan petunjuk-petunjuk Allah SWT. Apakah manusia beriman kepada petunjuk-petunjuk Allah itu ataukah berpaling daripada-Nya, Allah SWT lah yang menentukannya.
Ayat 9 :
Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa tidaklah patut Nabi Muhammad saw, mengira bahwa cerita Ashabul Kahfi beserta roqim (batu tertulis), sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab lama adalah tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang menakjubkan.
Memang jika dilihat peristiwa itu sendiri adalah berlawanan dengan hukum kebiasaan alam. Tetapi jika dibandingkan dengan kejadian tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang dan segala benda-henda mineral yang merupakan perhiasan di atas bumi ini, maka kejadian yang akhir ini lebih menakjubkan lagi untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan. peristiwa Ashabul Kahfi itu, bukan satu-satunya tanda kekuasaan Tuhan dia hanyalah sebagian kecil dad bukti ke Agungan-Nya. Sekiranya para ulama agama lain merasa kagum dan terpesona akan peristiwa tersebut, maka Rasul saw dan umatnya seharusnya lebih terpesona lagi oleh alam semesta dengan segala keajaibannya, kejadian langit dan bumi, pergantian siang dan malam, peredaran matahari, bulan, planet, bintang-bintang kesemuanya itu adalah bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Tuhan. Dia berbuat menurut kehendak Nya, tak seorang yang menolak ketetapan Nya.
Adapun kisah itu dengan segala keanehannya tidaklah cukup membawa manusia ke pintu gerbang kebaikan dan kebahagiaan seperti yang diidamkan manusia itu sendiri, tidak pula dapat dijadikan contoh yang ideal untuk memperoleh keberhasilan duniawi dan ukhrawi. Maka oleh karena itu Alquran selalu mengajak manusia untuk menyelidiki rahasia alam semesta ini.
Menurut riwayat bahwa orang-orang Nasrani telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Raja-raja mereka berlaku aniaya sampai mereka menyembah berhala-berhala bahkan rakyat dipaksa pula untuk menyembahnya. Seorang raja mereka yang bernama Decyanus mengeluarkan perintah-perintah keras untuk menyembah berhala-berhala itu dan menyiksa siapa yang menentang. Beberapa orang pemuda dari kalangan bangsawan dipaksanya turut menyembah berhala-berhala itu dan dia memberi ancaman bunuh kepada mereka. Namun mereka menolaknya, bahkan mereka tetap bertahan dalam agama mereka. Lalu Decyanus melucuti pakaian dan perhiasan mereka. Tetapi rupa-rupanya raja itu masih sayang kepada remaja remaja itu, mereka dibiarkannya hidup dengan harapan agar mereka insaf kembali. Demikianlah raja itu pergi ke negeri-negeri lain, memaksa penduduknya menyembah berhala dan siapa menolaknya dibunuhnya.
Adapun pemuda-pemuda itu kemudian pergi ke sebuah gua, pada sebuah gunung yang disebut Tikhayus, dekat kota mereka “Afasus.” Di gua itu mereka beribadah menyembah Allah, sekiranya diserang oleh raja Decyanus dan mereka dibunuhnya, maka mereka mati dalam ketaatan. Jumlah mereka tujuh orang. Di tengah perjalanan ke gua, mereka disertai oleh seorang penggembala dengan seekor anjingnya. Di gua itulah mereka tekun menyembah Allah. Di antara mereka ada seorang yang bernama Tamlikha. Dia bertugas membeli makanan dan minuman untuk teman-temannya dan menyampaikan kabar bahwa Decyanus masih sungguh-sungguh mencari mereka. Sekembalinya raja itu dari perjalanannya segera dia mencari ahli-ahli ibadat kepada Allah itu untuk dibunuhnya, kecuali bila mereka mau menyembah patung. Berita ini terdengar Tamlikha ketika dia sedang berbelanja lalu disampaikan kepada teman-temannya. Mereka menangis. Allah SWT kemudian menutup pendengaran mereka sehingga mereka tertidur.
Sementara itu Decyanus teringat kepada mereka, lalu memaksa orang-orang tua mereka untuk mendatangkan mereka. Orang-orang tua mereka itu akhirnya menunjukkan gua tempat mereka beribadat itu. Decyanus segera pergi ke tempat itu dan menutup mulut gua itu agar mereka mati di dalamnya. Dalam staf pengiring raja ada dua orang laki-laki yang tetap menyembunyikan imannya namanya Bidrus dan Runas. Kisah para pemuda yang beriman dalam gua itu diabadikan dengan tulisan di atas dua keping batu yang lalu disimpannya dalam peti dari tembaga. Peti itu ditanamkannya ke dalam bangunan supaya di kemudian hari menjadi suri teladan dan peringatan bagi umat manusia.
Waktu berjalan terus, zaman silih berganti, raja Decyanus sudah dilupakan orang. Seorang raja yang saleh bernama Bidrus memerintah negeri itu selama 68 tahun. Pada masa pemerintahannya terjadi perpecahan di kalangan rakyatnya tentang hari kiamat ke dalam dua golongan. Golongan yang percaya akan hari kiamat dan golongan yang mengingkarinya. Raja sangat bersedih hati karena persoalan ini. Dia berdoa kepada Tuhan agar Dia memperlihatkan kepada rakyatnya suatu tanda yang meyakinkan mereka bahwa kiamat itu pasti terjadi.
Sementara itu seorang penggembala kambing bernama Ulyas bermaksud membangun kandang kambingnya di gua itu. Maka dipecahkannyalah tutup yang menutup pintu gua itu. Seketika itu juga, pemuda-pemuda yang beriman itu terbangun serentak dari tidurnya. Mereka duduk dengan wajah berseri-seri lalu mereka salat. Berkatalah mereka satu sama lain: “Berapa lama kalian tidur?” Dijawab oleh yang lain: “Sehari atau setengah hari.” Yang lain mengatakan: “Tuhan lebih mengetahui berapa lama kalian tidur..” Cobalah salah seorang dari kalian pergi ke kota membawa uang perak ini dan membeli makanan yang baik dan menghidangkannya kepada kita. “Maka berangkatlah Tamlikha sebagaimana biasanya sejak dahulu pergi berjalan untuk berbelanja, secara sembunyi-sembunyi karena takut terhadap raja Decyanus. Sewaktu berjalan, terdengar olehnya orang-orang menyeru Isa Al Masih. di segala penjuru kota. Berkatalah dia dalam hati: Alangkah anehnya mengapa orang mukmin itu tidak dibunuh oleh Decyanus.” Dia masih dalam keheranan: “Barangkali aku bermimpi atau kota ini bukan kotaku dahulu,” katanya dalam hati. Lalu dia bertanya kepada seorang laki-laki tentang nama kota itu. Di jawab: “Ini kota Afsus.” Pada akhir perjalanannya dia datang kepada seorang laki-laki dan diberikannya uang logam itu untuk pembeli makanan. Laki-laki itu kaget setelah melihat uang logam itu karena belum pernah melihatnya sebelumnya. Dia membalik-balik uang itu kemudian diperlihatkannya kepada kawan-kawannya. Mereka merasa heran dan berkata: “Apakah uang ini dari harta yang kau temukan tersimpan dalam tanah?” Uang logam ini dari zaman raja Decyanus, satu zaman yang sudah lewat berabad-abad lamanya.” Kemudian Tamlikha dibawa ke muka dua orang hakim di kota itu. Mulanya Tamlikha mengira dia akan dibawa kepada raja Decyanus. Tetapi setelah dia ketahui tidak demikian, lenyaplah kesedihannya, dan berhentilah tangisnya. Kedua hakim kota itu Areyus dan Tanteyus, menanya Tamlikha: Dimanakah harta terpendam yang kamu temukan itu, wahai anak muda?” Sesudah terjadi pembicaraan antara mereka, maka Tamlikha menceritakan kisah para pemuda itu dengan raja Decyanus, dan dia mengajak kedua hakim itu pergi menengok ke gua untuk membuktikan kebenaran ceritanya. Kedua hakim itu lalu pergi bersama-sama Tamlikha, hingga sampai ke pintu gua itu, dan keduanya mendengarkan semua cerita tentang penghuni gua itu dari Tamlikha. Kedua hakim merasa heran setelah mengetahui bahwa mereka tidur dalam gua itu selama 309 tahun. Mereka dibangunkan dari tidur untuk menjadi tanda kekuasaan Tuhan kepada manusia. Kemudian Ariyus masuk dan melihat sebuah peti dari tembaga, tertutup dengan lak, di dalamnya dua batu bertulis yang menceritakan kisah pemuda itu, sejak mereka melarikan diri dari kerajaan Decyanus demi memelihara akidah dan agama mereka, sampai kemudian Decyanus menutup pintu gua itu dengan batu.
Setelah Ariyus dan kawan-kawannya membaca cerita ini bersyukurlah mereka dan langsung sujud kepada Allah dan segeralah mereka mengirim utusan kepada raja Bidrus agar cepat-cepat datang untuk menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang ada pada peristiwa pemuda-pemuda itu, mereka dibangkitkan sesudah tertidur 300 tahun. Raja kemudian berangkat beserta rombongan pengawal-pengawalnya dan penduduk negerinya sampai datang ke negeri Afasus. Hari ini merupakan hari penetapan keputusan tentang hari berbangkit, hari yang tak terlupakan.
Sewaktu raja melihat pemuda-pemuda itu, sujudlah dia kepada Allah kemudian dipeluknya pemuda-pemuda itu lalu menangis. Pemuda-pemuda itu terus memuji Tuhan. Berkatalah pemuda-pemuda itu kepada raja: “Wahai raja, selamat tinggal, semoga Allah melindungi kamu dari kejahatan manusia dan jin.” Lalu mereka kembali ke pembaringan mereka dan ketika itu Allah SWT mencabut rohnya. Untuk memberikan penghormatan kepada para arwah hamba-hamba Allah suci ini, raja memerintahkan agar setiap orang dari mereka dibuatkan peti jenazah dari emas. Tetapi pada malam harinya raja bermimpi melihat mereka, dan berpesan kepadanya: “Biarkanlah kami sebagaimana adanya dalam gua ini, kami tidur di atas tanah sampai hari kiamat datang.” Karena itu raja itu memerintahkan agar jenazah itu dihamparkan di dalam sebuah peti kayu jati dan jangan ada seorangpun diizinkan masuk dalam gua itu sesudah hari itu. Raja memerintahkan pula agar pintu gua dibangun tempat ibadah, dan hari wafatnya dijadikan hari besar. Demikianlah dari cerita orang-orang suci, pemuda-pemuda penghuni gua itu.
Orang-orang Nasrani menjadikan cerita ini sebagai bukti kekuasaan Tuhan untuk menunjukkan adanya hari kiamat. Tetapi Alquran menjelaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan Tuhan untuk mengadakan hari berbangkit dan mengembalikan ruh itu kepada jasadnya sesudah mati bukanlah terbatas pada cerita saja. Ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan-Nya untuk menunjukkan adanya hari kiamat, tidak terhitung jumlahnya, perhatikanlah alam semesta ini dengan segala isinya.
Ayat 10 :
Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: `Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)`.
:: Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbaban Nuzul::
Kemudian dalam ayat ini, Allah SWT mulai menguraikan cerita Ashabul Kahfi itu kepada Rasul saw. Allah SWT mengingatkan kepada Rasul-Nya bahwa ketika zaman dahulu beberapa pemuda keturunan bangsawan di suatu negeri, karena takut penganiayaan rajanya, pergi mencari perlindungan ke dalam gua pada sebuah gunung. Di dalam gua inilah mereka membulatkan tekadnya, menghabiskan masa remajanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Menurut riwayat pemuda-pemuda itu putra-putra bangsawan dan pembesar orang Romawi. Mereka berpakaian mahkota kebangsawanan dan memakai gelang keemasan. Kemudian mereka berdoa kepada Tuhan semoga Dia melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka dari sisi Nya. Mereka mengharapkan pengampunan, ketenteraman, dan rezeki dari Allah sebagai anugerah yang besar atas diri mereka. Selain daripada itu memohon pula, kiranya Tuhan memudahkan bagi mereka jalan yang benar untuk menghindari godaan dan kelaliman orang-orang kafir dan untuk memperoleh ketabahan dalam menaati Tuhan sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sungguh Allah telah menolong mereka sewaktu raja kafir itu berhasil menemukan jejak mereka pada pintu gua itu, lalu masuk ke dalamnya, maka Allah SWT menutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat para pemuda tersebut. Oleh karena itu akhirnya raja memutuskan menutup pintu gua itu dengan perkiraan bahwa mereka akan mati kelaparan dan kehausan.

 

sumber http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s