.:: Perang KEINGINAN ::.

 

Manusia hidup dan digerakkan oleh keinginan. Waktu dan segala yang dimiliki manusia dikonsumsi dan dipergunakan untuk merealisasikan keinginan. Tetapi sebuah pertanyaan menghadang kenyataan aksiomatis ini; yaitu kenginan seperti apa dan keinginan siapa yang patut selalu diikuti?

Manusia dalam posisinya dengan keinginan terbagi menjadi beberapa golongan:

Pertama, manusia yang hanya mengikuti keinginan dirinya. Tidak ada yang penting baginya kecuali yang dia mau. Barangkali dia mengira bahwa dirinya merdeka. Merdeka menentukan segala yang dia mau. Merdeka juga berpikir apa saja yang dia bayangkan. Independensi memang penting untuk membentuk kepribadian. Tanpa independensi seorang manusia hanyalah angka satuan yang tidak terlalu penting di tengah milyaran manusia. Tetapi independensi ada batasnya. Manusia yang tidak mengenal batas dirinya cenderung egois dan egosentris. Lebih jauh bahkan al-Qur’an menyebut manusia seperti ini sebagai manusia yang menyembah hawa nafsunya. Allah berfirman di surat al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)

23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah: 23)

Rasulullah SAW juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد

“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Kedua, manusia yang tidak punya keinginan independen. Dia selalu didorong oleh pihak luar. Lingkungan, teman, orang tua, bahkan seterunya selalu menjadi pusat perhatiannya, dan selalu mendorongnya untuk bereaksi. Orang seperti ini tidak punya pendirian. Apa kata orang itulah katanya. Ke manapun angin berhembus ke sanalah dia berlayar. Orang seperti sangat dikecam Rasulullah, beliau berkata:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا. رواه الترمذي

“Janganlah kalian menjadi orang tidak berpendirian, yang mengatakan ‘jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zhalim, kami juga berbuat zhalim.’ Tetapi kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zhalim, jangan kalian berbuat zhalim.” (HR at-Turmudzi)

Ketiga, manusia yang selalu berperang antara kemauan dirinya dan kemauan orang lain, dan juga kemauan Sang Pencipta. Dia selalu ingin mendapatkan penerimaan semua pihak tetapi tidak rela mengorbankan keinginan dan ambisi atau syahwatnya. Golongan seperti ini selalu diombang-ambingkan ketidakpastian tujuan. Peperangan sengit dan rumit terjadi dalam diri mereka. Yang mampu menemukan dirinya dalam naungan Allah akan selamat, tetapi yang terus tak mampu menemukan skala prioritas akan hidup dalam pederitaan batin dan gejolak pemikiran yang tak berakhir. Allah membuat perumpamaan terhadap orang seperti ini:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الزمر: 29

29.” Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS az-Zumar: 29)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني

“Barang siapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari musibah seperti itu.

 

Keempat, manusia yang menenggelamkan dirinya dalam keinginan Sang Pencipta. Dia hanya menginginkan keridhoan Allah. Dia tahu bahwa dia hanya makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Manusia golongan ini adalah manusia luhur dan suci. Mereka menghayati firman Allah “Katakanlah bahwa sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Tetapi beberapa tantangan serius menghadapi mereka. Tidak sedikit kegagalan terjadi jika anak Adam ini tidak berhasil menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Tantangan pertama adalah tantangan pemahaman. Sejauh mana anak manusia memahami apa yang Allah SWT tuntut darinya. Berapa banyak orang yang serius beribadah bahkan mengorbankan segala yang dia miliki untuk suatu hal yang sebetulnya tidak dituntut darinya. Betapa banyak kewajiban ditinggalkan karena melaksanakan ibadah sunah yang tidak prioritas dalam neraca Syariah. Betapa banyak kewajiban kolektif diabaikan padahal itu menyangkut kepentingan umum disebabkan sang manusia lebih asyik dengan ibadah personal yang porsinya bisa dibatasi. Betapa banyak bid’ah yang dianggap sunnah. Betapa banyak sunnah yang dianggap bid’ah.

Tanpa berpegang teguh pada pemahaman yang benar terhadap Qur’an dan Sunnah, sangat sulit seorang muslim dapat dengan tepat melaksanakan peranan dan tugas yang dituntut darinya.

Kesalahan yang paling parah adalah yang terjadi pada golongan yang menganggap bahwa penyerahan diri terhadap Allah adalah bersikap fatalis atau yang dikenal dengan kaum Jabriyah. Bahwa manusia hanya dituntut menyerah pada takdir, tidak perlu berusaha atau merencanakan masa depan yang baik. Iman kepada takdir mereka pahami sebagai sikap pasif terhadap usaha perubahan.

Umar bin Khaththab pernah begitu gusar dengan pemahaman seperti ini, ketika beliau dan beberapa sahabat hendak memasuki daerah yang dilanda wabah. Setelah bermusyawarah akhirnya diputuskan untuk membatalkan kunjungan ke daerah tersebut. Salah seorang sahabat menentang putusan itu, dan berkata, “Apakah kita lari dari takdir Allah?” Umar bin Khaththab terkejut dengan tanggapan tersebut, lalu menjawab, “Iya kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

Allah mengecam orang-orang yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk tidak melaksanakan hal-hal yang seharusnya. Allah berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آَبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

148. “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”(QS al-An’am: 148)

Iman kepada takdir adalah kebenaran yang wajib diyakini, tetapi hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjajah oleh masa lalu, tersiksa oleh penderitaan masa yang telah lewat, atau tertipu oleh sesuatu yang membuat kita terlena. Allah jelaskan dalam surat al-Hadid apa yang dimaksudkan dengan iman kepada takdir, Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

22. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadid: 22-23)

Iman kepada takdir membuat seorang muslim tidak tenggelam dalam penderitaan atau tertipu oleh kenikmatan, karena dia sadar bahwa itu semua sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, Yang Maha Bijaksana dan semua yang Allah tetapkan selalu menyimpan hikmah dan kebijaksanaan. Singkat kata iman kepada takdir dapat menghindarkan sesorang dari pedihnya keputus-asaan dan tipuan kesombongan. Di sisi lain Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat untuk kebaikan dirinya. Rasulullah SAW bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان. رواه مسلم

“Bersunguh-sungguhlah meraih hal yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan melemah. Jika Sesuatu menimpamu janganlah engkau berkata, ‘jika dulu aku lakukan ini pasti terjadi begini atau begitu.’ Tetapi katakanlah, Allah sudah menakdirkan, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Karena kata ‘kalau’ membuka perbuatan setan[1].” (HR Muslim)

Kesalahpahaman lain yang sering terjadi dalam beribadah juga adalah pemahaman bahwa ibadah hanyalah terbatas pada hal-hal ritual. Banyak umat Islam yang masih belum memahami universalitas Islam, bahwa perintah Allah juga mencakup segala kebaikan di berbagai aspek kehidupan. Dengan ringan tangan banyak muslim yang menginfakkan jutaan rupiah untuk pergi haji atau umrah. Tetapi jumlah seperti itu sulit didapatkan untuk membangun proyek-proyek yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama. Umat Islam sadar kalau sholat mereka batal kalau mereka berhadats, tetapi banyak tidak khawatir seluruh amalnya batal karena korupsi, kolusi dan menipu.

Kesalahpahaman yang juga banyak terjadi adalah berlebih-lebihan dan beragama. Ada yang berwudhu tapi sambil membuang air dengan mubadzir, ada yang sibuk mengucapkan niat sampai tidak bisa mengikuti sholat dengan baik dan khusyu’, ada yang sibuk dengan memendekkan pakaian sampai lupa memperhatikan hati dan memperbaiki akhlak. Ada yang terlalu berlebihan dalam masalah-masalah aqidah sampai mengkafirkan sebagian besar umat Islam. Ada yang begitu membenci kekafiran tetapi lupa berdakwah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Begitu bahayanya sikap berlebih-lebihan dalam agama sampai Rasulullah SAW memperingatkan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ. رواه النسائي وابن ماجه والبيهقي والطبراني في الكبير وابن حبان وابن خزيمة وصححه الألباني

“Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR an-Nasa’I, Ibnu Majah, al-Baihaqi, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Begitu banyak kesalahan dalam beribadah terjadi karena ketidakpahaman terhadap Islam. Sebagian besar bersumber dari jauhnya umat Islam dari pemahaman yang baik terhadap Qur’an dan Sunnah. Jarak yang terjadi bervariasi, mulai dari yang tidak pernah membaca al-Qur’an sama sekali, sampai yang membaca tetapi tidak memahami maknanya. Ada yang memahami sebagian kecil lalu merasa cukup dan merasa sudah pandai, bahkan mengira bahwa Islam hanya terangkum dalam beberapa ayat dan hadits. Ada yang mengaku mengerti al-Qur’an dan meninggalkan Hadits. Ada juga yang serius dengan hadits Nabi SAW tapi justru meninggalkan al-Qur’an dengan tidak mentadabburi al-Qur’an dengan rutin.

Apakah itu semua karena memahami agama Islam sulit? Sama sekali tidak. Tetapi siapapun yang menghendaki suatu tempat tapi tidak melalui jalan yang sesuai pasti tidak akan sampai tujuan. Seperti dikatakan oleh seorang penyair:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا           إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَمْ تَجْرِ عَلَى يَبَسِ

“Kau harap selamat tapi tidak menempuh jalannya

Sesungguhnya bahtera tidak berlayar di atas daratan kering”

 

Tantangan kedua dalam ibadah adalah diri manusia itu sendiri. Dia berhadapan dengan hawa nafsunya yang sering menggodanya untuk meninggalkan perintah Allah. Dia akan berhadapan godaan dari luar, tetapi semua terkait dengan kekuatan tekad dan keteguhan pendirian hamba Allah tersebut.

Ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang jelas dilarang barangkali masalah menjadi jelas. Yang lebih rumit adalah ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang samar (syubhat), disini dua persoalan merajut satu sama lain sehingga memperumit tantangan. Yang lebih rumit lagi adalah ketika hawa nafsu mendapatkan pembenaran yang palsu. Ketika dalil-dalil syar’I yang mutasyabihat (yang samar) dapat digunakan untuk membenarkan pelanggaran.

Semua tantangan itu tidak mudah. Karena itu ibadah seorang hamba tidak akan sempurna tanpa memohon pertolongan Allah. Oleh sebab itu poros al-Fatihah yang harus diulang-ulang seorang muslim adalah: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” (Kepada engkau kami menyembah, dan kepada engkau kami memohon pertolongan). Seorang muslim yang menyembah Allah tanpa memohon pertolongan dari-Nya, niscaya akan terjebak dan terjatuh dalam tantangan-tantangan yang sulit dalam perjalan hidup yang penuh dengan ujian.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita. Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/03/2105/perang-keinginan/#ixzz2DgRx5KQT

Advertisements

Berjubah belum tentu Sholeh

SUATU hari, ketika Nabi Daud sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud, tetapi Nabi Daud tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru datang itu.

Laki-laki tersebut lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu. Setelah melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

Nabi Daud tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya. Semua murid Nabi Daud merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud tidak memberikan contoh yang baik.

Pria berjubah bersih tersebut terdengar menangis tersedu-sedu ketika berdoa. Sesudah itu ia berdiri, lalu keluar dari sinagog tempat peribatan mereka setelah meminta diri dengan mengucapkan salam. Namun Nabi Daud tetap tidak menaruh hormat sama sekali. Semua murid Nabi Daud sangat iba melihat nasib tamu yang malang barusan.

Maka sesudah Nabi Daud mengakhiri pelajaran tentang akhlak yang baik, salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan.

  •   “Wahai, Nabiyullah. Saya ingin bertanya.”

“Tanyalah,” jawab Nabi.

  •   “Bukankah engkau mengajarkan kepada kami untuk menghormati tamu?”

“Betul.”

  •   “Tetapi mengapa engkau tadi tidak memperlihatkan akhlak terpuji kepada tamu?”

 

“Sebab dia tidak tahu budi pekerti. Apakah kalian tidak ingat bagaimana caranya memasuki majelis tatkala guru sedang mengajar? Mula-mula kaki kanan melangkah terlebih dahulu sebagai tanda menghormati sinagog kita. Kemudian tidak seharusnya dia mengucapkan salam, melainkan langsung duduk dan ikut mendengarkan.”

 

  •   “Barangkali dia belum tahu tatacaranya.”

 

“Tapi jubah dan surbannya menunjukan seolah-olah dia orang alim, bukan? Apakah pantas kalau dia orang alim tidak mengetahui sopan santun memasuki tempat peribadatan dan tempat mengajar?” sanggah Nabi Daud. “Orang seperti itulah yang akan menjatuhkan agama kita, karena tidak sesuai antara penampilan dan sikapnya.”

 

  •   “Tapi tadi dia sembahyang lama sekali,” sahut si murid.

 

“Itulah tanda kepalsuannya. Ia hanya ingin memamerkan kesalihannya, padahal dia bukan orang baik. Ia sembahyang buat kita, tidak buat tuhan.”

 

  •   “Ia berdoa panjang sambil menangis.”

 

“Apakah doa panjang menjamin keikhlasan? Bukankah tuhan lebih menyukai doa yang khusyuk dan yakin? Kalau ia ingin menangis, tidak selayaknya di depan kita. Menangislah yang sedih di depan tuhan ketika sendirian, dalam sembahyang malam pada waktu orang lain tengah lelap dan tidak melihat tangisnya.”

 

  •   “Wajahnya mulus sekali seperti orang yang ikhlas. Pakaiannya serba putih melambangkan warna hatinya. Apakah ia bukan orang yang takwa?”

 

“Takwa tidak dilihat dari rupanya, juga tidak dilihat dari pakaiannya. Tuhan hanya melihat hati manusia, dan dinilai dari perbuatannya, sesuai atau tidak dengan syariat dan adab agama. Manusia tidak dihargai dari bungkusnya, melainkan dari isinya, dari mutu kemanusiaannya.”

Dengan penjelasan tersebut mengertilah murid-murid Nabi Daud bagaimana seharusnya menghayati agama dengan menjalankan semua ketentuannya, tidak sekedar membangga-banggakan melalui ucapan dan pernyataan.

[disadur dari: 30 Kisah Teladan oleh KH Abdurrahman Arroisi]

sumber http://mencintaisederhana.blogspot.com/2012/11/berjubah-belum-tentu-salih.html

:: 1 Kesulitan, 2 Kemudahan ::

 

Selama hidup di dunia, seorang manusia terus saja mendapati kesusahan dan kesulitan. Semenjak dilahirkan, di masa kecil, remaja dewasa, bahkan sampai kematian pun berbagai kesulitan senantiasa mengiringi. Ini adalah ketetapan Allah bagi manusia, selama mereka belum kembali ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Allah ta’ala berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (al-Balad: 4)

Dan ini adalah suatu kewajaran, karena Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat ujian dan cobaan bagi umat manusia. Tidak dinamakan cobaan jika tidak ada kesulitan sama sekali di sana. Oleh karenanya, bukanlah suatu keinginan realistis ketika seseorang ingin menghindari semua kesulitan. Akan tetapi seorang yang cerdas lagi mengetahui hakikat akan berusaha mencari tahu bagaimana sikap yang harus ditempuh dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Hikmah dibalik kesulitan

Sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan kita di dunia ini dengan tujuan agar kita beribadah hanya kepada Allah. Kita menghamba, tunduk, patuh, menghinakan diri dan merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala. Inilah tujuan utama, dan inilah tujuan yang paling mulia. Maka, ketika Allah mentakdirkan berbagai ketetapan-Nya bagi manusia, tidak lain karena Allah menginginkan agar manusia kembali kepada-Nya untuk merealisasikan tujuan hidupnya di dunia ini.

Tidaklah Allah menimpakan suatu musibah kepada manusia, kecuali bertujuan agar dia kembali kepada-Nya. Sehingga, sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh orang yang tertimpa musibah adalah perkataan,
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali hanya kepada-Nya.”

Kalimat ini mengandung makna bahwa kita semua adalah makhluk yang dikuasai, dimiliki dan dibawah pengaturan Allah ta’ala. Sedangkan kita semua akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak. Sehingga ketika Allah berkehendak menimpakan musibah kepada kita, maka itu adalah hak-Nya, dan kita tidak berhak memprotes. Kita berkewajiban untuk bersabar menghadapi musibah itu, karena sabar terhadapnya adalah diperintahkan oleh-Nya.

Tentang makna kalimat tersebut, Fudhail bin ‘Iyadh v, mengatakan, “Barangsiapa mengetahui (meyakini) bahwa dirinya akan kembali kepada Allah, hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dihadapkan di hadapan Allah. Barangsiapa mengetahui dirinya akan dihadapkan di hadapan Allah, hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan ditanya di hadapan Allah. Barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya di hadapan Allah, hendaknya dia mempersiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan.”

Sehingga berbagai kesulitan dan musibah yang menimpa hamba, sesungguhnya adalah pengingat bagi hamba akan kerendahan dan kelemahan dirinya dihadapan Allah. Pengingat bahwa dia akan kembali kepada Allah ta’ala. Yang dengan itu diharapkan dia akan kembali menghamba kepada Allah, mempersiapkan diri menyambut akhirat dengan ketakwaan.

Ada Kemudahan bersama Kesulitan

Dari paparan tersebut, kita mengetahui ternyata Allah menimpakan musibah dan menakdirkan kesulitan bukan untuk menyulitkan hamba-Nya, apalagi menzhaliminya. Maha suci Allah dari hal demikian. Akan tetapi, musibah dan kesulitan itu adalah ujian yang manfaatnya akan kembali kepada hamba, yang kebanyakan adalah sebagai akibat dari ulah hamba itu sendiri.

Dan jika kita benar-benar memperhatikan musibah dan kesulitan yang Allah takdirkan, niscaya kita akan mendapati bahwa bersama setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan yang mengiringinya. Ini adalah kenyataan, dan ini adalah janji Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (*) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (asy-Syarh: 5-6)

Syekh Abdurrahman as-Sa’di v menjelaskan, ayat ini merupakan kabar gembira bahwa setiap kesusahan dan kesulitan pasti diiringi oleh kemudahan. Sehingga seandainya kesulitan itu masuk ke dalam liang binatang Dhab, niscaya kemudahan juga akan ikut masuk dan mengeluarkannya.

Beliau juga menjelaskan, bahwa sebuah kesulitan akan diiringi oleh dua kemudahan. Maka satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan. Dan kesulitan yang dimaksud adalah umum, mencakup segala bentuk kesulitan. Seberapa besar pun tingkat kesulitan pasti diakhiri dengan kemudahan. (Lihat Taisirul Karimir Rahman)

Pada ayat tadi, Allah menegaskan dengan perkataan-Nya, “bersama kesulitan” yang hal ini menunjukkan akan dekatnya kemudahan itu setelah datangnya kesulitan. Demikian juga sabda Nabi shollallohu’alaihi wa sallam,
وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Dan sesungguhnya kelapangan ada bersama dengan kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (Riwayat Ahmad)

Allah ta’ala berfirman,
حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلا إنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’” (al-Baqarah: 214)

Dan perlu kita pahami bahwa kemudahan ini terkadang berupa kesuksesan yang Allah berikan kepada hamba-Nya dalam menghadapi kesulitan ini, dan terkadang berupa kelapangan dada untuk sabar dan ridha menerima takdir dan kehendak Allah ini. Sehingga janganlah kita sampai berprasangka buruk kepada Allah ta’ala ketika mendapati suatu kesulitan dan musibah.

Bagaimana meraih kemudahan?

Janji yang Allah berikan kepada hamba-Nya bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, bukan berarti kita boleh berpangku tangan menunggu tanpa usaha meraih kemudahan dari Allah ta’ala. Bahkan Allah ta’ala telah menjelaskan jalan-jalan untuk menggapai kemudahan dan pertolongan dari Allah ta’ala. Karena Allah telah menjadikan segala sesuatu dengan sebabnya. Berikut ini beberapa usaha yang seyogyanya kita lakukan dalam rangka meraih kemudahan dari Allah ta’ala:

– Bertakwa kepada Allah ta’ala.
Berdasarkan firman Allah ta’ala,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

– Bertawakal hanya kepada Allah.
Karena Allah ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

– Bersabar dan menguatkan kesabaran.
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

– Ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69)

– Meluruskan dan menguatkan keimanan.
Allah ta’ala berfirman,
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Rum: 47)

– Mengenal Allah dalam keadaan lapang.
Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam bersabda,
تَعرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاء يَعْرِفْك في الشِّدَّةِ
“Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Allah akan mengenalmu dalam keadaan sempit.” (Riwayat Ahmad)
Maksudnya, jika seorang hamba dalam keadaan lapangnya tetap bertakwa kepada Allah, menjaga batasan-batasan-Nya, dan memperhatikan hak-hak-Nya, berarti dia telah mengenal Allah dalam keadaan lapang. Dan dengan itulah Allah akan menyelamatkannya dari berbagai kesusahan dan kesulitan. Wallahu a’lam.

 

sumber http://gugundesign.wordpress.com/2012/09/16/1-kesulitan-2-kemudahan/

:: Hakikat ISTIQOMAH (Kiat Menggapai Istiqomah #2) ::

10 Kiat Menggapai Istiqomah (Bagian 2)

Segala puji bagi Allāh. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullāh. Amma ba’du.

Sahabat seakidah, pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Telah berlalu nasehat yang pertama dalam kiat-kiat untuk menggapai istiqomah; yaitu bahwasanya istiqomah adalah anugerah dari Allāh. Ia bukanlah hasil dari jerih payah atau usaha manusia semata sehingga kita tidak boleh lupa diri, seolah-olah itu semua merupakan buah kerja keras dan kepandaian kita.

Berikutnya, kiat yang kedua untuk menggapai istiqomah itu adalah memahami dengan baik apa sesungguhnya hakikat istiqomah yaitu meniti jalan lurus (ṣirāṭal mustaqīm); perkara yang senantiasa kita minta setiap hari di dalam ṣalat kita. Bagaimana mungkin kita bisa istiqomah jika kita tidak paham apa itu istiqomah; apa itu jalan lurus yang harus kita tempuh?

Kiat Kedua:
Mengenal Hakikat Istiqomah

Perlu diketahui, bahwa orang yang istiqomah adalah orang yang bertauhid. Yaitu orang yang beribadah kepada Allāh semata serta mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu’anhu tatkala menafsirkan ayat (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allāh, kemudian mereka istiqomah.” Beliau mengatakan,

“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mempersekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 11)

Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu’anhumā juga mengatakan mengenai maksud ‘istiqomah’ pada ayat di atas adalah istiqomah di atas syahadat laa ilaha illallāh. Tafsiran serupa juga diriwayatkan dari Anas, Mujahid, Zaid bin Aslam, ‘Ikrimah, dan lain-lain. Tidak jauh dari makna ini penafsiran Abul ‘Aliyah raḥimahullāh. Beliau berkata, “Maksudnya, kemudian mereka itu mengikhlaskan agama dan amalan untuk-Nya.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 12)

Selain itu, orang yang istiqomah adalah yang konsisten melaksanakan amal-amal yang diwajibkan kepadanya. Sebagaimana tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu’anhumā mengenai ayat tersebut. “Kemudian mereka istiqomah” maksudnya adalah,

“Kemudian mereka istiqomah dalam menunaikan hal-hal yang diwajibkan oleh-Nya.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 12)

Bisa juga dimaknakan dengan makna yang lebih luas; bahwasanya orang yang istiqomah adalah yang tidak melalaikan ketaatan kepada-Nya. Dia terus konsisten dengan ketaatan; yaitu menjalankan perintah-perintah Allāh dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Qatadah raḥimahullāh menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 13)

Dengan kata lain, istiqomah adalah konsisten di atas ajaran agama Islam. Tegak di atas Sunnah Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Tunduk kepada hukum-hukum Allāh dan Rasul-Nya.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan,

“Hakikat istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus; yaitu agama yang benar ini. Tanpa melenceng ke kanan maupun ke kiri. Sehingga istiqomah itu mencakup segala ketaatan yang dilakukan, lahir maupun batin. Ia pun mencakup tindakan meninggalkan segala larangan -baik yang lahir maupun yang batin, pent-…” (lihat ‘Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 13)

Jalan Lurus vs Jalan Setan

Allāh ta’ālā berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa ‘alaihis salām (yang artinya),

“Maka bertakwalah kalian kepada Allāh dan taatilah aku. Sesungguhnya Allāh adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 50-51, lihat juga QS. Az-Zukhruf: 63-64).

Syaikh as-Sa’di raḥimahullāh berkata,

“Inilah, yaitu penyembahan kepada Allāh, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’ yang mengantarkan kepada Allāh dan menuju surga-Nya. Adapun yang selain jalan itu adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 132)

Termasuk dalam cakupan jalan lurus adalah menjauhi segala kekafiran dan kemaksiatan yang itu merupakan syi’ar ajaran setan. Allāh ta’ala berfirman (yang artinya),

“Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian menyembah setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60-61).

Syaikh as-Sa’di raḥimahullāh menerangkan, bahwa yang dimaksud beribadah kepada setan adalah menaati ajakan-ajakannya, sehingga ‘menaati setan’ itu mencakup segala bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allāh, taat kepada-Nya, dan mendurhakai setan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 698)

Dalam memaknai jalan lurus ini memang terdapat beberapa penafsiran di kalangan para ulama.

  • Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu’anhumā mengatakan bahwa yang dimaksud jalan lurus adalah Islam.
  • Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu’anhu mengatakan bahwa maksudnya adalah al-Qur`ān.
  • Bakr bin Abdillāh al-Muzani berkata bahwa maksudnya adalah jalan Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Semua penafsiran ini tidak bertentangan dan saling menjelaskan. Barangsiapa yang istiqomah di atas jalan yang lurus yang bersifat maknawi ketika hidup di dunia, kelak di akhirat dia akan selamat ketika meniti ṣiraṭ yang sebenarnya; yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka.

(lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 21, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/37])

Kesimpulan

Apabila kita cermati keterangan-keterangan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa seorang yang ingin istiqomah harus menjauhi hal-hal sebagai berikut:

  1. Syirik; karena ini merupakan dosa terbesar yang akan melemparkan seorang keluar dari jalan lurus sejauh-jauhnya, dan syirik itulah target utama dakwah setan kepada umat manusia.
  2. Riya’; karena ia bertentangan dengan keikhlasan dan lebih berat dosanya daripada dosa-dosa besar, walaupun memang pelaku riya’ tidak menjadi kafir sebagaimana pelaku syirik akbar.
  3. Melalaikan kewajiban; sebab amal atau ibadah yang wajib lebih dicintai oleh Allāh daripada ibadah-ibadah yang sunnah/mustaḥab. Meninggalkan amal yang wajib mengakibatkan konsekuensi dosa dan siksa, tidak sebagaimana amalan mustaḥab
  4. Menerjang larangan; sebab ketaatan hanya akan terwujud dengan menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. Orang yang senantiasa bergelimang dengan larangan Allāh sulit untuk istiqomah. Termasuk perkara yang dilarang adalah bid’ah.
  5. Kekafiran dan maksiat secara umum; karena orang yang terjerumus dalam kekafiran dan maksiat pada hakikatnya telah berubah menjadi pemuja setan, bukan hamba Allāh yang sejati.
  6. Meninggalkan al-Qur`an; yaitu dengan tidak membacanya, tidak merenungi artinya, tidak melaksanakan ajarannya, tidak membenarkan beritanya, dan tidak tunduk kepada hukum-Nya.

sumber http://pemudamuslim.com/nasehat/10-kiat-menggapai-istiqomah-bagian-2/

:: Kiat menggapai ISTIQOMAH ::

10 Kiat Menggapai Istiqomah (Bagian 1)

Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Kehidupan, memang tak selamanya lurus dan mulus. Ada saja aral melintang, duri yang menusuk, lubang yang menjebak, dan batu sandungan yang mengganjal perjalanan kita menuju kampung keabadian. Di sanalah kelak, kita akan memetik pahit atau manisnya buah sejarah hidup kita di alam dunia yang fana ini.

Pada kesempatan ini, perkenankanlah kami untuk menyampaikan kembali nasehat-nasehat yang telah ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr ḥafiẓahullāh dalam sebuah buku mungil yang berjudul “Sepuluh Kaidah Dalam Istiqomah”. Di dalamnya, beliau memaparkan kiat-kiat yang sangat bermanfaat bagi kita yang ingin termasuk golongan orang-orang yang selamat dunia dan akhirat. Kepada Allāh semata kita memohon taufik dan pertolongan…

Kiat Pertama:
Istiqomah Adalah Anugerah Ilahi

Ketahuilah saudaraku -semoga Allāh memberikan taufik kepada kita- sesungguhnya keistiqomahan seorang hamba merupakan karunia dan anugerah dari sisi Allāh ta’ālā. Ia bukanlah semata-mata hasil jerih payah, kecerdasan dan kekuatan dirinya.

Jangan ada yang mengira bahwa keistiqomahan yang dia peroleh semata-mata karena kehebatan dirinya! Jangan ada yang menyangka bahwa keistiqomahan dirinya adalah karena kepandaian ilmunya! Jangan ada yang mengira bahwa keistiqomahan yang dia miliki adalah karena ketekunannya dalam beribadah ataupun berdakwah!

Ingatlah, istiqomah adalah anugerah dan pemberian Allāh kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya…

Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),

“Allāh mengajak kepada negeri keselamatan, dan Allāh memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya menuju jalan yang lurus.” (QS. Yunus)

Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),

“Barangsiapa yang Allāh kehendaki maka Allāh akan menyesatkan dirinya dan barangsiapa yang Allāh kehendaki maka Allāh akan jadikan dia berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’ām)

Oleh sebab itulah, diantara doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah doa,

 ”Yā Muqallibal qulūb, abbit qalbī ‘alā dīnika

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Ummu Salamah radhiyallāhu’anhā pun bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah hati manusia itu sering berbolak-balik?”

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Benar. Tidaklah ada seorang pun manusia kecuali hatinya berada diantara dua jari jemari Allāh. Apabila Allāh ‘azza wa jalla berkenan maka Allāh akan meluruskan hati itu dan apabila berkehendak maka Allāh pun akan menyimpangkannya.”

(HR. Aḥmad dan Tirmidzi serta beliau menghasankannya, lihat aṣ-Ṣaḥīḥah [2091])

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr ḥafiẓahullāh berkata,

“Oleh sebab itu, keistiqomahan itu ada di tangan Allāh. Barangsiapa yang menginginkannya, hendaklah dia memohon hal itu kepada Allāh dan sudah sepantasnya dia merengek-rengek ketika mengajukan permintaannya itu.” (lihat ‘Asyara Qawā`id fil Istiqāmah, hal. 8 cet. Dār al-Faḍīlah)

Saking besarnya kebutuhan kita kepada hidayah inilah, Allāh perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya hidayah kepada jalan yang lurus setiap hari di dalam sholat kita, yaitu dalam surat al-Fatihah yang senantiasa kita baca dalam setiap raka’at sholat kita. Ihdinaṣ ṣirāṭal mustaqīm

Ini adalah doa yang kita panjatkan untuk memohon hidayah kepada-Nya. Agar kita bisa tegak di atas ṣirāṭal mustaqīm; yaitu jalannya orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Bukan jalannya orang-orang yang tidak mengenal kebenaran. Bukan pula jalannya orang-orang yang mencampakkan kebenaran setelah dia mengetahuinya.

Adalah Ḥasan al-Baṣrī raḥimahullāh, apabila beliau membaca ayat

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Rabb kami adalah Allāh kemudian mereka istiqomah.”

Maka, beliau mengatakan, “Ya Allāh, Engkau adalah Rabb kami! Maka curahkanlah kepada kami ini rizki berupa keistiqomahan.” (lihat Asyara Qawa’id fil Istiqomah, hal. 10)

Demikianlah sekelumit nasehat dan pelajaran yang bisa kami sarikan dari kiat yang pertama ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Kesimpulan:

Dari penjelasan singkat di atas, kita dapat memetik hikmah, bahwa sebagai seorang hamba kita senantiasa membutuhkan pertolongan dan bimbingan Allāh.

Karena Allāh adalah Rabb Yang menguasai langit dan bumi dan karena Allāh adalah Rabb Yang membolak-balikkan hati, semestinya kita menundukkan hati dan pikiran kita kepada-Nya.

Diantara perkara yang paling kita butuhkan di dalam hidup ini adalah hidayah dan ilmu. Kalau Allāh tidak menolong kita, siapakah yang bisa menyelamatkan kita yang lemah dan penuh dengan dosa ini? Kalau Allāh tidak mencurahkan hidayah-Nya kepada kita, mungkin kita tidak mengenal Islam, tidak mengerjakan sholat, tidak berpuasa, tidak bersedekah, dan tidak berdakwah.

Kalau Allāh tidak selamatkan diri kita, mungkin kita sudah larut dan tenggelam dalam kehidupan ala binatang, kehidupan yang tidak mengenal halal dan haram, kehidupan yang tidak mengenal syari’at Allāh dan Rasul-Nya, kehidupan yang gelap gulita penuh dengan maksiat dan dosa. Syirik, bid’ah dan kekafiran pun merajalela serta mendarah daging dalam jiwa dan raga kita.

Aduhai, saudaraku yang mulia. Kalau bukan karena hidayah Allāh, kita ini bukan apa-apa. Kita tidak mengenal akidah, tidak mengenal tauhid, tidak mengenal yang namanya ketaatan, tidak mengenal yang namanya Sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, tidak mengenal yang namanya “mengaji” dan ṭalabul ‘ilmi, tidak mengenal ulama, tidak mengenal dakwah, tidak mengenal al-Qur`ān, tidak mengenal kenikmatan membaca ḥadiṡ-ḥadiṡ nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan kitab-kitab para ulama, serta tidak mengenal manhaj salaf yang mulia ini.

Siapakah kita?

Siapakah kita?

Kita bukan siapa-siapa…

Kita adalah hamba yang lemah dan harus senantiasa bersimpuh dan memohon kepada-Nya…

Agar Allāh menyelamatkan kita dari pedihnya siksa Neraka …

Agar Allāh membebaskan kita dari gelapnya dosa …

Agar Allāh bersihkan kita dari kotoran-kotoran di dalam hati kita …

Agar Allāh menjadikan kita sebagai hamba-Nya …

Bukan hamba harta dan jabatan, bukan hamba popularitas dan kedudukan, bukan hamba dunia atau budak hawa nafsu…

Ya Allāh, berikanlah hidayah kepada kami… Ya Allāh, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Hidayah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat….

 

sumber    http://pemudamuslim.com/nasehat/10-kiat-menggapai-istiqomah-bagian-1/

::: 10 Sebab PENGHAPUS DOSA :::

 

Nash-nash al-Qur`an dan Sunnah telah menunjukkan bahwa hukuman dosa (siksa) dapat dihapuskan dari seorang hamba dengan sepuluh sebab berikut ini:

1. Taubat Nasuha.

Yaitu taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka ia (taubat nasuha) dapat meleburkan dosa sebelumnya. Dan Allah Subhanahu Wata’ala Maha menerima taubat hamba-hambaNya yang mau bertaubat kepadaNya.

Dan orang yang bertaubat dari segala dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. asy-Syura: 25).

Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman, artinya, “Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-A’raf: 153).

2. Beristighfar.

Yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya Allah akan mengampuni hamba-hambaNya yang meminta ampunan (beristighfar) kepadaNya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa`: 110).

Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman, artinya, “Dan Tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. al-Anfal: 33).

Begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, artinya, “Wahai anak cucu Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit, lalu kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu.” (HR. at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”

Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman dalam hadits qudsi, artinya, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa) di waktu malam dan siang hari, sedangkan Aku lah yang dapat mengampuni semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Muslim).

3. Kebaikan-kebaikan menghapuskan dosa-dosa.

Seperti shalat, shadaqah, puasa, haji, membaca al-Qur`an, berdzikir kepada Allah, berdo’a, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua, silaturrahim, dan lain-lain. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat-shalat yang lima waktu, jum’at ke jum’at, ramadhan ke ramadhan dapat meleburkan dosa diantara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhkan.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Dan ikutilah perbuatan buruk/ kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia menghapuskannya.” (HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Sesungguhnya satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh kali lipat, adapun keburukan akan dibalas yang serupa dengannya. Maka celakalah bagi orang yang berguguran (kalah) satu persatu dari sepuluh sebab tersebut.

4. Doa orang-orang yang beriman.

Maksudnya mereka memohon ampunan (kepada Allah, pen.) untuk orang yang beriman (lainnya) baik ketika hidup maupun setelah mati dan khususnya pada saat ketidak beradaannya (tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, pen.) dan begitu juga doanya atas saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuannya, pen.) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus berkata, ‘Amin, dan bagimu sepertinya (seperti orang yang didoakan, pen.).” (HR. Muslim).

5. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan/ diniatkan untuk si mayyit .

Seperti shadaqah; puasa; haji; membebaskan budak; dan yang lainnya. Para ulama berpendapat, “Amal shalih apa pun (yang dapat mendekatkan diri kepada Allah) yang dia kerjakan dan dia peruntukkan pahalanya untuk seorang muslim baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, maka hal itu bermanfaat baginya.” Dan yang lebih utama adalah mencukupkan dalam hal tersebut pada apa yang dijelaskan/ ditetapkan oleh nash-nash (al-Qur`an dan Sunnah).

6. Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan selainnya.

Maksudnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan selain beliau akan memberikan syafa’at kepada orang-orang yang berbuat dosa pada hari Kiamat dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana hal tersebut ditetapkan di dalam hadits-hadits shahih.

7. Musibah-musibah.

Dengannya lah Allah Subhanahu Wata’ala menghapuskan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan (yang dilakukan oleh hamba-hambaNya, pent.) di dunia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;bersabda, “Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

8. Apa yang didapatkan oleh seorang hamba ketika di dalam kubur.

Yakni berupa fitnah, himpitan liang kubur, kengerian, maka ini semua di antara yang dapat menghapuskan dosa-dosa.

9. Rasa takut, kesusahan serta kengerian terhadap kedahsyatan hari kiamat.

10. Rahmat Allah Subhanahu Wata’ala

Sesungguhnya karena rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, semua hamba mendapatkan maaf dan ampunanNya tanpa sebab, maka Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana Dia berfirman, artinya, “Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” (QS. an-Nisa`: 48 dan 116).

Dan Dia lah yang Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya dan sungguh rahmat Allah Subhanahu Wata’ala meliputi segala sesuatu.(Abu Nabiel).

Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah”, karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary.Diposting oleh : Abdurrahman Al-Maluky

sumber http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=599

::: Pintu TAUBAT terbuka lebar :::

Jangan berputus asa, jangan bersedih, dan jangan frustasi, karena pintu taubat terbuka lebar bagi siapa saja hamba Allah yang ingin kembali kepada-Nya. Jika Anda termasuk orang yang sedang bergelimang dalam dosa dan kemaksiatan, Anda termasuk laki-laki yang tiada hari tanpa maksiat, laki-laki hidung belang, om-om PK (penjahat kelamin), tukang “jajan”, ahli selingkuh, “pejantan” haram, ataukah Anda seorang wanita yang tak ada malam tanpa perzinahan, ABG “Mall”, mahasiswi ‘bispak’ bisa dipake, sexy dancer, penari striptease, Anda termasuk ‘jajali’ janda-janda liar, atau ibu-ibu ‘jablai’ jarang dibelai, atau apa saja gelar-gelar “profesional” lainnya, sesungguhnya pintu taubat senantiasa terbuka.

Jika Anda seorang eksekutif, pelaku bisnis, atau marketer bahlul, kinilah saatnya Anda menyesali semua perbuatan setan itu dan bertaubatlah. Tidak ada kata terlambat. Semuanya bisa dimulai dari sekarang. Sekalipun Anda termasuk pelaku yang kadang bertaubat ketika sadar, dan kadang kembali lagi maksiat dan berbuat dosa ketika iman sedang lemah, sementara “imin” lagi kuat. Ingatlah! Bisa jadi hari ini Anda masih sehat, tapi esok hari Anda tiba-tiba meninggal, tentu tiada kesempatan lagi buat Anda untuk bertaubat.

Coba marilah perhatikan hadis ini. Rasulullah menyampaikan hadis qudsi bahwa Allah Swt. berfirman, “Ada seorang hamba melakukan sesuatu dosa, lalu dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’” Lalu Allah berfirman lagi, “Seorang hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan Yang Maha Mengampuni dosa hamba-Nya, Tuhan Yang Maha menyiksa karena dosa. Dia pun kembali melakukan dosa lagi, lalu dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’” Allah pun berfirman lagi, “Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan Yang Maha Mengampuni dosa, dan mampu menyiksa hamba sebab dosa. Lalu hamba itu kembali melakukan dosa, kemudian dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.’” Allah berfirman lagi, “Hamba-Ku melakukan dosa, dan dia tahu kalau Dia Tuhan Yang Maha Pengampun dan Mampu menyiksa hamba karena dosa. Dan Aku pun berkata, ‘Kerahkanlah kekuatanmu untuk melakukan apa yang kamu sukai, sungguh Aku telah mengampunimu.’”[1]

 

Imam Nawawi menjelaskan maksud hadis di atas, “Selama kamu melakukan dosa, dan kamu bertaubat serta memohon ampunan, maka Allah akan mengampunimu.” Di sinilah keagungan Allah swt, siapa pun pendosa besar, ketika ia menyadari akan kesalahan dan kekhilafannya, lalu bertaubat dan minta ampun dengan penuh kesungguhan, maka berdasarkan hadis di atas, Insya Allah dosanya akan diampuni. Bahkan, Nabi mengatakan bahwa Allah Swt. akan memberi ampunan dan maghfirah kepada hamba-Nya yang benar-benar bertaubat melebihi dari apa yang diharapkannya.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Sesungguhnya Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba terhadap-Ku, dan aku bersamanya saat dia mengingat-Ku.’ Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih bahagia dengan taubat salah seorang di antara kalian daripada orang yang mendapati kesesatannya di padang pasir. Allah Swt berfirman lagi, ‘Barangsiapa mendekati-Ku sejengkal bumi, maka aku akan mendekatinya sejauh satu hasta. Barangsiapa mendekati-Ku sejauh satu hasta, maka Aku akan mendekatinya sejauh satu depa. Jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari kecil.”[2]

 

Firman Allah dalam hadis di atas, “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku,” berarti diberikannya ampunan untuknya jika dia memohon ampunan, atau diterimanya dirinya apabila dia bertaubat, dengan terkabulnya permintaan jika dia berdoa, dan dengan kecukupan jika dia meminta.

Abdullah Nawwarah[3] mengatakan bahwa dalam hadis qudsi ini ada tamsil yang sangat mengagumkan. Seakan firman ini menunjukkan pada sesuatu yang dikagumi banyak orang. Persangkaan ini diumpamakan sebuah jalan yang Anda lewati. Jika Anda meramaikan jalan ini dengan taubat, kembali kepada Allah, dan mencari ampunan, maka di akhir jalan ini Anda akan menjumpai ampunan dan ridha Allah, kemudian Anda akan mendapatkan surga-Nya. Persangkaan ini adalah murni keyakinan akan Allah. Namun jika manusia meramaikan jalan yang dilewatinya ini dengan hawa nafsu dan maksiat, maka dia akan berjumpa Tuhannya di akhir jalannya dengan mendapatkan kerugian, kemurkaan, kebinasaan, dan api neraka.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya orang yang beriman mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada orang yang menginginkan surga. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada orang yang berputus asa dari surga-Nya.”[4]

 

Hadis ini merupakan landasan dasar, agar orang-orang yang maksiat dan orang-orang yang kafir mengetahui bahwa Allah tidak mementingkan maksiat selama orang tersebut bertaubat. Dalam hadis ini juga terdapat penjelasan tentang agungnya taubat di sisi Allah, dan sesungguhnya taubat tidak bisa dibandingkan dengan hal lain apa pun.

Umar bin Khattab meriwayatkan bahwa para tawanan perang datang menghadap Rasulullah Saw. Tiba-tiba di antara tawanan tersebut muncul seorang wanita yang seperti mencari-cari sesuatu. Saat menemukan anak kecil, dia mengambil dan memeluknya serta menyusuinya. Lalu Rasulullah bertanya kepada kami, “Apakah kalian melihat wanita ini melemparkan anaknya ke neraka?” Kami menjawab, “Demi Allah, dia tidak akan mau melemparkan anaknya ke neraka.” Kemudian Rasulullah berkata lagi, “Sungguh Allah adalah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita itu (kepada anaknya).”[5]

Abu Hurairah bercerita: Pada suatu malam, setelah shalat Isya, aku keluar bersama Rasulullah. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang wanita bercadar yang berdiri di ujung jalan, dia berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan dosa besar. Maka apakah aku masih bisa bertaubat?” Aku menjawab, “Apakah dosamu itu?” Dia menjawab, “Aku telah berzina dan membunuh anak hasil zinahku.” Aku pun berkata, “Kamu telah hancur dan membinasakan orang. Demi Allah kamu tidak punya hak untuk bertaubat.” Lalu wanita itu berteriak dan tidak sadarkan diri.

Aku kembali berjalan dan berkata kepada diriku sendiri, “Aku telah mengeluarkan sebuah fatwa, padahal Rasulullah ada bersama kami.” Maka ketika pagi menjelang, aku pergi menghadap Rasulullah dan menceritakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa dariku mengenai masalah ini dan itu. Lalu aku mengeluarkan fatwa kepadanya demikian demikian.” Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Innalillahi wa Inna ilaihi rajiuun. Demi Allah, wahai Abu Hurairah, sungguh kamu telah hancur dan membinasakan orang. Di manakah akalmu dalam membaca ayat, ‘Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”[6]

Setelah itu aku mundur diri dari Rasulullah. Aku berjalan melewati gang kota Madinah. Aku bertanya, “Siapakah yang bisa menunjukkan padaku tempat wanita itu? Wanita yang kemarin malam meminta fatwa dariku?” Lalu aku berhasil menemukan wanita itu, dan aku pun berkata kepada, “Aku telah meminta fatwa kepada Rasulullah, dan Rasulullah telah mengatakan kepadaku bahwa kamu berhak untuk bertaubat.” Maka wanita itu menjerit bahagia dan berkata, “Aku memiliki sebuah taman, maka ia aku sedekahkan kepada orang-orang miskin sebagai penebus dosa-dosaku.” Lalu aku pun menyebutkan ayat: kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.”

Demikian jelas bagi siapa pun yang masih ada sedikit iman dalam hatinya, yang masih mempunyai harapan untuk kembali ke jalan yang benar, meninggalkan segala kemaksiatan dan kenikmatan duniawi yang hanya semakin menjerumuskannya ke jurang kehancuran.

Taubat Nasuha

Taubat Nasuha itu adalah bentuk taubat yang tidak akan ada kata kembali (untuk melakukan dosa yang diperbuat) setelah melaksanakan taubat tersebut, sebagaimana air susu tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Khatthab, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, dan sahabat Mu’adz bin Jabal mengangkat pendapat ini hingga sampai kepada Rasulullah Saw.

Ulama tafsir, al-Qurthubi, mengatakan bahwa taubat nasuha adalah di mana di dalamnya terkumpul empat hal: istighfar dengan lisan, menjauhkan diri dari dosa dengan anggota badan, bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa dengan hati, dan terakhir adalah meninggalkan perkara yang buruk.

Untuk dapat melaksanakan bagaimana taubat nasuha itu, paling tidak dapat dengan melakukan apa yang disebutkan ulama berikut tentang bagaimana kita mengimplementasikan sikap yang memenuhi kriteria taubat nasuha.

Mencermati pendapat-pendapat para ulama tentang taubat nasuha, saya kemudian menyimpulkan secara sederhana pendapat-pendapat tersebut bahwa taubat nasuha itu meliputi tiga “illat”: yaitu qillat (merasa kecil), Illat (merasa ada penyakit), dan dzillat (merasa hina). Kemudian, ciri-ciri perilaku orang yang bertaubat, yaitu 3S: sedikit bicara, sedikit tidur, dan sedikit makan. Sedangkan karakteristik orang yang bertaubat adalah 3M, yaitu memerangi hawa nafsu, memperbanyak air mata, dan mematikan rasa lapar dan dahaga.

 

Itulah hakikat taubat nasuha yang dijelaskan dalam firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”[7]

 

Dalam ayat di atas Allah menjadikan dileburkannya keburukan dan kejahatan sebagai benteng dari kejahatan tersebut, yakni dengan hilangnya apa yang dibenci oleh seorang hamba dan memasukkannya ke surga-Nya. Jadi, seorang hamba akan berhasil mendapat apa yang dia sukai disebabkan oleh taubat nasuha yang dilaksanakannya. Betapa indahnya sekiranya para marketing “bahlul” ataukah businessmen yang selama ini masih bergelimang dengan dosa, bersegeralah dengan taubatun nasuha.

 

Syaikh Ibnu Jauzi[8] melukiskan ajakan taubat itu dengan kata-kata yang sangat indah dan menyentuh: Wahai orang menunda-nunda taubat hingga tua! Wahai orang yang menyia-nyiakan masa muda dengan kelalaian! Wahai orang terusir dengan dosa-dosanya dari pintu Tuhan! Apabila engkau telah lengah pada masa mudamu dan pada masa tuamu, engkau masih juga menunda-nunda waktu, lalu kapan engkau akan berdiri di depan pintu Tuhan? Berapa banyak janji Tuhan yang telah Dia penuhi bagimu? Bukanlah demikian perbuatan orang-orang yang mengaku cinta!

Lahiriahmu tanpak makmur, tapi batinmu kosong melompong! Berapa banyak kemaksiatan yang telah kamu lakukan? Berapa banyak penyimpangan yang telah engkau buat? Berapa banyak riya’ yang telah engkau tampakkan dan berapa banyak tabir yang telah engkau singkap? Masa-masa baik sepanjang umurmu telah berlalu dalam dosa-dosa. Apakah kiranya engkau akan kembali kepada kebenaran?

Sungguh merupakan suatu kelalaian bila engkau baru bertaubat setelah dimakan usia. Seandainya engkau sudah taat pada masa mudamu, tentu penghitungan amal (hisab) akan menjadi ringan bagimu. Kini, mana mungkin itu terwujud, karena usiamu telah habis dalam kelalaian dan mencari kenikmatan dunia. Bila uban di rambutmu telah memberi peringatan kepadamu untuk segera berangkat ke arah jalan-Nya, tetapi engkau belum juga mempersiapkan bekal, maka dengan apa engkau memberi jawaban kelak? Sungguh mengherankan orang-orang yang tenggelam dalam kemaksiatan itu, bagaimana mereka bisa hidup dengan nyaman, padahal Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari Kiamat), maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka).”[9]

 

Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Wasi’ pernah melihat beberapa pemuda di dalam masjid. Mereka itu sebelumnya pernah tenggelam dalam lautan kemaksiatan dan kesesatan. Muhammad lalu bertanya kepada mereka, “Apakah bagus menurut kalian, bila kalian memiliki kekasih lalu si kekasih itu berpaling dari kalian untuk mencari pria lainnya?”

“Tidak!” jawab mereka.

“Kalian ini duduk di dalam rumah Allah, tetapi kalian menyalahi perintah-Nya, membicarakan keburukan orang-orang,” kata Muhammad bin Wasi’ lagi.

“Kami telah bertaubat,” jawab mereka.

“Wahai anak-anakku. Dia itu Tuhan kalian dan kekasih kalian. Apabila kalian mendurhakai-Nya, lalu Dia ditaati oleh orang lain, maka kalian tidak akan memperoleh-Nya. Orang lain itulah yang akan mendapatkan-Nya. Tidakkah itu sangat merugikan kalian?” kata Muhammad.

“Tentu,” jawab mereka.

“Siapa-siapa yang menyalahi-Nya, mungkin Dia akan menyiksanya. Dan jika Dia menyiksanya, apakah kalian tidak akan menyesali masa muda kalian ketika kalian nanti dihukum dengan siksaan dan api neraka, sementara orang lain memperoleh pahala dan surga?” katanya lagi.

“Ya benar,” jawab mereka.

Kemudian para pemuda itu benar-benar bertaubat secara total kepada Allah Ta’ala.

Sumber: Dikutip dari buku Muhammad Syakir Sula, “Marketing Bahlul”, diterbitkan oleh Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008. Hal 338-349.


[1] Hadis Riwayat Muslim No. 2757

[2] Hadis Riwayat Muslim No. 2744

[3] Abdullah Abdurrahman al-‘Adawi Nawwarah, Tetes-Tetes Air Mata Taubat, Mirqat Publishing, Jakarta, 2007.

[4] Hadis Riwayat Muslim No. 2755

[5] Hadis Riwayat Muslim No 2754

[6] Al-Qur`an Suran al-Furqan (25), Ayat 68-70

[7] Al-Qur`an Surat at-Tahrim (66), Ayat 8

[8] Ibnul Jauzi, Bahr ad-Dumu’ (Samudera Air Mata), Terjemahan, Khatulistiwa Press, Jakarta, 2008.

[9] Al-Qur`an Surat Saba’[34]: 51.

 

sumber http://syakirsula.com/index.php?option=com_content&view=article&id=168:pintu-taubat-terbuka-lebar-&catid=25:marketing-bahlul&Itemid=74