::: Pintu TAUBAT terbuka lebar :::

Jangan berputus asa, jangan bersedih, dan jangan frustasi, karena pintu taubat terbuka lebar bagi siapa saja hamba Allah yang ingin kembali kepada-Nya. Jika Anda termasuk orang yang sedang bergelimang dalam dosa dan kemaksiatan, Anda termasuk laki-laki yang tiada hari tanpa maksiat, laki-laki hidung belang, om-om PK (penjahat kelamin), tukang “jajan”, ahli selingkuh, “pejantan” haram, ataukah Anda seorang wanita yang tak ada malam tanpa perzinahan, ABG “Mall”, mahasiswi ‘bispak’ bisa dipake, sexy dancer, penari striptease, Anda termasuk ‘jajali’ janda-janda liar, atau ibu-ibu ‘jablai’ jarang dibelai, atau apa saja gelar-gelar “profesional” lainnya, sesungguhnya pintu taubat senantiasa terbuka.

Jika Anda seorang eksekutif, pelaku bisnis, atau marketer bahlul, kinilah saatnya Anda menyesali semua perbuatan setan itu dan bertaubatlah. Tidak ada kata terlambat. Semuanya bisa dimulai dari sekarang. Sekalipun Anda termasuk pelaku yang kadang bertaubat ketika sadar, dan kadang kembali lagi maksiat dan berbuat dosa ketika iman sedang lemah, sementara “imin” lagi kuat. Ingatlah! Bisa jadi hari ini Anda masih sehat, tapi esok hari Anda tiba-tiba meninggal, tentu tiada kesempatan lagi buat Anda untuk bertaubat.

Coba marilah perhatikan hadis ini. Rasulullah menyampaikan hadis qudsi bahwa Allah Swt. berfirman, “Ada seorang hamba melakukan sesuatu dosa, lalu dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’” Lalu Allah berfirman lagi, “Seorang hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan Yang Maha Mengampuni dosa hamba-Nya, Tuhan Yang Maha menyiksa karena dosa. Dia pun kembali melakukan dosa lagi, lalu dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’” Allah pun berfirman lagi, “Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan Yang Maha Mengampuni dosa, dan mampu menyiksa hamba sebab dosa. Lalu hamba itu kembali melakukan dosa, kemudian dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.’” Allah berfirman lagi, “Hamba-Ku melakukan dosa, dan dia tahu kalau Dia Tuhan Yang Maha Pengampun dan Mampu menyiksa hamba karena dosa. Dan Aku pun berkata, ‘Kerahkanlah kekuatanmu untuk melakukan apa yang kamu sukai, sungguh Aku telah mengampunimu.’”[1]

 

Imam Nawawi menjelaskan maksud hadis di atas, “Selama kamu melakukan dosa, dan kamu bertaubat serta memohon ampunan, maka Allah akan mengampunimu.” Di sinilah keagungan Allah swt, siapa pun pendosa besar, ketika ia menyadari akan kesalahan dan kekhilafannya, lalu bertaubat dan minta ampun dengan penuh kesungguhan, maka berdasarkan hadis di atas, Insya Allah dosanya akan diampuni. Bahkan, Nabi mengatakan bahwa Allah Swt. akan memberi ampunan dan maghfirah kepada hamba-Nya yang benar-benar bertaubat melebihi dari apa yang diharapkannya.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Sesungguhnya Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba terhadap-Ku, dan aku bersamanya saat dia mengingat-Ku.’ Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih bahagia dengan taubat salah seorang di antara kalian daripada orang yang mendapati kesesatannya di padang pasir. Allah Swt berfirman lagi, ‘Barangsiapa mendekati-Ku sejengkal bumi, maka aku akan mendekatinya sejauh satu hasta. Barangsiapa mendekati-Ku sejauh satu hasta, maka Aku akan mendekatinya sejauh satu depa. Jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari kecil.”[2]

 

Firman Allah dalam hadis di atas, “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku,” berarti diberikannya ampunan untuknya jika dia memohon ampunan, atau diterimanya dirinya apabila dia bertaubat, dengan terkabulnya permintaan jika dia berdoa, dan dengan kecukupan jika dia meminta.

Abdullah Nawwarah[3] mengatakan bahwa dalam hadis qudsi ini ada tamsil yang sangat mengagumkan. Seakan firman ini menunjukkan pada sesuatu yang dikagumi banyak orang. Persangkaan ini diumpamakan sebuah jalan yang Anda lewati. Jika Anda meramaikan jalan ini dengan taubat, kembali kepada Allah, dan mencari ampunan, maka di akhir jalan ini Anda akan menjumpai ampunan dan ridha Allah, kemudian Anda akan mendapatkan surga-Nya. Persangkaan ini adalah murni keyakinan akan Allah. Namun jika manusia meramaikan jalan yang dilewatinya ini dengan hawa nafsu dan maksiat, maka dia akan berjumpa Tuhannya di akhir jalannya dengan mendapatkan kerugian, kemurkaan, kebinasaan, dan api neraka.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya orang yang beriman mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada orang yang menginginkan surga. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada orang yang berputus asa dari surga-Nya.”[4]

 

Hadis ini merupakan landasan dasar, agar orang-orang yang maksiat dan orang-orang yang kafir mengetahui bahwa Allah tidak mementingkan maksiat selama orang tersebut bertaubat. Dalam hadis ini juga terdapat penjelasan tentang agungnya taubat di sisi Allah, dan sesungguhnya taubat tidak bisa dibandingkan dengan hal lain apa pun.

Umar bin Khattab meriwayatkan bahwa para tawanan perang datang menghadap Rasulullah Saw. Tiba-tiba di antara tawanan tersebut muncul seorang wanita yang seperti mencari-cari sesuatu. Saat menemukan anak kecil, dia mengambil dan memeluknya serta menyusuinya. Lalu Rasulullah bertanya kepada kami, “Apakah kalian melihat wanita ini melemparkan anaknya ke neraka?” Kami menjawab, “Demi Allah, dia tidak akan mau melemparkan anaknya ke neraka.” Kemudian Rasulullah berkata lagi, “Sungguh Allah adalah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita itu (kepada anaknya).”[5]

Abu Hurairah bercerita: Pada suatu malam, setelah shalat Isya, aku keluar bersama Rasulullah. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang wanita bercadar yang berdiri di ujung jalan, dia berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan dosa besar. Maka apakah aku masih bisa bertaubat?” Aku menjawab, “Apakah dosamu itu?” Dia menjawab, “Aku telah berzina dan membunuh anak hasil zinahku.” Aku pun berkata, “Kamu telah hancur dan membinasakan orang. Demi Allah kamu tidak punya hak untuk bertaubat.” Lalu wanita itu berteriak dan tidak sadarkan diri.

Aku kembali berjalan dan berkata kepada diriku sendiri, “Aku telah mengeluarkan sebuah fatwa, padahal Rasulullah ada bersama kami.” Maka ketika pagi menjelang, aku pergi menghadap Rasulullah dan menceritakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa dariku mengenai masalah ini dan itu. Lalu aku mengeluarkan fatwa kepadanya demikian demikian.” Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Innalillahi wa Inna ilaihi rajiuun. Demi Allah, wahai Abu Hurairah, sungguh kamu telah hancur dan membinasakan orang. Di manakah akalmu dalam membaca ayat, ‘Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”[6]

Setelah itu aku mundur diri dari Rasulullah. Aku berjalan melewati gang kota Madinah. Aku bertanya, “Siapakah yang bisa menunjukkan padaku tempat wanita itu? Wanita yang kemarin malam meminta fatwa dariku?” Lalu aku berhasil menemukan wanita itu, dan aku pun berkata kepada, “Aku telah meminta fatwa kepada Rasulullah, dan Rasulullah telah mengatakan kepadaku bahwa kamu berhak untuk bertaubat.” Maka wanita itu menjerit bahagia dan berkata, “Aku memiliki sebuah taman, maka ia aku sedekahkan kepada orang-orang miskin sebagai penebus dosa-dosaku.” Lalu aku pun menyebutkan ayat: kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.”

Demikian jelas bagi siapa pun yang masih ada sedikit iman dalam hatinya, yang masih mempunyai harapan untuk kembali ke jalan yang benar, meninggalkan segala kemaksiatan dan kenikmatan duniawi yang hanya semakin menjerumuskannya ke jurang kehancuran.

Taubat Nasuha

Taubat Nasuha itu adalah bentuk taubat yang tidak akan ada kata kembali (untuk melakukan dosa yang diperbuat) setelah melaksanakan taubat tersebut, sebagaimana air susu tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Khatthab, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, dan sahabat Mu’adz bin Jabal mengangkat pendapat ini hingga sampai kepada Rasulullah Saw.

Ulama tafsir, al-Qurthubi, mengatakan bahwa taubat nasuha adalah di mana di dalamnya terkumpul empat hal: istighfar dengan lisan, menjauhkan diri dari dosa dengan anggota badan, bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa dengan hati, dan terakhir adalah meninggalkan perkara yang buruk.

Untuk dapat melaksanakan bagaimana taubat nasuha itu, paling tidak dapat dengan melakukan apa yang disebutkan ulama berikut tentang bagaimana kita mengimplementasikan sikap yang memenuhi kriteria taubat nasuha.

Mencermati pendapat-pendapat para ulama tentang taubat nasuha, saya kemudian menyimpulkan secara sederhana pendapat-pendapat tersebut bahwa taubat nasuha itu meliputi tiga “illat”: yaitu qillat (merasa kecil), Illat (merasa ada penyakit), dan dzillat (merasa hina). Kemudian, ciri-ciri perilaku orang yang bertaubat, yaitu 3S: sedikit bicara, sedikit tidur, dan sedikit makan. Sedangkan karakteristik orang yang bertaubat adalah 3M, yaitu memerangi hawa nafsu, memperbanyak air mata, dan mematikan rasa lapar dan dahaga.

 

Itulah hakikat taubat nasuha yang dijelaskan dalam firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”[7]

 

Dalam ayat di atas Allah menjadikan dileburkannya keburukan dan kejahatan sebagai benteng dari kejahatan tersebut, yakni dengan hilangnya apa yang dibenci oleh seorang hamba dan memasukkannya ke surga-Nya. Jadi, seorang hamba akan berhasil mendapat apa yang dia sukai disebabkan oleh taubat nasuha yang dilaksanakannya. Betapa indahnya sekiranya para marketing “bahlul” ataukah businessmen yang selama ini masih bergelimang dengan dosa, bersegeralah dengan taubatun nasuha.

 

Syaikh Ibnu Jauzi[8] melukiskan ajakan taubat itu dengan kata-kata yang sangat indah dan menyentuh: Wahai orang menunda-nunda taubat hingga tua! Wahai orang yang menyia-nyiakan masa muda dengan kelalaian! Wahai orang terusir dengan dosa-dosanya dari pintu Tuhan! Apabila engkau telah lengah pada masa mudamu dan pada masa tuamu, engkau masih juga menunda-nunda waktu, lalu kapan engkau akan berdiri di depan pintu Tuhan? Berapa banyak janji Tuhan yang telah Dia penuhi bagimu? Bukanlah demikian perbuatan orang-orang yang mengaku cinta!

Lahiriahmu tanpak makmur, tapi batinmu kosong melompong! Berapa banyak kemaksiatan yang telah kamu lakukan? Berapa banyak penyimpangan yang telah engkau buat? Berapa banyak riya’ yang telah engkau tampakkan dan berapa banyak tabir yang telah engkau singkap? Masa-masa baik sepanjang umurmu telah berlalu dalam dosa-dosa. Apakah kiranya engkau akan kembali kepada kebenaran?

Sungguh merupakan suatu kelalaian bila engkau baru bertaubat setelah dimakan usia. Seandainya engkau sudah taat pada masa mudamu, tentu penghitungan amal (hisab) akan menjadi ringan bagimu. Kini, mana mungkin itu terwujud, karena usiamu telah habis dalam kelalaian dan mencari kenikmatan dunia. Bila uban di rambutmu telah memberi peringatan kepadamu untuk segera berangkat ke arah jalan-Nya, tetapi engkau belum juga mempersiapkan bekal, maka dengan apa engkau memberi jawaban kelak? Sungguh mengherankan orang-orang yang tenggelam dalam kemaksiatan itu, bagaimana mereka bisa hidup dengan nyaman, padahal Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari Kiamat), maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka).”[9]

 

Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Wasi’ pernah melihat beberapa pemuda di dalam masjid. Mereka itu sebelumnya pernah tenggelam dalam lautan kemaksiatan dan kesesatan. Muhammad lalu bertanya kepada mereka, “Apakah bagus menurut kalian, bila kalian memiliki kekasih lalu si kekasih itu berpaling dari kalian untuk mencari pria lainnya?”

“Tidak!” jawab mereka.

“Kalian ini duduk di dalam rumah Allah, tetapi kalian menyalahi perintah-Nya, membicarakan keburukan orang-orang,” kata Muhammad bin Wasi’ lagi.

“Kami telah bertaubat,” jawab mereka.

“Wahai anak-anakku. Dia itu Tuhan kalian dan kekasih kalian. Apabila kalian mendurhakai-Nya, lalu Dia ditaati oleh orang lain, maka kalian tidak akan memperoleh-Nya. Orang lain itulah yang akan mendapatkan-Nya. Tidakkah itu sangat merugikan kalian?” kata Muhammad.

“Tentu,” jawab mereka.

“Siapa-siapa yang menyalahi-Nya, mungkin Dia akan menyiksanya. Dan jika Dia menyiksanya, apakah kalian tidak akan menyesali masa muda kalian ketika kalian nanti dihukum dengan siksaan dan api neraka, sementara orang lain memperoleh pahala dan surga?” katanya lagi.

“Ya benar,” jawab mereka.

Kemudian para pemuda itu benar-benar bertaubat secara total kepada Allah Ta’ala.

Sumber: Dikutip dari buku Muhammad Syakir Sula, “Marketing Bahlul”, diterbitkan oleh Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008. Hal 338-349.


[1] Hadis Riwayat Muslim No. 2757

[2] Hadis Riwayat Muslim No. 2744

[3] Abdullah Abdurrahman al-‘Adawi Nawwarah, Tetes-Tetes Air Mata Taubat, Mirqat Publishing, Jakarta, 2007.

[4] Hadis Riwayat Muslim No. 2755

[5] Hadis Riwayat Muslim No 2754

[6] Al-Qur`an Suran al-Furqan (25), Ayat 68-70

[7] Al-Qur`an Surat at-Tahrim (66), Ayat 8

[8] Ibnul Jauzi, Bahr ad-Dumu’ (Samudera Air Mata), Terjemahan, Khatulistiwa Press, Jakarta, 2008.

[9] Al-Qur`an Surat Saba’[34]: 51.

 

sumber http://syakirsula.com/index.php?option=com_content&view=article&id=168:pintu-taubat-terbuka-lebar-&catid=25:marketing-bahlul&Itemid=74

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s