:: SUKSES menghadapi Ujian Hidup ::

f910f59dc0605aac53d39c7cbdddbf96_sabarAllah Mahabaik. Semua yang diciptakan-Nya, selalu diberikan pasangan. Jika ujian adalah salah satu makhluk-Nya, maka sudah barang tentu bahwa Dia telah menyertakan solusinya. Sebagaimana sebuah penyakit, pasti sudah disertakan obatnya oleh Sang Pencipta penyakit. Sehingga, sebagai manusia, kita hanya perlu belajar dan menemukan formula yang tepat untuk semua jenis ujian yang sudah pasti akan ditimpakan kepada kita, hingga ajal menjemput diri.

Pertama, sadari bahwa ujian adalah keniscayaan.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar . (al-Baqarah [2]: 155)

Dengan adanya pemahaman yang baik tentang keniscayaan ujian ini, maka kita bisa bersikap bijak jika suatu ketika ujian itu benar-benar datang menghampiri kehidupan kita yang sedianya damai dan menentramkan.

Kesadaran ini juga akan membuat diri lebih waspada. Semakin sadar untuk mempersiapkan solusi. Juga, rajin menuntut ilmu untuk menyikapi segala kemungkinan ujian yang akan Allah berikan.

Dua, gunakan keimanan sebagai solusi sejati. Rasul pernah berkata, “Sungguh ajaib keberadaan orang beriman. Jika diberi nikmat, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika diberi ujian, dia bersabar, dan itu baik pula baginya.”

Jika perkataan seorang Presiden saja –misalnya- sangat kita hormati dan dipegang teguh sebagai rujukan, maka perkataan seorang nabi jauh lebih layak untuk dirujuk, diingat-ingat dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Apalagi, Rasulullah tak pernah sekalipun berbohong. Bahkan, setelah ilmu sedemikian maju, semua perkataan beliau bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya.

Jika kita bersabar terhadap ujian yang diberikan, maka janji Allah sudah sangat pasti kejelasannya, “Mereka (orang-orang sabar) itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah [2]: 157)

Tiga, minta tolong kepada Allah. Ujian yang diberikan, sejatinya adalah sebuah sarana agar kita semakin mendekat pada-Nya. Karena memang, Dialah zat Yang seharusnya kita dekati di sepanjang usia kehidupan kita. Allah yang memberikan ujian, sudah melengkapinya dengan banyak tools pertolongan yang bisa kita gunakan setiap saat, sesering mungkin.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. (al-Baqarah [2]: 153)

Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari meminta tolong kepada Allah, dan menjadikan sabar dan shalat sebagai tools agar kita mendapat pertolongan dari-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.

ujian-dari-allah

 
Empat, Allah bersama anda. Sabar ketika mendapati ujian bukan bermakna pasif. Tapi aktif mencari solusi dengan berbekal ilmu yang tepat. Sering bertanya kepad ahlinya, membuka semua peluang solusi yang mungkin dan juga menyiapkan opsi-opsi lain jika langkah pertama gagal.

Jika kita berhasil mengeja sabar, maka itulah jalan terbaik yang memang harus kita lalui. Selain itu, sabar membuat pelakunya menjadi salah satu hamba kesayangan Allah. Apakah ada yang lebih baik bagi seorang hamba selain disayangi Sang Pencipta?
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah [2]: 153)

Allah mencintai siapa saja yang sabar. Sehingga, Dia menyertai golongan-golongan itu.

Lima, ilmui setiap laku. Langkah teknis tak boleh ditinggalkan. Karena durian runtuh, sangat jarang adanya. Hujan duit juga menjadi sesuatu yang mustahil jika diri hanya berongkang-kaki di dalam rumah, tanpa melakukan upaya apapun. Sesering mungkin mendekatkan diri kepada Allah itu sangat baik, tapi akan jauh lebih baik jika disertai dengan upaya keras untuk menjemput turunnya pertolongan Allah.

Mengilmui adalah upaya agar ujian menjadi tantangan. Agar prahara menjadi anugrah. Agar kita tak salah langkah. Karena kebodohan adalah pangkal keterjerumusan.

Rajin-rajinlah membaca buku, berdiskusi dengan pakar, sering mengunjungi orang shaleh, jangan malu bertanya, dekati mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidupnya. Banyak berdiskusi dengan orang yang tepat adalah hal-hal yang bisa membuat diri tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kenali diri dengan baik. Fahami kelebihan dan kekurangannya. Karena biasanya, ujian diberikan bersesuaian dengan letak kekurangan seseorang. Dengan mengetahui kekurangan diri, seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan antisipatif. Ini juga bisa membuat seseorang menghindari dan menjauhkan segala sebab yang mungkin mengantarkannya pada kesalahan dalam menyikapi ujian yang diberikan.

Misalnya seseorang yang lemah dalam pengelolaan uang. Maka, sebisa mungkin, untuk tidak menerima amanah dari keluarga, organisasi, atau instansi tempat bekerja yang terkait dengan pengelolaan dan pengaturan uang.

Atau, misalnya seorang pemuda yang labil dalam masalah syahwat. Maka, seiring diri menyiapkan untuk mampu menikah, minimalisir setiap penyebab yang mungkin menggoda. Mulai dari menahan pandangan, bergaul dengan orang shaleh, mencari lingkungan yang baik, sibukkan dengan amal shaleh dan hindari ketersendirian. Karena, ketika sendiri, setan akan lebih mudah menggoda.

Enam, anda tidak sendiri. Seringkali, ujian berat terasa begitu menyesakkan. Dalam tahap ini, ketika salah menyikapi, mungkin saja seseorang akan menyalahkan Allah. Bahwa Dia tidak adil, dholim dan sejenisnya. Padahal Allah sangat tidak mungkin memiliki sifat itu semua.

Hal ini pula yang pernah terjadi di zaman Rasulullah. Ketika banyak orang beriman Makkah yang disiksa oleh kafir quraisy. Para sahabat datang kepada Rasul dan berkata, “Dimanakah pertolongan Allah?” Lalu dengan air muka sumringah yang meneduhkan, manusia mulia itu berkata, penuh makna, “Apa yang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan umat terdahulu. Ada diantara mereka yang dikubur hidup-hidup, disiksa dengan ditusuk dari duburnya, disisir menggunakan besi dan dikuliti layaknya hewan sembelihan.”

Menyeksami riwayat ini, pantaskan kita mengatakan, “Alllah dimana?” Padahal kita hanya diuji dengan urusan dunia yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (al-Baqarah [2]: 250)

 

Tips Amalan Menggapai Pertolongan ALLAH (2)

Hikmah Dibalik Musibah

1. Mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR Bukhari)

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan pahala tak terhingga di akhirat
Rasulullah saw bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dalam hadis lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

3. Ukuran kesabaran seorang hamba
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barangsiapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Meningkatkan tauhid dan menautkan hati kepada Allah
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apa bila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushilat [41]: 51
Nabi Ayyub ‘Alaihissalam berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS al-Anbiyaa [21]:83).

5. Meningkatkan berbagai ibadah yang menyertainya
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Lalu apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata,

8. Memberi tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al-Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, ‘Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal saleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian dengan-Ku.” (HR Ahmad ).

10. Mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan kesehatan.Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya. Jika tertimpa kefakiran, maka pasti ada yang lebih fakir lagi.

sumber asli sila klik di sini

Tips Amalan Menggapai Pertolongan Allah (1)

HAKIKAT MUSIBAH

1.Musibah sudah ditakdirkan Allah.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadiid [57]: 22-23).

2. Setiap muslim akan mendapat ujian.

“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyap nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2).

3. Musibah adalah kebaikan dari Allah
Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka didahulukannya siksaan-Nya di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya maka ditangguhkan siksaan itu karena dosa-dosanya, dan siksaan itu akan dirasakannya kelak pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan akan diuji oleh-NYA dengan suatu musibah.” (HR. Bukhari).

4. Musibah akibat kesalahan diri.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura [42]: 30)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana, besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.” (HR Tirmidzi).

5. Setiap musibah ada akhirnya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah [94]: 5-6)

Sikap Manusia terhadap Musibah

Syaikh Muhammad bin Shalihal-Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan:

Tingkatan pertama: Lemah (marah dengan lisan dan perbuatan).

Tingkatan kedua: Bersabar.“…bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal [8]: 46).

Tingkatan ketiga: Merasa ridha ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya.

Tingkatan keempat: Bersyukur. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.” (HR.Bukhari & Muslim)

sumber asli sila klik di sini

Sabar & Bersyukur

..diambil dari kultwit ustadz Salim A. Fillah mengenai Sabar….

sabar

  • Hidup adalah perjalanan yang digariskan memiliki 2 rasa: manis & getir, lapang & sesak, suka & duka, #nikmat & #musibah. #SABAR #SYUKUR
  • Tak seorangpun bisa lepas dari 2 rasa itu, hattapun mereka yang dicintaNya. Makin besar nikmat, pun besar pula #musibah. #SABAR #SYUKUR
  • Imanpun tak menjamin kita selalu berlimpah & tertawa. Ia hanya jaminkan ada lembut elusanNya dalam apapun dera nan menimpa #SABAR #SYUKUR
  • Maka #SABAR & #SYUKUR adalah wahana yang akan membawa hamba, menselancari kehidupan nan berrasa dua dengan iman dalam dada.
  • Tersebab #SABAR & #SYUKUR itulah, Nabi ungkap betapa menakjubkan hidup & ihwal orang beriman. Semua urusan menjadi kebaikan baginya.
  • Sebab dalam #musibah dia bersabar, & #SABAR itu membuatnya meraih pahala tanpa hingga, dicintaiNya, dan dibersamai Allah di segala luka.
  • Sebab dalam #nikmat dia bersyukur, dan #SYUKUR itu membuat sang nikmat melekat, kian berganda berlipat, menenggelamkannya dalam rahmat.
  • Tapi hakikat #SABAR & #SYUKUR sebenarnya satu saja; ungkapan iman menyambut dengan penuh ridha akan segala kurniaNya, apa jua bentuknya.
  • Maka #SABAR adalah sebentuk #SYUKUR, menyambut kurnia #nikmat-Nya nan berbentuk lara, duka, nestapa, dan #musibah yang niscaya
  • Maka #SYUKUR adalah sebentuk #SABAR, menyambut kurnia #musibah-Nya yang berbentuk kesenangan, kelapangan, suka-ria nan nikmat
  • Lihatlah Ayyub ber-#SYUKUR atas segala sakit & nestapanya, sebab Allah mengugurkan dosa & menyisakan hati jua lisan untuk mendzikirNya.
  • Lihatlah Sulaiman ber-#SABAR atas kemaharajaan jin, hewan, & manusia. Sabar dengan ber-#SYUKUR agar tak tergelincir sebagaimana Fir’aun.
  • Kata ‘Ulama, #SABAR ada di 3 hal; mentaati Allah, menjauhi kemaksiatan, menerima #musibah. Semuanya adalah jua rasa #SYUKUR kepadaNya.
  • #SABAR dalam taat, sebab ia kadang terasa berat, ibadah terasa beban, keshalihan terasa menyesakkan. Tapi #SYUKUR lah, Allah itu dekat.
  • #SABAR dalam jauhi maksiat, sebab ia kadang terlihat asyik, kedurhakaan tampak cantik. Tapi #SYUKUR lah, iman itu rasa malu padaNya.
  • #SABAR dalam menghadapi musibah, sebab ia niscaya bagi iman di dada. #SYUKUR lah, dosa gugur & beserta kesulitan selalu ada kemudahan.
  • Sebab pahalanya diutuhkan tak terhingga (Az Zumar 10), maka #SABAR pun sebenarnya tiada batasnya. Hanya bentuknya yang bisa disesuaikan.
  • Maka iman menuntun taqwa; ialah kecerdikan hati dalam memilih bentuk #SABAR sekaligus #SYUKUR atas segala wujud ujian cinta dariNya.
  • Taqwa itu yang bawa #SABAR kita mendapat kejutan nan mengundang #SYUKUR, jalan keluar dari masalah & rizqi tak terduga (Ath Thalaq 2-3)
  • Tiap #nikmat yang di #SYUKUR-i jua berpeluang mengundang #musibah yang harus di #SABAR-i, seperti ketampanan Yusuf & cinta Ortu padanya.
  • Maka tak ada kata henti untuk #SABAR & #SYUKUR, sebab ia 2 tali yang hubungkan kita denganNya; hingga hidup terasa surga sebelum surga;)
  • Segala puji bagi Allah, sungguh kita milikNya, akan kembali jua padaNya. Sekian dulu ya Tweeps Shalih(in+at) tentang #SABAR & #SYUKUR.

:: Tiga Nasehat Sayidina ALI agar kita menjadi orang pintar (tidak mudah lupa) ::

Oleh : Budi Wibowo

 
Latar belakang Sayidina Ali KWH
Sayidina Ali KWH adalah salah satu sahabat yang tidak pernah mengenyam didikan jahiliyah karena sejak masa kecilnya mendapat bimbingan langsung dari Nabi SAW.   Dia adalah putera Paman Nabi SAW yang bernama Abu Tholib.   Kita dapat membayangkan betapa  Ali faham betul  karakter Nabi SAW sebagaimana kita faham benar  karakter saudara dan orang tua kita.  Maka menjadi keniscayaan jika Sayidina Ali terbentuk sebagai sosok yang menggambarkan ”begitulah sebenarnya seorang Muslim yang dikehendaki Allah SWT”.   Begitu mulianya Ali hingga Nabi bersabda;
Aku adalah (ibarat) Kota Ilmu dan Ali  pintu gerbang-nya, barang siapa hendak mendapatkan ilmu maka datangilah melalui pintu itu. (HR. Aqil,Ibn ’Adiy, Thobroni, Al Hakim dari Ibn Abas dan Jabir)  1
Maka tidak salah jika kita hendak memperdalam  Islam  pesan, ucapan dan tindakan Ali KWH sebagai rujukan  pembuka sebelum mempelajari khasanah Islam  lebih luas.   Mari kita pelajari  satu dari sekian banyak ucapan Sayidina Ali KWH, berikut;
“Ali KWH berkata:”Ada tiga hal yang dapat menambah / memindahkan hafalan ke dalam otak dan hati;  siwak (gosok gigi), berpuasa dan membaca Al Qur’an.”  2
***
Pembahasan

1.   Tentang siwak.
Nabi bersabda :
“Sekiranya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersugi (gosok gigi) pada tiap kali  (akan) sembahyang. (HR Bukhori dan Muslim). 3
Islam mengajarkan kebersihan karena Allah SWT menyukai kebersihan.  Kebersihan mencakup kebersihan lingkungan dan badan di antaranya  adalah kebersihan mulut.  Itulah sebab  Allah SWT menurunkan air, Allah SWT menyukai  orang-orang yang bersih.
Dan Ia turunkan atas kamu air dari langit untuk ia bersihkan kamu dengannya.” (QS Al Anfal:8:11)
“Sesungguhnya Allah SWT suka kepada orang-orang yang suka bertaubat dan suka kepada orang-orang yang bersih.”(QS Al Baqarah :2:222)
Dari kemajuan teknologi  beberapa peniliti menyatakan bahwa penyakit lupa (dementia)  erat kaitannya dengan kesehatan gigi.   Maka benar jika Ali menganjurkan  rajin menggosok gigi / selalu menjaga kesehatan mulut bila seseorang  hendak memelihara hafalan atau pelajaran ke dalam otak  atau  jiwanya.   Ucapan Rasul dan Ali tersebut sangat erat kaitannya  dengan Firman Allah SWT tertulis di atas.
2.    Tentang berpuasa.
Nabi bersabda:
“Puasalah kalian, niscaya kalian sehat (Diriwayatkan Ibnu As-Suni dan Abu Nu’aim, sanad Hasan Menurut Imam Suyuti). 4
Puasa membuat orang menjadi sabar (telaten/tekun) selain sabar juga membuat badan sehat karena  puasa dapat mengurangi kegemukan atau timbunan lemak dalam badan.  Dari Ilmu kedokteran telah ditemukan bahwa ternyata puasa merupakan salah satu cara penghilangan racun dalam tubuh (detoksifikasi).
3.   Tentang membaca Alqur’an
Ingatlah hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tentram.”(QS Ar Ra’d :13:28)
Membaca Alqur’an termasuk dzikrullah, yakni mengingat, mempelajari dan menyebut nama Allah SWT.  Nun tasjid pada kalimat (تَطْمَئِنُّ ) mennjukkan kesungguhan.  Maka Allah SWT benar-benar akan menjadikan orang yang membaca alqur’an hatinya tenang.
***
Kesimpulan
Bila kita selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut niscaya badan kita sehat,  bila badan kita sehat dengan jiwa yang tenang niscaya kita akan mudah  menangkap pelajaran atau menancapkan hafalan.   Atau dengan kata lain dengan membiasakan (mendawamkan) pelaksanaan 3  (tiga) nasehat yang di anjurkan Sayidina Ali KWH, insyaAllah kita tidak mudah terserang penyakit lupa (pikun) atau dengan kata lain kita akan menjadi orang  yang pintar.
 
WaAllhu ’Alamu bishawab
PUSTAKA
Al Qur’an Karim.
1  Imam Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir. Juz    I    Maktab   Dar Ihya Alkitab 
           Arabiyah. Indonesia. Hal. 108.
2 Nawawi bin Umar, Muhammad.______. Nashaihul Ibad. Maktab Dar Ihya Arabiyah. Indonesia   Hal. 15.         
3  Imam  Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir.Juz  II.    Maktab   Dar Ihya Alkitab 
          Arabiyah. Indonesia. Hal. 132.
4  Imam Suyuti. _______. Al Jaami‘ush Shogir. Juz   II.    Maktab   Dar Ihya Alkitab 

           Arabiyah. Indonesia. Hal. 46.

sumber http://kutbah.blogspot.com/2013/11/tiga-nasehat-sayidina-ali-kwh-agar-kita.html

Husnu-ZHAN : BerKEYAKINAN, BUKAN Bersangka baik

oleh : Moh. Sofwan Abbas

Kesalahan dalam mengartikan sebuah istilah dalam Al-Qur’an, bisa membuat kesalahan persepsi, yang berujung pada kesalahan dalam mengamalkannya. Oleh karena itu, hendaknya kita memahami istilah tersebut sesuai dengan ketentuan yang benar.

Fenomena sangat sulitnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat ini, hendaknya membuat kita bertanya, apakah hal tersebut disebabkan kesalahan kita dalam memahami istilah “husnu-zhan”? Karena, walaupun Allah swt. telah memerintahkan husnu-zhan, banyak umat Islam yang menyepelekan.

Makna Husnu-Zhan dan Su’u-Zhan

Dalam bahasa Arab, “zhan” bermakna hal yang diketahui dari tanda-tanda. Seperti orang yang mengatakan, “Akan turun hujan,” setelah dia melihat langit mendung. Tidak ada kepastian akan turun hujan. Perkataan itu hanyalah kesimpulan yang diambil dari tanda-tanda.

Sedangkan dalam Al-Qur’an, kata “zhan” mempunyai makna lebih dari satu. Pertama, menuduh, seperti menuduh orang lain berbuat jahat tanpa bukti (Al-Hujurat: 12). Kedua, taklid buta, seperti orang-orang musyrikin yang menolak ajaran Rasulullah saw. yang mempunyai banyak bukti kebenaran, dan sebaliknya mengikuti ajaran syirik yang hanya berdasarkan mitos (Yunus; 66). Ketiga, yakin, seperti orang yang meyakini kematian pasti akan melaksanakan shalat dengan khusyuk (Al-Baqarah: 46).

Dapat disimpulkan, bahwa kata “zhan” bisa bermakna ragu dan yakin. Bagaimana menentukan salah satu makna tersebut? Ulama tafsir menyebutkan kaidah; dalam konteks keburukan, “zhan” bermakna ragu dan sangkaan. Sedangkan dalam konteks kebaikan, “zhan” bermakna yakin. Banyak ayat Al-Qur’an yang menguatkan kaidah ini.

Maka, karena konteksnya adalah buruk, su’u-zhan bermakna bersangka buruk. Lalu karena konteksnya kebaikan, husnu-zhan bermakna berkeyakinan baik, bukan bersangka baik.

Kenapa Harus Berkeyakinan Baik?

Kepada sesama muslim, kita harus selalu berkeyakinan baik. Karena selama masih beriman, imannya akan memerintahkan taat kepada Allah swt., dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Itu pasti dan yakin. Lalu hendaknya kita tidak memvonisnya berbuat buruk selagi belum ada pengakuan atau bukti-bukti yang nyata.

Inilah husnu-zhan; mengedepankan keyakinan baik, bukan mengedepankan sangkaan baik. Karena kalau mengedepankan keyakinan baik, berarti kita belum memvonis orang berbuat buruk, lantaran kita masih yakin orang tersebut baik. Kita baru akan memvonisnya berbuat buruk jika ada pengakuan atau bukti nyata.

Tapi kalau kita mengedepankan sangkaan baik, maka yang terjadi adalah sebaliknya; kita sudah memvonisnya berbuat buruk. Kita baru akan mengatakan dia tidak berbuat buruk kalau ada hal yang membuktikannya.

Husnu-zhan Allah swt. perintahkan dalam ayat: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berkeyakinan baik kepada sesama mereka? Dan (mengapa mereka tidak) berkata: “Ini adalah berita yang dijungkir-balikkan?” [An-Nur: 12].

Ayat ini turun setelah terjadi penyebaran isu bahwa Ibunda ‘Aisyah ra. berbuat mesum dengan Sofwan bin Al-Mu’athal ra. Banyak umat Islam yang terpengaruh dengan isu tersebut. Allah swt. memberi petunjuk agar umat Islam berhusnu-zhan, meyakini kesucian Ibunda ‘Aisyah ra. selagi belum ada pengakuan dan bukti nyata. Itulah maksud yang benar.

Allah swt. memerintahkan kita berhusnu-zhan disebabkan keterbatasan kita sebagai manusia. Kita tidak bisa mengetahui saudara kita secara utuh. Yang bisa kita nilai juga sekadar perbuatan lahir, sedangkan niat sama sekali tidak kita ketahui. Ketika melihatnya berbicara dengan seorang perempuan misalnya, kita tidak mengetahui bahwa ternyata perempuan itu adalah adiknya, atau ibunya, atau isterinya. Kita juga tidak mengetahui alasan dan niat yang membuatnya berbicara dengan perempuan tersebut.

Bagaimana Bisa Berhusnu-Zhan?

Allah swt. lah yang memiliki hati kita, hendaknya kita memohon kepada-Nya untuk membersihkan hati dari sangkaan buruk, dan menumbuhkan keinginan untuk berhusnu-zhan.

Selalu berusaha untuk mencarikan alasan kenapa saudara kita berbuat hal yang kita nilai buruk, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekali pun. Seorang ulama berkata, “Jika aku melihat saudaraku sedang memegang segelas khamar, dan ada air menetes dari bibirnya, aku tetap berhusnu-zhan; jangan-jangan dia cuma berkumur-kumur, atau itu bukan khamar tapi air biasa.”

Selanjutnya setiap muslim hendaknya bekerja sama menghilangkan kesempatan untuk munculnya su’u-zhan. Yaitu dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang rentan menjadi objek su’u-zhan. Rasulullah saw. pernah berjalan bersama Ibunda Shafiyah ra. Dua orang sahabat melihat hal itu, lalu menghindar ke pinggir jalan. Rasulullah saw. lalu memanggil mereka, “Janganlah kalian bersu’u-zhan. Ini adalah Ibunda Shafiyah.” Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak mungkin kami bersu’u-zhan kepada engkau.” Rasulullah saw. kembali bersabda, “Tapi setan mengalir pada diri manusia seperti aliran darah. Aku khawatir ketika kalian lengah, dia akan menghembuskan godaan untuk bersu’u-zhan.” [msa/dakwatuna].

:: Kapal Besar TAWAKKAL ::

Image

oleh: Moh. Sofwan Abbas

Selain sebagai cahaya, keimanan juga merupakan kekuatan. Seorang manusia yang berhasil mendapatkan keimanan yang hakiki akan dapat menantang seluruh makhluk selainnya, dan akan berhasil keluar dari sempitnya kehidupan yang penuh dengan musibah. Itu semua dilakukan dengan meminta kekuatan dari keimanan. Hingga dia pun dapat berlayar dengan bahtera kehidupan, mengarungi ombak-ombak peristiwa yang kadang dapat memukul dengan begitu keras.

Dia berhasil melakukan itu semua dengan selamat dan hati tenang, seraya berucap: “Aku bertawakkal kepada Allah SWT.” Seluruh beban hidup diyakininya sebagai amanah yang kemudian diserahkan kepada Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Hingga dia pun dapat melampaui perjalanan hidup ini dengan tenang, tanpa keresahan yang berarti, sampai memasuki alam barzakh untuk kemudian beristirahat. Dari tempat peristirahatan ini, dia dapat terbang menuju surga yang penuh dengan kebahagiaan yang abadi.

Namun jika manusia tidak mau bertawakkal kepada Allah, dia tidak akan dapat terbang mengangkasa ke surga, bahkan beban yang ada di dirinya akan menariknya turun ke derajat yang paling rendah.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwasanya keimanan itu meniscayakan adanya tauhid atau pengesaan. Lalu pengesaan itu akan membawa kepada penyerahan diri. Selanjutnya, penyerahan diri ini akan mewujudkan penggantungan harapan (tawakkal). Dan terakhir, penggantungan harapan ini akan memudahkan jalan menuju kebahagiaan akhirat. Janganlah kita mengira bahwa tawakkal adalah sebuah penolakan terhadap usaha manusia. Penolakan yang penuh. Tapi, tawakkal adalah sesuatu yang menggambarkan keyakinan kita bahwa usaha adalah hijab-hijab yang berada di tangan Allah SWT. Oleh karena itu, harus dijaga, dipelihara, dan diikuti. Melaksanakan dan mengambil manfaat darinya, tidak lain adalah sebuah doa yang nyata. Sedangkan pengharapan hasil usaha hanyalah boleh dialamatkan kepada Allah SWT. Pujian dan terima kasih hanyalah boleh diberikan kepadaNya saja.

Berikut ini kita akan mengambil sebuah permisalan. Orang yang bertawakkal dan orang tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban di atas pundaknya. Mereka berdua kemudian membeli tiket untuk naik kapal laut. Orang yang pertama, begitu sampai di atas kapal meletakkan bebannya dari atas pundak dan diletakkannya di lantai kapal. Sedangkan seorang yang lain, karena kedunguan dan kebodohannya, walau dia sudah naik di atas kapal, dia tetap tidak meletakkan beban di pundaknya.

Ketika ada yang berkata kepadanya, “Hai Fulan, letakkanlah beban itu dari atas pundakmu, supaya engkau dapat beristirahat.” Dia malah menjawab nasihat itu dengan berkata, “Oh, tidak akan kulakukan nasihatmu itu. Aku takut kehilangan barang bawaanku ini. Aku juga kuat untuk terus membawanya. Akau akan tetap menjaganya di atas kepala dan pundakku.”

Maka ada yang berkata lagi kepadanya, “Wahai saudaraku, akan tetapi kapal yang sedang kita naiki dan membawa kita semua ini jauh lebih kuat dari diri kita semua. Kapal ini dapat menjaga kita dan barang-barang kita secara lebih baik ketimbang kita. Janganlah kau tetap dalam pendapatmu. Jangan-jangan engkau nanti akan pingsan hingga kau dan barang-barangmu terlempar ke dalam laut.

Kulihat kekuatanmu juga sedikit demi sedikit berkurang. Lihatlah pundakmu begitu kurus, tidak akan dapat lama membawa berat beban yang ada di atasnya. Karena beban itu semakin lama akan semakin terasa berat.

Jika nahkoda kapal ini melihatmu dalam keadaan seperti ini, tentu dia akan mengiramu sedang kerasukan setan, atau sedang pingsan. Dan tentu dia tidak akan mau kapalnya dinaiki oleh orang yang sedang terkena setan dan pingsan. Lalu dia akan mengusirmu dari kapal ini. Atau, kalau tidak, dia akan meminta polisi untuk menangkapmu dan memasukkanmu ke dalam penjara. Dia akan berkata kepada para polisi, “Ini seorang pengkhianat. Dia telah menuduh jelek kapalku, dan menghina kita.”

Saat itu engkau akan menjadi bahan tertawaan orang-orang. Karena engkau ini sebenarnya sedang menutupi kelemahanmu, tapi engkau tampakkan kesombongan. Engkau ini merasa kuat, padahal sangat lemah. Engkau ini berlaku sedemikian, tapi di dalam hatimu ada keinginan untuk dipuji orang. Dengan demikian, engkau sendiri yang telah menjadikan dirimu sebagai bahan ejekan dan tertawaan orang lain. Lihatlah, orang-orang itu sedang menertawakanmu dan menganggap dirimu ini bodoh.”

Setelah mendengar semua nasihat yang panjang dan mengena ini, akhirnya orang yang terus membawa barang di pundaknya itu tersadar dan kemudian meletakkan barangnya di lantai. Dia pun akhirnya dapat duduk dan istirahat. Dia pun berkata, “Segala puji bagi Allah, semoga Allah meridhaimu saudaraku. Terima kasih, engkau telah menyelamatkanku dari rasa letih dan kehinaan, menyelamatkanku dari penjara dan ejekan.”

Dari kisah di atas, maka dinasihatkan kepada orang-orang yang masih jauh dari sikap tawakkal kepada Allah SWT, segeralah engkau sadar dari kesalahanmu. Kembalilah kepada otak warasmu. Seperti orang di atas kapal itu. Bertawakallah kepada Allah SWT, agar engkau selamat dari sikap membutuhkan dan meminta-minta kepada makhluk. Agar engkau juga selamat dari rasa takut dan gentar kepada kejadian-kejadian yang engkau anggap sebagai sebuah musibah. Dan agar engkau menyelamatkan dirimu sendiri dari riya’, ejekan, kesengsaraan abadi, dan dari beratnya ikatan dunia. (msa/dakwatuna)